Diskusi Seni Minggu Malam di Studio Wianta, Seniman Mesti Miliki Daya Tempur dan Nyetrum
DENPASAR – baliprawara.com
Seniman dan sastrawan mesti memiliki daya tempur yang kuat untuk bisa menguasai diri, melawan hegemoni, dan menghadapi tantangan global. Agar selalu eksis, seniman mesti memiliki kekuatan karya, sehingga bisa nyetrum.
Demikian point penting yang bisa dipetik dari diskusi seni bertajuk “Seni Minggu Malam” di “Insitut Tanjung Bungkak” (ITB), sebutan rumah sekaligus galeri seni (Seputih Gallery) milik perupa kenamaan dunia, Made Wianta (alm) di Jalan Pandu Denpasar, Minggu (9/3/2025) malam. Gelaran acara ini diinisiasi Intan Kirana (istri Made Wianta), penyair Dr. dr. Dewa Sahadewa, Sp.O.G. dan Hartanto.
Sungguh seru. Acara ini dihadiri sobat sekaligus sparing partner Made Wianta Dr. Jean Couteau, Hartanto, Warih Wisatsana, Tan Lioe Ie, Benito Lopulalan. Juga hadir psikiater Prof. dr. Cok Jaya Lesmana, penyair dr. Ari Duarsa, GM Sukawidana, Jengki Sunarta, Dr. Gung Mas Ruscita Dewi, Dimas komandan JKP, Dwi praktisi seni, Mira Antigone, April Artison, Cumani, perupa Dr. Wayan Sujana “Suklu”, Made “Dolar” Astawa dan perupa wanita Bali kelas dunia, Citra Sasmita.
Mereka sepertinya rindu kampus ITB, mengulang tradisi, berdiskusi seni, baca puisi, musikalisasi puisi, dan tak kalah menariknya happy menyanyi.
Merindukan suasana kampus almamaternya, karena pada era 1980 – 1990-an, kediaman Wianta bersama istrinya Intan Kirana dan dua putrinya Buratwangi dan Sanjiwani ini sering dijadikan tempat nongkrong para pecinta seni, berdialog dan berdiskusi tentang seni. Berbincang kata, rupa, warna, nada dan sebagainya. Bahkan, ITB banyak melahirkan perupa berbakat, sastrawan dan atau penyair. Selain Wianta, “dosen tetap pengampu mata kuliah ITB”, ada maestro Umbu Landu Paranggi (alm), budayawan asal Prancis yang sudah menjadi “nak” Bali, Jean Couteau dan lain-lain.
Dipandu novelis yang jurnalis Iwan Darmawan, didampingi host Jengki Sunarta, diskusi seni ini mulai menghangat setelah dipantik pertanyaan: “Masihkah aktivitas berkesenian kita bergairah?” Pertanyaan itu kemudian dijawab lugas oleh Hartanto bahwa jika seniman
berhenti kesenian, itu namanya ia mati. Bagi Hartanto, semasih nafas di kandung badan, seniman sastrawan, penyair mesti tetap berkarya.
Kemudian giliran Jean Couteau bicara tentang ITB yang identik ruang diskusi. Dahulu kala, era tahun 1980 – 1990- an, tempat ini sering dijadikan ruang diskusi. Penuh perdebatan, dipicu semangat Made Wianta yang memiliki jiwa pemberontak dan konsep berkesenian yang luar biasa. Dalam ruang diskusi tak ada konsesus pendapat. Tidak dikenal pendapat sepaham. Sebab, kita memahami perbedaan itu sebuah kewajaran. Maka, ruang diskusi di ITB selalu hangat dan menyenangkan.
Kemudian Prof. Cok Jaya Lesmana menegaskan bahwa berkesenian itu sesuatu yang terus berkembang. Bahkan, manusia dari sejak lahir hingga mati selalu berkesenian.
Berbicara tentang perbedaan pendapat, penyair GM Sukawidana yang mantan guru bahasa Indonesia di SMPN 1 Denpasar menyebut bahwa pada tradisi orang Bali ada istilah rwa-bhineda. Manusia lahir tidak ada yang sama. Konsep dua yang berbeda itulah barangkali yang membuatnya selama 35 tahun, ia satu-satunya guru yang tak mengenakan baju seragam ketika mengajar. Tetapi pilihan sikap itu ia tunjukkan dengan karya. Karya sastranya sering dimuat di surat kabar.

Penyair Warih Wisatsana menegaskan,
ketika kita menimbang kehadiran dan peran seseorang dalam acara diskusi, sesungguhnya kita tidak sedang bernostalgia. Melainkan sebuah upaya pendalaman tentang kehadiran serta kiprah yang bersangkutan secara kontekstual dengan kenyataan kini.
Made Wianta , sebagai seniman multitalenta adalah seorang visioner yang sekaligus memiliki kepedulian terhadap dinamika cipta generasi muda. Karena itu, Umbu Landu Paranggi mencetuskan apresiasinya pada Galeri Seputih, laiknya sebuah kampus tempat rekah tumbuhnya pengetahuan, yakni ITB (Institut Tanjung Bungkak) merujuk keberadaan ITB Bandung.
Sebagai seorang visioner, Made Wianta menghadirkan aneka bentuk karya dan acara. Misalnya Festival Art and Peace yang digagas oleh Made Wianta pada tahun 2000 adalah sebuah perhelatan seni publik yang bertujuan untuk mengangkat pesan perdamaian melalui ekspresi artistik dan seruan kesadaran. Acara ini bukan sekadar pameran seni, tetapi juga sebuah gerakan sosial dan seruan kesadaran yang melibatkan berbagai elemen seni, budaya, dan masyarakat dalam sebuah dialog global tentang perdamaian.
Patut dikemukakan bahwa tahun 2000 merupakan periode di mana dunia masih dipenuhi konflik dan ketegangan sosial, baik di tingkat global maupun lokal. Di Indonesia sendiri, pasca-reformasi 1998, banyak terjadi pergolakan sosial dan politik. Wianta, yang selalu melihat seni sebagai media refleksi dan aksi sosial, berikut seruan kesadaran merespons situasi ini dengan menciptakan ruang untuk dialog dan penyampaian pesan damai melalui Festival Art and Peace.
Menurut Warih, ITB adalah ruang pencipta. Kampus yang melahirkan banyak seniman dan penyair berbakat, berkat ruang interaksi yang diciptakan Made Wianta. Bagi Warih, Wianta adalah sosok seniman yang selalu mendorong seseorang menjadi orang. Mendorong orang agar terus menerus berkreativitas, mencipta dan mencipta. Spirit itulah yang mesti kita gelorakan kembali lewat acara ini.

Penyair Tan Lioe lie sepakat dengan Warih, bahwa semangat berkesenian itu tak boleh padam. Berkesenian itu harus terus menerus berlangsung.
Menyitir pendapat Sutardji Calzoum Bachri, seorang penyair kontemporer terkemuka Indonesia, bahwa tantangan bagi penulis senior adalah jangan melakukan pengulangan. Sedangkan tantangan bagi penulis pemula adalah kecenderungan atau berisiko menjadi pengikut atau epigon, tanpa karya otensitas. Karena itu Tan Lioe Ie menawarkan formula: identifikasi, diferensiasi dan otensitas. Penulis pemula mesti mengenali karya orang lain, kemudian sedapat mungkin membandingkan karya itu dengan karyanya, sehingga bisa menghasilkan karya yang otentik. Kuncinya lagi, jangan berhenti belajar. Kenali apa yang terjadi pada sastra dunia dan apa yang berkembang pada sastra Indonesia. Kita mesti mampu melakukan seperti pujangga Indonesia Rustam Efendi dkk. Pada zaman dulu mereka berhasil membuat karya sastra khas Indonesia yang terinspirasi dari soneta yang berkembang di Italia. Genre-genre yang ada mesti mampu kita rebut untuk menghasilkan karya yang otentik.
Perupa kontemporer Wayan Sujana Suklu sangat merindukan acara seperti yang dilakukan di kediaman Made Wianta ini. Pada kesempatan itu ia memaparkan karyanya bertajuk Drawing on Novel. Karyanya itu sempat dikritik banyak orang. Tetapi Suklu menjelaskan bahwa sesungguhnya ia bukanlah mencoret-coret novel, tetapi justru kagum atas karya yang dibuat para novelis. Melalui ritus bawah sadar atau kontemplasi itu Suklu berupaya melakukan dialog dengan penulis novel. Itu dia lakukan hampir 20 tahun. Tetapi sebagai seniman, Suklu tetap berpijak pada tiga ruang yaitu ruang personal, ruang sosial dan ruang interaksi. Menurutnya, Wianta juga sejak lama telah menyiapkan tiga ruang itu.
Berbicara tentang sosok Wianta, tak habis-habisnya dikupas dan selalu menarik. Kata Dwi, kesenimanan Wianta selalu berkembang, tak hanya di bidang senirupa tetapi juga seni yang lain. Itu juga tak lepas dari keteguhannya berkarya. Di samping itu Wianta juga memiliki banyak sparing partner seperti Jean Couteau, Umbu Landu Paranggi dan sebagainya.
Wianta memiliki daya tempur yang luar biasa. Wianta mampu mentransformasikan seni tradisi Bali ke seni modern. Daya tempur seperti itu mesti juga dimiliki para seniman kini dan mendatang.
Hal itu diamini Benito Lopulalan. Ketika awal bertemu Wianta, ia sempat menanyakan apa aliran lukisan Wianta? Dengan enteng Wianta menjawab, “Lukisan Aliran listrik. Yang penting bisa nyetrum.” Dari situ Benito memahami bahwa karya harus bisa nyetrum. Kalau tidak nyetrum, itu boleh disebut karya onani. Kata Benito, dalam berkarya Wianta tidak tergantung satu visual. Wianta punya pusat listrik daya kreatif yang voltasenya sangat besar. Tak hanya melukis, Wianta juga bikin puisi yang terpukau pada keindahan kata. Tetapi bisa nyetrum berbagai komunitas kata, rupa, nada, warna, dan sebagainya.
Sastrawan Mas Ruscitadewi juga mengenang Wianta sebagai perupa yang kreatif. Wianta mampu melahirkan karya yang multitafsir. Mas Ruscitadewi juga menyinggung soal agen seni dengan istilah wesya yang kerapkali memanfaatkan seniman untuk kepentingan diri.
Sementara itu ketika ditanya apa formula JKP bisa terus menggeliat, Dimas mengatakan sederhana, yakni pertemuan. Pertemuan dirancang untuk melepas kangen sekaligus menjaga api puisi. Dan itu berulang dan selanjutnya ingin bertemu kembali.
Ketika disodok pertanyaan mengapa setia terhadap seni satra khususnya puisi, penyair dokter Ari Duarsa menjawab enteng bahwa dia dari dulu suka puisi. Ada nuansa beda yang didapatkan dari puisi di sela-sela kesibukannya sebagai tenaga kesehatan.
Acara diskusi dimeriahkan pembacaan puisi oleh Jengki Sunarta, Mira Antigone, April Artison, Ari Duarsa, Dewa Sahadewa, Cumani dan musikalisasi puisi persembahan Tan Lioe Ie.
Di akhir diskusi, Dr. Dewa Sahadewa yang pemilik RSIA Dedari Kupang, menyampaikan acara ini sangat menginspirasi. Banyak pemikiran bernas terlontar yang bisa kita maknai. Terima kasih disampaikan kepada Ibu Intan Kirana Wianta yang telah memberi kesempatan kepada seniman untuk berdiskusi dan memfasilitasi semuanya. (MBP2)