Terpilih Kembali Jadi Ketum Kadin Bali, I Made Ariandi Konsisten Memperjuangkan Pengusaha Lokal
I Made Ariandi (kiri) bersma Prof. IB Raka Suardana.
Oleh: Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE.,M.M.(Pengurus Kadin Bali)
Terpilihnya kembali I Made Ariandi sebagai Ketua Umum (Ketum) Kadin Bali untuk periode kedua 2025–2030 pada Musyawarah Provinsi Kadin Bali di Kuta tanggal 12 Desember 2025 lalu, menandai berlanjutnya kepemimpinan yang dinilai memiliki konsistensi arah, kekuatan jaringan, serta pemahaman mendalam terhadap karakter dan kebutuhan dunia usaha lokal Bali. Kepercayaan yang diberikan oleh mayoritas pemangku kepentingan Kadin Bali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari rekam jejak kepemimpinan sebelumnya yang dinilai mampu menjembatani kepentingan pengusaha lokal dengan dinamika kebijakan pemerintah daerah maupun pusat. Dalam konteks ini, figur I Made Ariandi dipandang bukan sekadar organisator, tetapi juga simpul strategis yang menghubungkan berbagai kepentingan ekonomi secara produktif.
Kekuatan utama I Made Ariandi terletak pada jaringan yang luas dan berlapis, baik di internal pengusaha Bali lintas sektor maupun dengan pemerintah, perbankan, BUMD, asosiasi nasional, hingga jejaring Kadin di tingkat pusat. Jaringan ini bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga relasional, dibangun melalui komunikasi intensif, kepercayaan personal, dan konsistensi sikap dalam memperjuangkan kepentingan dunia usaha daerah. Dalam kondisi perekonomian Bali yang masih menghadapi tantangan transformasi pascapandemi, kekuatan jaringan semacam ini menjadi modal penting untuk membuka akses permodalan, pasar, kemitraan, serta advokasi kebijakan yang berpihak pada pengusaha lokal.
Selama periode pertama kepemimpinannya, I Made Ariandi dikenal aktif mendorong penguatan posisi pengusaha lokal Bali agar tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Perjuangannya terlihat dari keberpihakan terhadap UMKM, pelaku ekonomi kreatif, dan pengusaha menengah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap proyek, pembiayaan, dan jaringan pasar. Ia konsisten menyuarakan pentingnya kolaborasi antara pengusaha lokal dengan investor besar, bukan dalam relasi yang timpang, melainkan dalam skema kemitraan yang adil dan berkelanjutan. Sikap ini mencerminkan pandangan strategis bahwa kemajuan ekonomi Bali harus bertumpu pada penguatan basis pengusaha lokal sebagai fondasi kemandirian daerah.
Memasuki periode kedua, harapan terhadap kepemimpinan I Made Ariandi semakin besar dan kompleks. Tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan pemulihan ekonomi, tetapi juga transformasi struktur ekonomi Bali menuju arah yang lebih inklusif, hijau, dan berbasis nilai lokal. Dalam lima tahun ke depan, Kadin Bali diharapkan mampu memainkan peran yang lebih strategis sebagai mitra kritis pemerintah, katalis investasi berkualitas, serta penggerak kolaborasi lintas sektor. Kepemimpinan I Made Ariandi diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan keberlanjutan sosial-budaya Bali, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan identitas dan daya dukung daerah.
Dengan pengalaman, jaringan, dan legitimasi yang semakin kuat, periode kedua kepemimpinan I Made Ariandi menjadi momentum penting bagi Kadin Bali untuk naik kelas, tidak hanya sebagai organisasi pengusaha, tetapi sebagai institusi strategis yang turut menentukan arah pembangunan ekonomi Bali lima tahun ke depan. (*)