BBTF 2026 Bidik Perluasan Pasar, Targetkan 400 Buyer dari 47 Negara
Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra (tengah) saat memberi keterangan kepada wartawan.
MANGUPURA – baliprawara.com
Menyambut gelaran Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, DPD ASITA Bali resmi memulai rangkaian Road to BBTF 2026 sebagai langkah strategis memperkuat sinergi antara industri pariwisata dan pemerintah. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menjaga daya saing Bali dan Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif.
Konferensi pers terkait Road to BBTF 2026 telah digelar pada 30 Maret 2026, sementara lokasi pelaksanaan utama BBTF akan diumumkan kemudian. BBTF 2026 dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 di Bali dengan mengusung tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage.”
Tema tersebut menegaskan arah pengembangan pariwisata Indonesia yang kini berfokus pada kualitas pengalaman wisata, kekuatan budaya, serta keberlanjutan yang terukur.
Gastronomi dipilih sebagai benang merah karena mampu menggabungkan identitas budaya, tradisi, komunitas, serta potensi ekonomi kreatif dalam satu narasi pariwisata yang kuat.
Keberhasilan penyelenggaraan BBTF tahun sebelumnya menjadi landasan optimisme untuk penyelenggaraan tahun ini. Pada BBTF 2026, panitia menargetkan partisipasi sebanyak 400 buyer dari 47 negara serta 250 seller.
Target tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia, khususnya Bali, masih terjaga dengan baik. Namun demikian, peningkatan jumlah partisipasi bukan satu-satunya indikator keberhasilan.
Kesiapan destinasi dalam menjawab berbagai tantangan seperti kebersihan, kemacetan, tata kelola, hingga komitmen terhadap keberlanjutan juga menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan wisatawan global.
Ketua Panitia BBTF 2026 sekaligus Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menegaskan bahwa Road to BBTF merupakan momen refleksi sekaligus komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia menyampaikan bahwa tanpa kolaborasi yang kuat dan langkah nyata dalam penanganan masalah seperti sampah dan kemacetan, Bali berisiko kehilangan kepercayaan pasar global.
Menurutnya, BBTF bukan sekadar ajang transaksi bisnis, melainkan cerminan kesiapan destinasi dalam menyambut wisatawan dunia.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pembenahan pariwisata Bali harus dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pelaku industri. Upaya tersebut diharapkan tidak bersifat sporadis, melainkan berjalan secara sistemik dan berkelanjutan.
“Bali masih memiliki kekuatan besar dari sisi budaya, reputasi global, dan jaringan industri yang solid. Namun demikian, kekuatan tersebut perlu didukung dengan langkah nyata di lapangan agar tetap relevan di tengah persaingan global,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, Pada BBTF 2026, pihaknya menargetkan perluasan pasar dengan fokus pada kawasan Eropa Barat, Australia, Asia Timur, Asia Tenggara, serta pasar potensial seperti Timur Tengah dan India. Selain mempertahankan pasar tradisional yang selama ini loyal, upaya ini juga diarahkan untuk menjangkau wisatawan dengan kategori high-spending dan minat pada experiential tourism.
Keunggulan BBTF dibandingkan pameran pariwisata internasional lainnya terletak pada pengalaman langsung yang diberikan kepada buyer melalui familiarization trip dan post-event tours. Melalui program ini, para buyer dapat melihat langsung kualitas destinasi, produk wisata, serta kesiapan layanan di lapangan, sehingga meningkatkan kepercayaan dalam menjalin kerja sama bisnis.
Dalam konteks nasional, BBTF 2026 sejalan dengan program strategis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang terus mendorong promosi pariwisata melalui berbagai ajang internasional. BBTF menjadi platform penting karena menghadirkan buyer internasional langsung ke Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai pintu gerbang promosi destinasi lainnya di luar Bali.
Melalui Road to BBTF 2026, ASITA Bali juga mendorong pemerintah untuk memperkuat promosi internasional yang diiringi dengan pembenahan infrastruktur, pengelolaan sampah, transportasi, serta koordinasi lintas wilayah.
BBTF 2026 tidak hanya menjadi agenda tahunan industri pariwisata, tetapi juga simbol komitmen bersama dalam menjaga Bali tetap kompetitif dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku industri, serta langkah nyata dalam menjawab tantangan, Bali diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai destinasi unggulan Indonesia di mata dunia. (MBP)