Hidup adalah Proses, Ketika “Pulang” Apa yang Kita Bawa?
Oleh: Nyoman Keramas
“Manusia begitu sibuk mengejar sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibawa pulang, hingga lupa mempersiapkan sesuatu yang pasti akan ikut bersamanya.”
Hampir setiap hari kita menyaksikan pemandangan yang sama. Ada orang yang bekerja siang malam demi mengumpulkan harta. Ada yang mengorbankan persahabatan demi mengejar jabatan. Ada yang rela kehilangan kesehatan, keluarga, bahkan ketenangan batin demi mempertahankan kekuasaan atau mendapatkan cinta yang diinginkan.
Ironisnya, semua orang mengetahui satu kenyataan yang tidak dapat dibantah.
Kita lahir ke dunia ini dengan tangan kosong. Dan, suatu hari nanti ketika kita “pulang” atau meninggalkan dunia ini juga dengan tangan kosong. Tidak ada seorang pun yang membawa uangnya ke alam kematian. Tidak ada yang membawa rumah mewah, kendaraan, rekening bank, pangkat, gelar akademik, bahkan pasangan yang paling dicintainya sekalipun. Semua akan tertinggal di dunia.
Kalau demikian, mengapa manusia begitu sibuk mengejar semuanya hingga kehilangan kedamaian?
Kota Persinggahan,
Bukan Tujuan Akhir
Banyak tradisi agama dan filsafat memandang bahwa dunia bukanlah rumah abadi. Dunia hanyalah tempat singgah, tempat belajar, tempat berproses, tempat menguji kualitas jiwa manusia. Kita ibarat seorang musafir.
Orang yang sedang melakukan perjalanan tentu memerlukan bekal. Ia membutuhkan pakaian, kendaraan, makanan, bahkan tempat beristirahat. Namun tidak ada musafir yang menganggap penginapan sebagai rumah selamanya. Sayangnya, banyak manusia justru jatuh cinta kepada tempat persinggahan. Mereka mengira dunia adalah tujuan akhir. Akibatnya seluruh tenaga, pikiran, bahkan hidupnya habis hanya untuk mempertahankan apa yang sebenarnya bersifat sementara.
Padahal semua yang dimiliki hanyalah titipan. Harta hanyalah titipan. Jabatan hanyalah amanah. Kecantikan hanyalah sementara. Kesehatan hanyalah pinjaman.
Bahkan tubuh kita sendiri suatu hari akan dikembalikan kepada alam. Yang kita bawa bukan harta.
Sering terdengar ungkapan, “Harta tidak dibawa mati.” Kalimat itu benar. Namun sesungguhnya masih ada pertanyaan yang jauh lebih penting. Kalau harta tidak dibawa mati, lalu apa yang benar-benar ikut bersama kita?
Dalam ajaran Hindu jawabannya adalah karma.
Bukan uang yang mengikuti kita. Bukan rumah.
Bukan jabatan. Melainkan seluruh akibat dari pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. Karma baik akan menjadi cahaya. Karma buruk akan menjadi beban. Namun bahkan terhadap karma baik pun manusia diajarkan agar tidak melekat. Sebab keterikatan, baik kepada pahala maupun dosa, sama-sama mengikat jiwa pada putaran kelahiran dan kematian (Samsara).
Tujuan akhirnya bukan sekadar mengumpulkan karma baik. Melainkan mencapai keadaan bebas dari segala ikatan. Dalam agama Hindu keadaan itu disebut Moksa. Dalam ajaran Buddha dikenal sebagai Nirwana. Keduanya mengajarkan pembebasan dari belenggu nafsu, ego, dan keterikatan.
Artha, Tahta, dan Cinta Bukan Musuh
Kesalahan manusia bukan karena memiliki harta. Bukan pula karena mempunyai jabatan.
Bukan juga karena mencintai seseorang.
Ketiganya bukan musuh.
Dalam Hindu bahkan dikenal konsep Catur Purusa Artha, yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Artha adalah bagian dari tujuan hidup. Kama atau cinta dan kebahagiaan juga merupakan bagian dari kehidupan. Namun keduanya harus berada di bawah tuntunan Dharma. Dan akhirnya mengantarkan manusia menuju Moksa.
Artinya, yang menjadi masalah bukan Artha, Tahta, maupun Cinta. Masalahnya adalah ketika manusia menjadi budak dari ketiganya.
Saat uang mengendalikan hati. Saat jabatan menguasai pikiran. Saat cinta berubah menjadi obsesi. Saat itulah penderitaan dimulai.
Antara Birth dan Death Ada Choice
Ada sebuah permainan kata yang sangat menarik. Birth (B) adalah awal kehidupan.
Death (D) adalah akhir perjalanan di dunia.
Di antara huruf B dan D terdapat huruf C.
C adalah Choice atau Pilihan.
Seluruh kehidupan manusia sesungguhnya berada di dalam ruang pilihan itu. Setiap hari kita memilih. Memilih jujur atau berbohong. Memilih memberi atau mengambil.
Memilih mengampuni atau membenci. Memilih rendah hati atau sombong. Memilih melayani atau memanfaatkan orang lain.
Pilihan-pilihan kecil itu perlahan membentuk karakter. Karakter membentuk kebiasaan.
Kebiasaan membentuk karma. Dan karma membentuk kualitas perjalanan jiwa.
Bukan keadaan lahir yang menentukan kemuliaan manusia. Tetapi pilihan yang diambil sepanjang hidupnya.
Mengapa Kita Terlalu Khawatir?
Sering kali manusia menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya bukan persoalan utama. Apakah harta akan dibawa mati? Tidak. Apakah jabatan akan dibawa mati? Juga tidak. Apakah popularitas akan dibawa mati? Sama sekali tidak.
Kalau semuanya memang tidak ikut, mengapa harus stres mempertahankannya?
Bukankah lebih bijaksana jika perhatian kita diarahkan kepada pertanyaan yang jauh lebih penting? Apakah hari ini saya menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin?
Apakah keberadaan saya membawa manfaat bagi orang lain? Apakah hidup saya meninggalkan kasih sayang atau justru luka?
Apakah saya semakin dekat kepada tujuan spiritual kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya menentukan nilai perjalanan hidup.
Kehidupan Adalah Sekolah Jiwa
Barangkali dunia bukan tempat mencari sebanyak-banyaknya. Melainkan tempat belajar menjadi sebaik-baiknya. Kita belajar bersabar ketika menghadapi kesulitan.
Belajar bersyukur ketika memperoleh keberhasilan. Belajar ikhlas ketika kehilangan. Belajar mengampuni ketika disakiti. Belajar rendah hati ketika dipuji.
Belajar tetap tenang ketika dihina.
Semua pengalaman hidup adalah ruang pendidikan bagi jiwa.
Tidak ada pengalaman yang sia-sia apabila mampu melahirkan kebijaksanaan.
Kesuksesan yang Sesungguhnya
Masyarakat sering mengukur keberhasilan dari kekayaan, jabatan, dan popularitas.
Namun ukuran langit mungkin berbeda.
Barangkali kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu hidup sederhana tanpa serakah. Mampu memiliki tanpa diperbudak oleh miliknya. Mampu mencintai tanpa memiliki secara berlebihan. Mampu memimpin tanpa haus kekuasaan. Mampu bekerja keras tanpa kehilangan nurani. Dan, mampu berhasil tanpa kehilangan kerendahan hati.
Pulang dengan Jiwa yang Ringan
Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai di satu gerbang yang sama. Gerbang kepulangan.
Tidak ada kendaraan mewah yang dapat melewatinya. Tidak ada rekening bank yang dapat digunakan di sana. Tidak ada jabatan yang berlaku.
Yang hadir hanyalah diri kita, bersama kualitas jiwa yang telah dibentuk selama menjalani kehidupan. Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah:
“Berapa banyak yang berhasil saya kumpulkan?” Melainkan, “Menjadi manusia seperti apakah saya selama menjalani kehidupan ini?”
Sebab kehidupan bukan perlombaan mengumpulkan Artha, mempertahankan Tahta, atau memiliki Cinta sebanyak-banyaknya.
Kehidupan adalah perjalanan jiwa.
Dan ketika perjalanan itu berakhir, yang benar-benar kita bawa bukanlah apa yang pernah kita miliki.
Semoga ketika saat kepulangan itu tiba, kita dapat pulang dengan tangan yang tetap kosong, tetapi dengan jiwa yang ringan, hati yang bersih, karma yang luhur, dan kesadaran yang telah merdeka.
Itulah kemenangan hidup yang sesungguhnya.
“Lahir adalah anugerah. Mati adalah kepastian. Di antara keduanya ada pilihan. Dan pilihan itulah yang menentukan apakah kita sekadar hidup, atau benar-benar mencapai tujuan kehidupan.” (*)
Penulis, pengamat ekonomi dan praktisi perbankan
