Hari Banyu Pinaruh, Ribuan Pamedek Padati Pancoran Solas Sangeh

 Hari Banyu Pinaruh, Ribuan Pamedek Padati Pancoran Solas Sangeh

Kawasan Tirta Taman Mumbul Pangelukatan Pancoran Solas, Sangeh, dipadati pamedek, Minggu 1 November 2026.

MANGUPURA – baliprawara.com

Suasana Hari Banyu Pinaruh di kawasan Tirta Taman Mumbul Pangelukatan Pancoran Solas, Desa Sangeh, Kabupaten Badung, Minggu 1 November 2026, terlihat ramai. Sejak pagi buta, warga dari berbagai wilayah mulai berdatangan untuk menjalankan tradisi melukat atau ritual penyucian diri.

Kawasan panglukatan tersebut terlihat dipenuhi pamedek yang datang silih berganti. Momentum sehari setelah Hari Saraswati ini memang menjadi salah satu waktu yang banyak dimanfaatkan umat Hindu untuk melaksanakan ritual penyucian diri.

Aktivitas pamedek bahkan sudah terlihat sejak sebelum matahari terbit. Antrean umat yang hendak melakukan panglukatan terus terlihat.

Manager Pengelola Tirta Taman Mumbul Pangelukatan Pancoran Solas, Sangeh, I Gusti Ngurah Putu Buda, mengatakan kedatangan pamedek mulai terlihat sekitar pukul 04.30 Wita. Kedatangan pamedek diperkirakan terus berlanjut hingga pukul 21.00 Wita.

Peningkatan jumlah umat yang datang untuk melukat pada perayaan Banyu Pinaruh terlihat setiap enam bulan sekali. Bahkan, jumlah pamedek terus meningkat dari waktu ke waktu. “Memang setiap Bayu Pinaruh ramai seperti ini. Bahkan pamedek terus meningkat,” katanya saat ditemui, Minggu 1 November 2026.

Peningkatan kunjungan pada momentum hari Banyu Pinaruh diperkirakan mencapai sekitar 300 persen. Lonjakan itu membuat kawasan panglukatan jauh lebih ramai dibandingkan aktivitas pada hari-hari normal.

“Meski jumlah pengunjung meningkat, para pamedek tetap mengikuti antrean untuk mendapatkan giliran melaksanakan ritual. Mereka datang secara bergantian sehingga proses panglukatan dapat terus berlangsung di tengah tingginya jumlah kunjungan,” ucapnya.

Buda menjelaskan, kondisi kunjungan saat ini berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Dahulu, masyarakat yang datang ke kawasan Pancoran Solas untuk melaksanakan panglukatan umumnya berasal dari desa-desa sekitar dan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

Biasanya kedatangan umat pada masa itu di berasal dari Carangsari, Sangeh, dan Abiansemal. Mereka datang untuk melukat yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Seiring berjalannya waktu, kawasan Tirta Taman Mumbul mulai mengalami penataan. Pengembangan lokasi yang juga diarahkan sebagai kawasan wisata turut memengaruhi peningkatan jumlah masyarakat yang datang untuk melakukan panglukatan.

Perubahan tersebut mulai terlihat sekitar 2017 hingga 2018. Sejak periode itu, jumlah umat yang berkunjung untuk melukat mengalami peningkatan. Salah satu faktor yang mendukung kemudahan kunjungan adalah akses menuju lokasi panglukatan yang relatif dekat dengan area parkir. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, masyarakat dapat lebih mudah menjangkau kawasan pancoran untuk melaksanakan ritual.

Selain menjadi tempat panglukatan, kawasan Taman Mumbul juga memiliki sejumlah fasilitas dan aktivitas wisata. Di bagian utara terdapat area wisata yang menyediakan kegiatan memberi makan ikan atau feeding fish. Kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan lainnya, termasuk sebagai lokasi pelaksanaan ritual melasti. (MBP)

 

redaksi

Related post