“Adhikara Grahana” Karya STT Darma Bhakti Tampakkarang Apuan Juara I Festival Ogoh-ogoh Singasana III ‎

 “Adhikara Grahana” Karya STT Darma Bhakti Tampakkarang Apuan Juara I Festival Ogoh-ogoh Singasana III ‎

JUARA – Ogoh-ogoh berjudul “Adhikara Grahana”  STT Darma Bhakti Banjar Tampakkarang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti juara I Festival Ogoh-ogoh Singasana III 2026.

TABANAN – baliprawara.com
‎‎Ogoh-ogoh berjudul “Adhikara Grahana” garapan STT Darma Bhakti Banjar Tampakkarang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, keluar sebagai juara I  Festival Ogoh-ogoh Singasana III Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tabanan.
‎Juara II diraih Ogoh-ogoh “Ngerjeg Bhoma Palatra” karya STT Tri Wikrama Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Posisi juara III diraih Ogoh-ogoh “Kunti Seraya” garapan STT Permata Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri.

‎Penetapan juara itu berdasarkan penilaian tiga anggota tim juri yakni I Gede Arum Gunawan, S.Ag.,  M.Ag., Agung Harry Sunjaya Sapanca, S.Pd., M. Pd.,  dan  I Made Hendra Wahyudi, S.Sn., M. Sn. terhadap ogoh-ogoh wakil dari masing-masing kecamatan di  Kabupaten Tabanan, di Taman Bung Karno, Sabtu (14/3),

‎Salah satu juri, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan penilaian di tingkat kabupaten menitikberatkan pada beberapa aspek utama, yakni detail anatomi, detail aksesoris, serta harmonisasi warna. Selain itu, unsur keatraktifan juga menjadi pertimbangan karena ogoh-ogoh merupakan karya seni rupa tiga dimensi yang dapat dinikmati dari berbagai sisi.

‎Menurutnya, tim juri cukup kesulitan menentukan penilaian karena seluruh peserta telah menampilkan ide dan karya yang baik. Namun, ogoh-ogoh yang dinilai paling menonjol adalah karya yang mampu menarik perhatian penonton dari setiap sudut pandang.

‎Ia juga mendorong generasi muda untuk lebih menggali ide dari kisah-kisah tradisi Bali yang belum banyak diangkat. Dengan demikian, karya ogoh-ogoh yang dibuat dapat menampilkan nilai originalitas, sekaligus tetap memperhatikan pakem tradisi seperti warna, aksesoris, gelungan, serta karakter tokoh yang jelas antara unsur dharma dan adharma.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Made Subagia, mengaku bangga dengan karya para peserta karena merupakan hasil kreativitas undagi (perajin) lokal Tabanan. Festival ini, kata dia, menjadi ruang bagi para undagi untuk menyalurkan kreativitas dan diharapkan ke depan mampu bersaing dengan daerah lain.

‎Ia menambahkan, penyediaan tenda ogoh-ogoh sebagian besar dilakukan secara mandiri oleh peserta. Dinas Kebudayaan hanya memberikan subsidi untuk tenda bagian belakang. Ke depan, hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi, termasuk kemungkinan penyeragaman fasilitas dan pola kepesertaan festival.


Ceritakan Asal-usul Sang Rahwana

‎Ogoh Ogoh Adhikara Grahana, karya STT Darma Bhakti Banjar Tampakkarang Desa Apuan menceritakan asal-usul Sang Rahwana. Kisah dimulai dari Dewi Sukesi, putri Ida Bhagawan Semali yang suci, yang kemudian menikah dengan Ida Bhagawan Wisrawa. Sebelumnya Wisrawa telah menikah dengan Dewi Ilawati dan memiliki putra bernama Sang Kuwera, Dewa Kemakmuran, yang memerintah di Alengka dengan pasukan raksasa yang kuat.

‎Dari pernikahan Wisrawa dan Dewi Sukesi lahirlah Sang Rahwana. Rahwana kemudian menjalani tapa yoga yang panjang dan sungguh-sungguh. Dalam perjalanan tapanya, ia bertemu Kapi Raja Subali dan bersama-sama memohon anugerah kepada Ida Sang Hyang Siwa.

‎Setelah memperoleh anugerah tersebut, Rahwana berhasil menguasai pasukan raksasa Alengka, mengusir Sang Kuwera, dan akhirnya menjadi Raja Alengka. Peristiwa ini menjadi awal kisah besar tentang perebutan kekuasaan yang dikenal dengan nama Adhikara Grahana, yang bermakna pergantian kekuasaan.(MBP2)

See also  Ciptakan Rasa Aman dan Nyaman, Pasar Rakyat di Denpasar Mulai Pasang Pembatas Plastik

Redaksi

Related post