Desa Adat Pecatu Kembali Salurkan 66 Ton Beras untuk Ribuan Krama Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, menyerahkan beras secara simbolis untuk ribuan krama Pecatu, jelang hari raya Galungan dan Kuningan.
MANGUPURA – baliprawara.com
Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Melalui program bantuan rutin yang sudah berjalan secara berkala, ribuan krama desa menerima bantuan beras yang didistribusikan pada Minggu 24 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk perhatian nyata desa adat kepada warganya di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga menjelang hari besar keagamaan.
Penyaluran bantuan itu dilaksanakan bersamaan dengan agenda Parum Krama Desa yang diikuti unsur masyarakat adat dari seluruh wilayah Desa Adat Pecatu. Distribusi bantuan menyasar warga dari tiga banjar dan 19 tempekan, dengan total penerima mencapai 2.970 krama.
Program sosial tersebut telah menjadi bagian dari komitmen bersama antara Desa Adat Pecatu dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) setempat. Program pembagian bantuan beras ini dilaksanakan secara rutin setiap enam bulan sekali sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat adat.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembagian beras ini merupakan realisasi janji yang terus dijaga konsistensinya oleh pihak desa bersama LPD. Menurutnya, alokasi anggaran yang digelontorkan untuk merealisasikan program tersebut mencapai sekitar Rp1,1 miliar. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, seiring adanya penyesuaian harga kebutuhan pokok serta besarnya volume bantuan yang disalurkan.
“Kami melaksanakan Parum Krama Desa yang dirangkai dengan pembagian beras. Ini merupakan janji kami kepada krama desa, di mana Desa Adat bersama LPD berkomitmen memberikan bantuan beras setiap enam bulan sekali,” ujar Sumerta.
Ia menegaskan, keputusan memberikan bantuan dalam bentuk beras dipilih berdasarkan hasil evaluasi distribusi bantuan sebelumnya.
Menurutnya, bantuan berupa paket sembako dinilai kurang efektif karena kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda. Sementara beras dianggap sebagai kebutuhan utama yang pasti dibutuhkan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Dengan skema tersebut, bantuan diharapkan lebih tepat sasaran dan bisa dimanfaatkan langsung oleh penerima sesuai kebutuhan rumah tangga masing-masing. “Kalau sembako kadang ada yang kurang berkenan atau tidak sesuai kebutuhan. Karena itu dipilih beras sebagai kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan semua keluarga,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pembagian bantuan dilakukan secara bergiliran antara pihak Desa Adat Pecatu dan LPD. Biasanya, bantuan menjelang Hari Raya Galungan pada periode akhir tahun disalurkan oleh LPD. Sementara pada periode berikutnya, giliran Desa Adat yang mengambil peran dalam distribusi bantuan.
Skema tersebut dilakukan agar kesinambungan program tetap terjaga serta beban pendanaan dapat dibagi secara proporsional antara dua lembaga tersebut. Besaran bantuan yang diterima masing-masing kepala keluarga pun berbeda-beda.
Setiap keluarga menerima beras mulai dari 10 kilogram hingga 25 kilogram, disesuaikan dengan kategori penerima dan kondisi rumah tangga masing-masing. Pendataan dilakukan berdasarkan status krama dalam struktur adat, mulai dari krama ngarep, ayahan, serep, sebatang kara, duda, janda, pensiunan, hingga krama mandiri.
Selain itu, pertimbangan lain juga diberikan bagi warga yang telah hidup mandiri atau tidak lagi berada dalam satu dapur bersama keluarga besar.b“Yang penting mereka adalah krama Desa Adat Pecatu. Apa pun statusnya, kami berikan secara merata sebagai bentuk perhatian desa adat,” tegas Sumerta.
Selain bertujuan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya, distribusi beras yang dilakukan lebih awal ini juga menjadi langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan harga beras di pasaran. Keputusan mempercepat penyaluran bantuan disebut telah melalui pembahasan bersama para kelian tempekan dalam forum parum, termasuk teknis pelaksanaan hingga penentuan titik distribusi agar bantuan bisa tersalurkan efektif.
“Kenapa dimajukan? Salah satunya antisipasi kenaikan harga beras. Ini bentuk komitmen kami untuk meringankan beban krama,” katanya.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat penerima manfaat. Salah seorang warga Banjar Kauh Pecatu, Made Widana, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi Desa Adat Pecatu bersama prajuru adat dalam menjalankan program sosial ini.
Ia menilai bantuan tersebut bukan hanya bernilai secara materi, tetapi juga menjadi simbol perhatian nyata pemimpin adat terhadap masyarakatnya. “Kami sebagai warga masyarakat sangat berterima kasih kepada prajuru desa adat yang sudah menjalankan program rutin pembagian beras setiap enam bulan sekali. Masyarakat sangat apresiasi,” ujarnya.
Widana mengaku keluarganya menerima satu kampil beras dengan berat 25 kilogram.
Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu kebutuhan rumah tangga, terutama menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan ketika kebutuhan belanja keluarga biasanya meningkat. Ia berharap program ini dapat terus dilanjutkan pada masa mendatang karena dinilai mampu mempererat hubungan emosional antara masyarakat dengan para pemimpin adat di Desa Pecatu.
“Harapan kami semoga bantuan ini terus berlanjut. Karena secara moril masyarakat merasa diperhatikan dan dicintai oleh pemimpinnya,” harapnya. (MBP)
