Renungan Saraswati, Ingatkan Umat tentang Pentingnya Pengetahuan

 Renungan Saraswati, Ingatkan Umat tentang Pentingnya Pengetahuan

Dirjen Bimas Hindu Prof. Nengah Duija

DENPASAR, baliprawara.com

Sabtu Umanis Wuku Watugunung, 8 Februari 2025 ini, umat Hindu kembali merayakan Hari Suci Saraswati. Dalam berbagai sumber disebutkan, Hari Raya Saraswati adalah hari besar umat Hindu untuk memperingati turunnya ilmu pengetahuan suci yang bermakna penting bagi umat manusia. Hari suci ini juga sebagai pengingat betapa pentingnya pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Juga sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, Ida Sanghyang Aji Saraswati, atas anugerah ilmu pengetahuan dan kecerdasan, sehingga umat manusia terbebas dari kebodohan atau kegelapan, menuju pencerahan, kebenaran sejati, dan kebahagiaan abadi.
Sebagai bentuk syukur tersebut, umat Hindu terutama pelajar dan mahasiswa melakukan persembahyangan di parahyangan sekolah serta melaksanakan kegiatan pembacaan sastra suci.
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Prof. Dr. Nengah Duija menyebutkan bahwa dalam Lontar Tutur Aji Saraswati, ilmu pengetahuan itu berakar pada ruang yang disebut untêk (otak), bulan tanpa téja dan surya tanpa téja. Dua hal itulah yang menyebabkan manusia memiliki daya ingat, daya pikir, daya suara yang menjadi sumbu memori pengetahuan manusia baik berupa aksara tanpa rupa sastra (pengetahuan yang abstrak) maupun aksara rupa sastra (pengetahuan empiris). Tanpa itu manusia dikatakan “gelap atau mati” secara pengetahuan atau awidhya. Oleh karena itu, dalam perayaan Saraswati ini bukan sekadar melihat visualisasi Sang Dewi sebagai teo-estetika, namun juga substansi manusia sebagai objek dan subjek ilmu pengetahuan yang menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang secanggih saat ini. “Adakah ilmu pengetahuan berkembang canggih saat ini tanpa manusia sebagai homo sapiens itu sendiri? Mari kita dalami makna hari suci Saraśwati ini dengan baik,” ajak Prof. Duija, guru besar Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa ini.
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan, sejatinya kita juga bisa memaknai geguritan “Selampah Laku” karangan seorang wiku multitalenta, Ida Pedanda Made Sidemen (alm). Melalui geguritan sekar alit “Selampah Laku”, sulinggih asal Griya Taman Sari Sanur ini mengingatkan bahwa hidup kita hanya selampah, menjalankan takdir berdasarkan karma. Karena itu hidup harus bermakna dan berguna bagi orang lain. Karena itu melalui pesan moralnya, Ida Pedanda Sidemen mengingatkan kita agar hidup sederhana dan bersahaja serta membekali diri dengan pengetahuan agar berguna bagi masyarakat, seperti ditulis dalam geguritannya “Idup beline mangkin, makinkin myasa lacur. Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin. Guna dusun ne kanggo ring desa-desa”.
Ada hal penting yang bisa dimaknai dalam geguritan itu dikaitkan dengan perayaan Hari Saraswati, yakni “tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin” yang artinya kurang lebih, jika tidak memiliki tanah sawah untuk ditanami tumbuh-tumbuhan untuk menghasilkan pangan kebutuhan hidup, maka tanami diri sendiri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal mengarungi kehidupan. Bekal pengetahuan yang dimiliki itu tak hanya berguna bagi diri sendiri, juga diharapkan bisa bermanfaat bagi banyak orang. (MBP2)

See also  Pendaftaran AHMBS 2022 Mulai Dibuka, Siap Jaring Siswa Berprestasi di Tanah Air

Made Subrata

Related post