Om Hara Kailasha Painter Berupaya Lestarikan Lukisan Stil Keliki Kawan
I Wayan Mardika, Ketua Komunitas Om Hara Kailasha Painter
UBUD – baliprawara.com
Senilukis tradisional Bali berkembang sejak lama. Menarik, sejumlah daerah memiliki gaya masing-masing, seperti Ubud dan Batuan Gianyar. Kemudian, gaya lukisan Batuan dan Ubud dipadukan, lahirlah stil lukisan Keliki Kawan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar.
Lalu apa keunikan dari lukisan stil Keliki Kawan? Kemudian apa upaya yang dilakukan komunitas Om Hara Kailasha Painter melestarikan lukisan ini?
Lukisan tradisi stil Keliki Kawan, memiliki ciri khas tersendiri. Ukurannya sangat mikro. Tak sekadar karya seni, lukisan ini merupakan cerminan bentuk-bentuk kesabaran, ketekunan, dan ketelitian. Karena ukurannya mini, penikmat seni diajak mendekat atau memperhatikan dari dekat.
Lukisan stil Keliki Kawan mempunyai sejarah panjang dan melewati berbagai rintangan dalam pengembangan dan pelestariannya. Namun, yang menarik, gaya lukisan ini tak berhenti di Keliki Kawan, tetapi juga menyebar ke desa lain. Ini menunjukkan spirit komunal, bisa meluaskan pengaruhnya melampaui wilayah, tanpa meninggalkan akarnya.
Lukisan stil Keliki Kawan memiliki artistik yang khas, ukurannya kecil, diperlukan ketekunan dan konsentrasi dalam pembuatannya. Menikmati lukisan ini kita diajak mendekat, menatap dan tak sekadar melihat.
Lukisan Miniatur
Pendiri sekaligus Ketua Om Hara Kailasha Painter, I Wayan Mardika menyampaikan sejak tahun 1975, masyarakat Banjar Keliki Kawan telah menumbuhkan sebuah tradisi melukis yang sangat khas, yakni lukisan miniatur di atas kertas dengan detail yang kecil, rapat, dan penuh cerita. Gaya ini lahir dan berkembang melalui peran para perintis, I Ketut Sana bersama I Nyoman Muliawan dan I Made Astawa, yang dengan ketekunan dan visi mereka membangun fondasi dari gaya lukis yang kini menjadi identitas penting dalam khazanah seni rupa Bali.
”Namun perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Kami pernah melewati masa-masa sulit, khususnya pasca peristiwa Bom Bali 1 tahun 2002 dan Bom Bali 2 tahun 2005 yang menyebabkan terhentinya roda pariwisata. Dampaknya sangat dirasakan oleh para
seniman, termasuk pelukis di Keliki Kawan. Banyak yang terpaksa beralih profesi, dan melukis tidak lagi menjadi ‘pekerjaan’ utama, melainkan sekadar kegiatan sampingan, ” ujarnya.
Dari kegelisahan tersebut, I Wayan Mardika yang putra dari salah satu perintis lukisan gaya Keliki Kawan, I Nyoman Muliawan, mendirikan komunitas Om Hara Kailasha Painter pada tanggal 17 September 2010. Pendirian komunitas ini bertujuan untuk melestarikan tradisi lukisan gaya
Keliki Kawan.
”Saya memulai dengan mengumpulkan generasi muda yang berminat
mempelajari seni lukis tradisi, serta menggandeng para seniman senior untuk
bergabung dalam satu visi yang sama, yaitu pelestarian. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang dan memiliki anggota yang cukup banyak, mulai dari kalangan generasi muda, remaja, hingga dewasa,” katanya.
Namun, kendala kembali menghadang. Dalam perjalanannya, Om Hara Kailasha menghadapi pandemi Covid-19 yang dampaknya luar biasa bagi komunitas dalam beraktivitas.
Meski demikian, komunitas ini tidak menyerah. Setelah situasi berangsur membaik. Sang Ketua Komunitas, I Wayan Mardika kembali mengajak para seniman untuk tetap aktif dan semangat berkarya.
Alhasil, hingga saat ini, jumlah anggota komunitas Om Hara Kailasha telah mencapai kurang lebih 55 orang, yang terdiri dari berbagai kalangan usia, dewasa, remaja dan anak-anak.
Mereka aktif berkarya. Hasil karya komunitas ini kemudian dipamerkan di Museum Puri Lukisan Ubud, bertema “Bangkit”, selama sebulan dari tanggal 2 Mei hingga 2 Juni 2026. Bangkit yang dijadikan tema Itu bukanlah sekadar kata, melainkan sebuah semangat. Yakni, semangat untuk menghidupkan kembali tradisi yang telah diwariskan, menguatkan kembali identitas, serta membuka harapan baru bagi keberlanjutan lukisan gaya Keliki Kawan di tengah perubahan zaman.
Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang pelestarian seni, Om Hara Kailasha berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya seperti ini.
”Kami berharap pameran
ini dapat menjadi titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan—di mana warisan tetap dijaga, sekaligus diberi ruang untuk berkembang.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak
yang telah mendukung terselenggaranya pameran ini, para seniman, instansi, serta
Museum Puri Lukisan yang telah memberikan ruang yang begitu berarti.
Semoga melalui pameran ini, semangat “Bangkit” benar-benar menjadi nyata. Tak
hanya dalam karya, tetapi juga dalam hati dan langkah bersama untuk menjaga dan melestarikan seni lukis gaya Keliki Kawan. (MBP2)