Sampah Laut di Pantai Badung Meningkat Tajam Saat Musim Angin Barat

 Sampah Laut di Pantai Badung Meningkat Tajam Saat Musim Angin Barat

Penanganan sampah kiriman di pantai Kuta. (ist)

MANGUPURA – baliprawara.com

Bentang pantai di Kabupaten Badung, kembali menghadapi persoalan tahunan berupa peningkatan volume sampah laut. Fenomena ini terjadi seiring masuknya musim angin barat yang membawa material sampah dari laut lepas hingga terdampar di garis pantai.

Sejumlah kawasan wisata utama seperti Kuta, Kedonganan, dan Jimbaran menjadi lokasi dengan intensitas sampah paling tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa sejak awal musim angin barat hingga awal Februari 2026, jumlah sampah laut yang berhasil ditangani mencapai ribuan ton. Peningkatan volume sampah laut tersebut tidak hanya berdampak pada estetika pantai, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem pesisir.

Oleh karena itu, upaya pembersihan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan, terutama pada titik-titik pantai yang menjadi pusat kunjungan wisatawan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung mencatat hingga awal Februari 2026, sedikitnya 3.000 ton sampah laut telah berhasil ditangani di kawasan Kuta, Kedonganan, dan Jimbaran. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah hingga berakhirnya musim angin barat sekitar bulan Maret.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Dalem, menjelaskan bahwa lonjakan sampah laut merupakan kejadian rutin yang selalu terjadi setiap tahun. Periode September hingga Maret dikenal sebagai masa di mana arus laut bergerak dari wilayah barat Indonesia menuju perairan Bali.

Arus tersebut membawa berbagai jenis sampah dari daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, terutama dari wilayah Jawa dan Sumatera. Sampah-sampah itu kemudian terbawa hingga ke pesisir selatan Bali dan terdampar di pantai-pantai Kabupaten Badung.

Menurutnya, jumlah sampah laut yang diterima setiap tahun cukup bervariasi. Rata-rata, volume sampah yang harus ditangani berkisar antara 4.000 hingga 7.000 ton. Ia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2021, jumlah sampah laut yang terdampar menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dengan total mencapai sekitar 7.000 ton.

See also  Sampah Laut Kembali Serbu Pesisir Barat Badung, Wilayah Jimbaran Terbanyak

“Saat ini saja sudah sekitar 3.000 ton yang kita tangani, dan jumlah itu masih berpotensi bertambah sampai Maret,” ujarnya saat ditemui pada Kamis 4 Februari 2026.

Untuk mengantisipasi lonjakan sampah laut tersebut, DLHK Badung telah menyiapkan berbagai langkah teknis di lapangan. Salah satu upaya utama adalah pengerahan alat berat di sejumlah pantai strategis guna mempercepat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah.

Sebanyak 12 unit alat berat ditempatkan di beberapa titik pantai yang rawan mengalami penumpukan sampah. Alat-alat tersebut difungsikan untuk mengumpulkan material sampah berukuran besar seperti kayu gelondongan maupun timbunan sampah organik yang sulit ditangani secara manual.

Selain alat berat, DLHK Badung juga mengerahkan ratusan tenaga kebersihan. Setiap hari, sekitar 300 hingga 350 petugas penyapuan diterjunkan secara rutin di sepanjang garis pantai. Jumlah tersebut bersifat fleksibel dan dapat ditingkatkan hingga sekitar 800 personel apabila kondisi di lapangan dinilai semakin berat.

“Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata,” kata Anak Agung Dalem.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, komposisi sampah laut yang terdampar di pantai Badung saat ini didominasi oleh material organik. Sekitar 70 persen sampah berupa kayu, ranting, dan sisa-sisa alami lainnya yang terbawa arus laut. Sementara itu, sekitar 30 persen sisanya merupakan sampah anorganik, terutama plastik.

Sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomis dipilah secara khusus dan disalurkan kepada mitra pengolah untuk didaur ulang. Adapun plastik campuran yang tidak dapat dimanfaatkan kembali langsung dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) sesuai prosedur pengelolaan limbah.

Untuk sampah kayu berukuran besar, DLHK Badung melakukan pemotongan dan penggilingan menggunakan mesin wood chipper. Hasil gilingan berupa serpihan kayu kemudian dimanfaatkan sebagai bahan kompos atau digunakan sebagai material urugan, sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.

See also  Astra Motor Bali Berikan Pembekalan Untuk SMK Binaan Sebelum PKL di Dunia Industri

Dalam menangani persoalan sampah laut ini, DLHK Badung tidak bekerja sendiri. Pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak melalui kerja sama resmi untuk memperkuat upaya pembersihan pantai. Sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang lingkungan turut dilibatkan dalam kegiatan penanganan sampah.

Selain itu, pelaku usaha pariwisata juga berperan aktif, terutama pengelola hotel dan restoran di kawasan pesisir. Unsur TNI dan Polri pun ikut mendukung melalui kegiatan bersama yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Kabupaten Badung.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penanganan sampah sekaligus menjaga kebersihan pantai secara berkelanjutan. Ke depan, DLHK Badung juga mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau PSEL sebagai salah satu solusi jangka panjang.

Dengan adanya fasilitas tersebut, peningkatan volume sampah laut yang terjadi setiap musim angin barat diharapkan dapat dikelola secara lebih optimal dan berkesinambungan, seiring dengan upaya menjaga kebersihan dan daya tarik pantai-pantai di Kabupaten Badung. (MBP)

 

redaksi

Related post