“Atma Kerthi” Diterjemahkan Lewat Warna dalam Lomba Melukis Satua Bali Serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII

 “Atma Kerthi” Diterjemahkan Lewat Warna dalam Lomba Melukis Satua Bali Serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII

Peserta lomba menggambar Satua Bali tampak berkonsentrasi menuangkan ide sesuai tema.

DENPASAR – baliprawara.com
Kreativitas anak-anak sekolah dasar mewarnai Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (4/2/2026). Wimbakara Melukis Satua Bali yang digelar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 berlangsung semarak dan menunjukkan peningkatan kualitas peserta.

Sejak aba-aba dimulai, para peserta langsung menuangkan ide ke atas kertas tanpa ragu. Suasana lomba terasa serius namun penuh imajinasi. Anak-anak tampak sudah menyiapkan konsep dari rumah, baik secara mental maupun teknis menggambar.

Dewan juri, Prof. Dr. Drs. I Wayan Karja, MFA., menilai lomba tahun ini menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski jumlah peserta tercatat 100 anak dan 12 di antaranya tidak hadir, kesiapan peserta justru dinilai jauh lebih matang.

“Begitu lomba dimulai, mereka langsung menggambar. Tidak ada lagi terlihat bingung atau mencari ide. Ini menandakan peningkatan minat dan keseriusan mengikuti lomba,” ujarnya didampingi juri I Gusti Ngurah Agung Yuda Putra, S.Ds., M.Ds., dan Putu Wahyu Wirayuda, S.S.

Tema Atma Kerthi yang diusung dinilai cukup menantang, namun mampu dijawab peserta dengan lugas melalui karya visual. Menurut Prof. Karja, pemahaman anak-anak terhadap tema semakin sensitif dan mendalam.

Pengaruh perayaan Siwaratri yang baru berlalu juga tampak kuat dalam karya peserta. Banyak lukisan mengangkat kisah Lubdaka, menggambarkan konsekuensi karma secara simbolik dan berani. Meski demikian, beberapa peserta masih mengangkat tokoh Manik Angkeran yang menjadi tema lomba tahun sebelumnya.

Dari sisi teknis, peningkatan terlihat jelas pada pengolahan warna dan perspektif. Anak-anak dinilai semakin dewasa dalam memadukan warna serta memahami cara tangkap visual tradisional. Bahkan, terdapat karya yang menafsirkan konsep atma secara ekstrem, seperti sosok yang tergantung di bambu petung sebagai simbol karma.

See also  Sampah Laut di Pantai Badung Meningkat Tajam Saat Musim Angin Barat

“Itu menunjukkan keberanian gagasan. Anak-anak tidak sekadar meniru, tapi menafsirkan cerita dengan imajinasi mereka sendiri,” jelasnya.

Keberagaman media juga menjadi nilai tambah. Peserta menggunakan pastel, cat air, spidol, hingga teknik campuran yang menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan seni rupa masa kini.

“Ini keunggulan generasi sekarang. Mereka berani bereksperimen dan itu patut dicatat sebagai potensi besar seni Bali ke depan,” pungkas Prof. Karja.(MBP2)

Redaksi

Related post