Menuju Puncak Emas Pesta Seni
Oleh: Kadek Suartaya
Sejak dihelat pertama kali pada tahun 1979, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah tumbuh sebagai ruang ekspresi, perayaan, dan regenerasi seni budaya Bali yang tak tertandingi. Dalam lintasan 48 kali penyelenggaraannya hingga tahun 2026 ini, PKB tak pernah absen, meski badai politik, krisis ekonomi, maupun pandemi global melanda. Kebertahanan ini menegaskan bahwa PKB bukan sekadar event kesenian, tetapi telah menjadi ikon kultural, simbol ketahanan identitas, dan monumen etnoperadaban Bali yang hidup. Maka, menjelang penyelenggaraan ke-50 pada tahun 2028 nanti, layak dan patutlah dicita-citakan sebuah perayaan PKB Emas — sebuah tonggak selebratif nan reflektif dalam sejarah kesenian Bali modern.
Menginjak masa transisi menuju setengah abad itu, tahun 2027 menjadi fase penyiapan dan pemantapan. Tahun 2027 dapat dirancang sebagai “Tahun Konsolidasi Tematik” dan “Tahun Apresiasi dan Arsip”, di mana seluruh konten PKB mulai diarahkan secara terukur menuju visi emas 2028. Tema tahunan PKB seyogianya mulai diselaraskan secara naratif dan historis, membangun jalan cerita yang tidak hanya merayakan estetika, tetapi juga mengukuhkan posisi PKB dalam peta kebudayaan nasional dan global.
Tahun ini dapat menjadi ajang evaluasi mendalam terhadap pola kurasi, sistem pembinaan, dan distribusi ruang ekspresi seni yang lebih inklusif. Misalnya, menghadirkan kembali repertoar seni langka dari desa-desa adat yang selama ini kurang terekspos, memperkuat peran perempuan dalam kepemimpinan seni, serta membuka panggung kuratorial bagi para kreator muda lintas disiplin.
Pemantapan “Tahun Apresiasi dan Arsip” pada PKB 2027 tersebut, adalah momentum yang menegaskan bahwa PKB bukan hanya milik hari ini, tetapi juga ingatan kolektif lintas generasi. Perlu disiapkan festival arsip kesenian Bali, baik dalam bentuk dokumenter, audio visual, hingga narasi ilmiah dan populer yang bisa diakses publik. Menggandeng akademisi, seniman, pustakawan, dan jurnalis budaya, PKB dapat menggelar simposium budaya bertaraf internasional yang mengulas jejak pengaruh PKB terhadap lanskap kebudayaan Asia Tenggara dan dunia. Di sinilah peran museum digital, database seniman, dan rekaman pertunjukan lintas masa dapat dirintis sebagai warisan pengetahuan yang hidup. Tahun ini juga dapat menjadi ruang penghargaan kepada para maestro dan pelaku budaya yang selama ini menjadi pilar kebesaran seni Bali.
Puncaknya adalah tahun 2028 sebagai “PKB Emas”. Pada fase ini, Bali harus menyelenggarakan perayaan kesenian yang berskala monumental, spiritual, dan inovatif sekaligus. Perlu digagas panggung-panggung lintas wilayah — dari gunung, danau, pura, hingga kota — sebagai bentuk penghormatan terhadap roh bumi Bali yang selama ini mengilhami penciptaan seni. Konsep PKB Emas harus melibatkan sinergi antara pemerintah, desa adat, perguruan tinggi seni, lembaga internasional, komunitas kreatif, dan diaspora Bali di seluruh dunia.
Festival lintas negara tentang “Seni, Spiritualitas, dan Lingkungan” bisa menjadi tema besar yang mengakar dan mengglobal. Tak hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa kebudayaan yang meneguhkan Bali sebagai pusat seni spiritual dunia.
Evaluasi terhadap pada dua dekade PKB lalu, menunjukkan banyak kemajuan, namun juga tantangan yang mengemuka. Banyak seniman mengeluhkan sistem seleksi yang birokratis, pola lomba yang terkadang hanya mengejar kemenangan daripada esensi seni, hingga persoalan distribusi insentif dan penghargaan yang belum merata.
Ideologi PKB yang pada awalnya digagas sebagai ruang pelestarian dan inovasi kini kerap terjebak dalam rutinitas dan euforia seremonial. Di sinilah pentingnya membangun kembali roh PKB sebagai “ritus kebudayaan rakyat Bali” — bukan hanya agenda tahunan pemerintah. Dari perspektif pelaku seni, PKB Emas harus menjadi titik balik pemuliaan martabat seniman. Ini bisa dimulai dari reformasi tata kelola apresiasi: mulai dari standardisasi honor seniman, jaminan sosial dan kesehatan, hingga pelibatan aktif mereka dalam proses perumusan tema dan program. Perlu keberpihakan yang konkret, bukan sekadar simbolik. Seniman bukan hanya pelaksana tontonan, tetapi pemilik makna dan pemikul peradaban. Maka, momen emas PKB harus memberi mereka panggung untuk berbicara, memimpin, dan menggubah arah masa depan kesenian Bali.
Konteks kultural yang dikedepankan dalam PKB Emas nanti adalah sinergi antara pelestarian nilai adiluhung dan pengembangan estetika kekinian. Tradisi tidak boleh dibekukan, tetapi juga tidak dilucuti dari ruhnya. Di tengah arus globalisasi, PKB harus menjadi mercusuar yang menuntun generasi muda Bali untuk tetap berpijak pada tanah leluhur sambil menatap cakrawala dunia. Ini hanya bisa terwujud bila PKB memosisikan dirinya sebagai laboratorium penciptaan, bukan sekadar arena kompetisi. Gagasan untuk menghadirkan “Sanggar Inovasi Seni” yang intensif digelar sepanjang tahun — bukan hanya saat PKB berlangsung — patut dikembangkan agar denyut kreatif terus hidup dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Secara reflektif, PKB telah berkontribusi besar dalam menjaga citra Bali sebagai pulau budaya. Namun ke depan, kontribusi ini harus diperluas menjadi kekuatan soft power Indonesia di dunia internasional. Kolaborasi lintas budaya, diplomasi budaya, serta penguatan sektor pendidikan seni perlu dirancang sebagai bagian integral dari PKB. Dengan cara ini, PKB bukan hanya festival lokal, tetapi juga agensi kebudayaan yang memperkuat peradaban bangsa.
Menuju PKB Emas 2028, sudah saatnya kita tidak hanya bersyukur atas capaian, tetapi juga berani merancang lompatan visi. Seperti yang pernah dikatakan pelukis I Gusti Nyoman Lempad, “Seni tidak boleh sekadar menjadi hiasan, ia harus menjadi jalan hidup.” Maka biarlah PKB menjadi jalan kebudayaan yang tidak pernah padam, menyala dari desa ke dunia, dari masa lalu ke masa depan.
PKB Emas harus dirayakan sebagai momentum kebangkitan nilai, penyatuan kekuatan kreatif, dan peneguhan Bali sebagai nadi seni Nusantara dan dunia.(*)
Penulis pemerhati seni budaya.
