Perkiraan Dampak Melemahnya Rupiah

 Perkiraan Dampak Melemahnya Rupiah

Prof. IB Raka Suardana

Oleh: Prof. Dr. IB Raka Suardana, S.E.,M.M.

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan cukup kuat dan sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar padal 9 Maret 2026.
‎Dalam perdagangan pagi hari, rupiah bahkan tercatat berada di sekitar Rp17.015 hingga Rp17.090 per dolar AS di pasar spot. Pelemahan itu terjadi setelah sebelumnya pada 6 Maret 2026 rupiah masih berada di kisaran Rp16.925 per dolar, sehingga menunjukkan adanya tekanan yang meningkat dalam waktu singkat.

‎Secara teori ekonomi makro, nilai tukar mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran mata uang asing. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat sementara pasokan dolar di dalam negeri terbatas, maka nilai rupiah akan melemah. Kondisi global saat ini menunjukkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar per barel.
‎Dalam situasi seperti itu, investor global cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat, sehingga banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Dampak Ekonomi

‎Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 memiliki beberapa dampak ekonomi. Pertama, harga barang impor akan menjadi lebih mahal karena diperlukan lebih banyak rupiah untuk membeli dolar. Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku industri, mesin, dan energi, sehingga pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Dalam teori ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
‎Kedua, pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, baik bagi pemerintah maupun sektor swasta. Banyak kewajiban utang menggunakan dolar Amerika Serikat sehingga ketika rupiah melemah, jumlah rupiah yang diperlukan untuk membayar utang tersebut menjadi lebih besar. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menekan stabilitas fiskal dan keuangan perusahaan.

‎Namun pelemahan rupiah juga memiliki sisi positif bagi sektor tertentu. Dalam teori perdagangan internasional, mata uang yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing ekspor karena harga produk domestik menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Hal ini dapat memberikan peluang bagi sektor ekspor seperti pertanian, perikanan, dan industri manufaktur. Selain itu sektor pariwisata juga berpotensi memperoleh keuntungan karena biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara. (*)

‎Penulis, Guru Besar FEB Undiknas Denpasar.

See also  Perkiraan Dampak BI Rate Tetap 5,75 Persen

Redaksi

Related post