Kesiapan KSOP Kelas II Benoa Hadapi Lonjakan Wisatawan Nataru, Puluhan Kapal Cepat Dinyatakan Layak Operasi
Kesiapan KSOP Kelas II Benoa hadapi lonjakan wisatawan Nataru.
DENPASAR – baliprawara.com
Otoritas pelabuhan di Bali mulai melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi peningkatan mobilitas penumpang jelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Salah satu fokus utama adalah memastikan seluruh armada laut yang beroperasi benar-benar memenuhi standar keselamatan dan kelaikan pelayaran, khususnya di pelabuhan-pelabuhan yang menjadi pintu utama pergerakan wisatawan.
Pelabuhan Sanur dan Pelabuhan Serangan di Kota Denpasar menjadi dua titik krusial yang diprediksi mengalami lonjakan signifikan jumlah penumpang. Kedua pelabuhan tersebut selama ini dikenal sebagai jalur utama penyeberangan menuju destinasi wisata unggulan di wilayah Kepulauan Nusa Penida dan Nusa Lembongan, yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menjelang periode libur panjang akhir tahun, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa telah melakukan serangkaian pemeriksaan teknis terhadap kapal-kapal cepat yang beroperasi di wilayah kerjanya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pelayanan angkutan laut tetap berjalan aman, tertib, dan lancar selama masa Nataru.
Kepala KSOP Benoa Aprianus Hangki menyampaikan bahwa sebanyak 67 kapal cepat yang melayani penumpang di Pelabuhan Sanur dan Serangan telah dinyatakan laik laut setelah melalui proses uji kelaiklautan. Pemeriksaan tersebut meliputi kondisi fisik kapal, kelengkapan alat keselamatan, serta kesiapan awak kapal sesuai ketentuan yang berlaku.
Pelabuhan Sanur, Denpasar, tercatat sebagai salah satu pelabuhan dengan aktivitas penumpang tertinggi di Bali. Dalam kondisi normal, jumlah pergerakan penumpang di pelabuhan ini mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 orang per hari. Mayoritas penumpang tersebut merupakan wisatawan asing yang hendak menuju kawasan Nusa Penida dan Nusa Lembongan.
Di pelabuhan ini, terdapat sekitar 60 unit kapal cepat dari berbagai operator pelayaran yang melayani rute penyeberangan ke pulau-pulau wisata tersebut. Seluruh kapal tersebut telah melalui proses pemeriksaan dan dinyatakan siap untuk mengangkut penumpang selama periode libur Natal dan Tahun Baru.
KSOP Benoa memproyeksikan puncak arus penumpang akan terjadi pada 30 Desember 2025. Pada tanggal tersebut, jumlah penumpang harian diperkirakan meningkat hingga mencapai sekitar 7.000 orang. Kondisi ini mendorong pihak otoritas untuk meningkatkan pengawasan operasional di lapangan.
Selain Pelabuhan Sanur, Pelabuhan Serangan juga menjadi titik penting dalam layanan penyeberangan laut di wilayah Bali. Pelabuhan ini melayani rute ke pulau-pulau wisata yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Klungkung.
Di Pelabuhan Serangan, terdapat tujuh kapal cepat yang beroperasi secara rutin. Rata-rata jumlah penumpang harian di pelabuhan ini mencapai sekitar 1.000 orang. Meski jumlahnya lebih kecil dibandingkan Sanur, pelabuhan ini tetap mendapat perhatian serius dalam pengawasan keselamatan pelayaran.
KSOP Benoa secara aktif memantau pergerakan kapal dan penumpang di tiga pelabuhan utama, yakni Sanur, Serangan, dan Benoa. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran kapasitas, gangguan keselamatan, maupun kendala operasional selama periode libur akhir tahun.
Sebagai bagian dari pengamanan Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, KSOP Benoa mendirikan posko terpadu yang dipusatkan di Pelabuhan Benoa. Posko ini mulai beroperasi sejak 18 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Dalam pelaksanaan pengawasan tersebut, KSOP Benoa bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain TNI, Polri, Badan SAR Nasional (Basarnas), Pelindo, PT Pelni, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya. Sinergi lintas sektor ini bertujuan untuk memperkuat pengawasan dan mempercepat penanganan apabila terjadi situasi darurat.
Sementara itu, Pelabuhan Benoa juga melayani angkutan penumpang jarak jauh menggunakan kapal motor milik PT Pelni. Terdapat empat kapal Pelni yang beroperasi, yakni KM Tilongkabila, KM Awu, KM Binaiya, dan KM Leuser.
Kapal-kapal tersebut melayani rute menuju sejumlah kota di Indonesia bagian timur, seperti Waingapu dan Labuan Bajo. Dalam kondisi normal, masing-masing kapal memiliki kapasitas sekitar 1.000 penumpang. Namun, khusus pada momentum Natal dan Tahun Baru, kapasitas angkut ditingkatkan hingga mencapai 1.500 orang.
Arus mudik Natal dari Pelabuhan Benoa telah dimulai sejak Senin, 15 Desember 2025. Pada hari tersebut, KM Binaiya melayani pelayaran dengan rute Waingapu–Ende–Kupang dan mengangkut total 1.388 penumpang.
Selanjutnya, pada pelayaran Rabu, 17 Desember 2025, KM Leuser mengangkut sebanyak 777 penumpang. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen atau 583 orang tercatat memiliki tujuan ke Labuan Bajo.
Selain kesiapan di tingkat pelabuhan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan juga menetapkan delapan fokus utama dalam penyelenggaraan Angkutan Laut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kebijakan ini disampaikan secara resmi pada 18 Desember 2025.
Delapan fokus tersebut dirancang untuk memastikan pelayanan angkutan laut berjalan aman, lancar, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat, seiring dengan potensi peningkatan pergerakan penumpang dan barang di akhir tahun.
Fokus utama mencakup prioritas keselamatan pelayaran, pengawasan ketat terhadap kapasitas kapal, penguatan koordinasi lintas sektor, kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, pemanfaatan media sosial sebagai sarana informasi publik, pelaksanaan tugas dengan integritas, kewajiban pelaporan berkala, serta komitmen penuh terhadap prinsip keselamatan tanpa kompromi.
Melalui langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap penyelenggaraan Angkutan Laut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan memberikan rasa nyaman bagi seluruh pengguna jasa transportasi laut di Indonesia. (MBP)