Efek Domino Ekonomi: Strategi Badung Perangi Stunting Melalui Sektor Perikanan
Ida Ayu Adi Rama Putri, S.Pi., M.A.P
Oleh Ida Ayu Adi Rama Putri, S.Pi., M.A.P
Persoalan stunting kini bukan lagi sekadar isu sektor kesehatan semata. Lebih dari itu, prevalensi stunting telah menjadi indikator krusial dalam menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masa depan. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Badung menempatkan penurunan angka stunting sebagai program unggulan yang dikerjakan secara lintas sektor dan masif.
Melalui Dinas Perikanan, Pemerintah Kabupaten Badung melancarkan intervensi nutrisi yang sangat terukur. Pada tahun 2025 sebanyak 1.620 paket ikan diberikan kepada masyarakat dengan sasaran anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui yang tersebar di 10 desa sasaran. Pada tahun 2026 ini, tercatat sebanyak 350 balita berisiko stunting telah masuk dalam radar pengawasan ketat. Mereka bukan hanya dipantau, tetapi juga dipastikan menerima paket gizi berbasis ikan setiap bulannya.
Tak berhenti di situ, langkah preventif juga diperluas dengan menyasar 200 paket ikan segar untuk balita dan ibu hamil di tiap-tiap desa prioritas (terdapat 10 desa sasaran). Langkah ini menjadi bagian dari kampanye besar meningkatkan budaya Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) sekaligus sebagai strategi yang baik untuk mencegah stunting.
Pemilihan ikan sebagai instrumen utama intervensi ini didasarkan pada keunggulannya sebagai superfood lokal yang tak tergantikan. Bagi ibu hamil, kandungan asam lemak esensial seperti Omega-3 dalam ikan merupakan investasi jangka panjang bagi perkembangan sistem saraf dan otak janin. Sementara bagi balita, protein ikan yang tinggi dan mudah dicerna adalah kunci utama agar mereka tumbuh tangguh, memiliki daya tahan tubuh kuat, serta cerdas tanpa dihantui risiko gangguan pertumbuhan permanen.
Efek Domino dari Hulu ke Hilir
Namun, poin yang paling menarik dari kebijakan ini adalah lahirnya “Efek Domino” ekonomi kerakyatan yang terintegrasi secara dari hulu ke hilir. Dinas Perikanan Kabupaten Badung memastikan seluruh rantai pasok program ini berasal dari potensi lokal. Keberlanjutan ekosistem dimulai sejak fase pembenihan dimana Pemerintah Daerah memberikan stimulan nyata berupa penyaluran benih ikan secara gratis melalui UPTD Perbenihan Ikan Air Tawar. Dukungan ini memungkinkan para pembudidaya menekan biaya produksi sejak awal masa tebar. Dengan menyerap hasil produksi dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Badung, pemerintah memberikan kepastian pasar dan harga bagi para pembudidaya. Ikan-ikan segar dengan mutu terbaik ini kemudian dikelola secara profesional melalui kerjasama straegis antara pemerintah daerah dengan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan lokal sebagai pihak ketiga. Sinergi ini menjamin bahwa paket ikan yang diterima masyarakat bukan sekedar bantuan, melainkan produk olahan yang memiliki kualitas dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Melalui skema ini, anggaran daerah (APBD) dipastikan benar-benar berputar dan kembali ke kantong rakyat. Program ini berhasil menciptakan siklus ekonomi yang inklusif: disatu sisi, balita stunting mendapatkan asupan protein hewani semantara disisi lain, seluruh pelaku usaha perikanan mulai dari pembudidaya hingga pengolah hasi perikanan mendapatkan jaminan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Inilah wujud nyata kebijakan yang tidak hanya mengatasi masalah kesehatan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal. (*)
Penulis, Analis Kebijakan pada Dinas Perikanan Kabupaten Badung