Menyimak Lebah pada Pameran Tunggal Ketut Suasana Kabul: Kepadatan Garis Menyimpan Sengatan

 Menyimak Lebah pada Pameran Tunggal Ketut Suasana Kabul: Kepadatan Garis Menyimpan Sengatan

Salah satu karya Ketut Suasana Kabul

Oleh I Made Susanta Dwitanaya

NECTAR WAGGLE meminjam dua unsur yang saling menghidupi dalam siklus kehidupan lebah. Nectar adalah sari tumbuhan sebagai bahan baku madu yang dikumpulkan oleh lebah sedikit demi sedikit melalui perjalanan yang tak pernah selesai, sementara waggle adalah bahasa tubuh atau sering disebut tarian khas para lebah dalam proses pencarian nektar, sehingga sering disebut sebagai waggle dance berupa gerakan bergoyang para lebah pekerja, gerakan ini adalah cara berkomunikasi yang dipahami oleh seluruh koloni lebah, khususnya mengenai jarak antara sarang dengan tumbuhan penghasil nektar. Tidak ada nektar tanpa proses perjalanan dan pencarian, dan tidak ada harmoni dalam kehidupan koloni tanpa adanya komunikasi. Kehidupan lebah dibangun oleh akumulasi tindakan-tindakan yang terus diulang hingga melahirkan sebuah tatanan siklus dan tujuan bersama yang utuh. Di balik madu yang manis selalu tersimpan sengatan yang menyakitkan, karena madu yang terkumpul perlu dirawat dan dijaga sebagaimana di balik harmoni yang diupayakan selalu ada disiplin, kerja keras, pengorbanan dan mekanisme pertahanan bersama, saling menjaga, dan saling diupayakan oleh ratu lebah, lebah penjaga hingga lebah pekerja.

Made Susanta Dwitanaya

Begitulah hasil pengamatan dan interpretasi I Ketut Suasana “Kabul” sebagai pelukis dalam mengamati dan memaknai kawanan lebah yang sampai kini masih hadir dalam karya-karyanya. Kehadiran objek lebah dalam lukisan Kabul bukan tampil sebagai sebagai salinan citra realistik dan naturalistik, atau potret eksotis lebah. Ia menjadi cara bagi Kabul untuk memaknai kehidupan manusia sebagai ruang tempat individu, kebersamaan, kerja, dan perjuangan saling bertemu dalam satu ekosistem kehidupan yang terus bergerak. Cara Kabul mengkonstruksi imaji lukisan-lukisannya bergerak dengan logika yang sama. Ia tidak melukiskan bentuk representatif dari objek lebah dan alam dengan teknik yang mengutamakan sapuan kuas maupun dusel, melainkan menyusunnya melalui guratan garis yang dikerjakan menggunakan cat dan kuas. Menggaris dengan kuas dan cat menuntut pengendalian tangan, kestabilan, ketepatan tekanan, dan kesabaran untuk menerima bahwa setiap jejak tidak dapat dihapus kembali, semacam proses menaklukkan kecepatan. Guratan-guratan itu tumbuh perlahan di atas kanvas seperti serat sarang yang dibangun sel demi sel. Kabul tidak menuangkan warna dalam bidang-bidang besar yang bisa diselesaikan dalam sekali tarikan napas. Ia menaruh satu garis, membiarkan cat mengering, lalu menaruh garis berikutnya di sampingnya, dekat sekali, hampir bersentuhan, hingga ribuan garis itu saling merapat dan membentuk kepadatan yang dari kejauhan tampak sebagai bulu lebah, sayap yang bergetar, atau kabut cahaya di sekitar sarang. Dari jarak dekat, yang terlihat justru kesabaran itu sendiri, jejak tangan yang berulang-ulang menahan diri agar tidak tergesa.

Kerja semacam ini menolak gestur besar yang biasa dipuja dalam sejarah lukis ekspresif, sapuan kuas yang lahir dari ledakan emosi . Garis Kabul justru lahir dari ritme yang datar dan panjang, mirip ritme kepakan sayap lebah pekerja yang terbang keluar sarang berkali-kali dalam sehari, membawa pulang setetes nektar yang nyaris tidak kelihatan, lalu terbang lagi. Nilai sebuah garis, seperti nilai sebuah penerbangan, tidak diukur dari besarnya satu gerakan, melainkan dari kesetiaannya untuk terus diulang. Pada beberapa karyanya terlihat tidak ada bagian yang benar-benar lebih penting daripada bagian lain; keseluruhan hamparan visual pada selembar lukisannya lahir dari kepekaannya pada detail.

Kepadatan garis itu pula yang menyimpan sengatan yang disebut di awal tulisan ini. Semakin dekat mata memandang, semakin terasa betapa permukaan lukisan Kabul sesungguhnya keras dan padat, hampir seperti tekstur sarang yang dijaga ketat oleh lebah penjaga. Tidak ada ruang kosong yang dibiarkan lunak. Kepekaan pada detail yang ia rawat sejak garis pertama menjelma pertahanan visual, sebuah permukaan yang menolak dilihat sepintas, menuntut penonton berhenti dan menekuni cara kerja yang sama tekunnya dengan yang dijalani sang pelukis. Di titik inilah konsep madu dan sengat bertemu dalam satu bidang kanvas: kemanisan komposisi yang utuh hanya bisa dicapai lewat proses yang melelahkan dan tidak memberi ampun pada kesalahan, sebab setiap garis yang sudah dijatuhkan cat tidak bisa ditarik kembali, seperti sengat yang sekali dilepaskan lebah pekerja, tidak pernah bisa diambil lagi.

Di situlah praktik melukis Kabul menemukan padanannya dengan kehidupan koloni lebah. Lukisan tidak diselesaikan melalui satu gestural kuas yang heroik dan emosional, melainkan melalui kerja yang tekun, repetitif, dan berlangsung melampaui waktu, sebagaimana koloni lebah tidak pernah menghasilkan madu dalam satu kali penerbangan, tetapi melalui perjalanan yang terus diulang hingga nektar yang tampak kecil akhirnya menjelma menjadi sesuatu yang utuh, menjadi tetes demi tetes madu.

Penjelajahan Panjang
Karya-karya termutakhir I Ketut Suasana “Kabul” dalam pameran Nectar Waggle memperlihatkan perkembangan dari penjelajahan panjangnya terhadap lebah, objek yang secara intens telah hadir dalam praktik melukisnya sejak penghujung masa studi di ISI Denpasar pada pertengahan dekade 2000an. Sejak periode tersebut, Kabul membangun lebah melalui karakter garis yang terus ia olah dan pertahankan hingga menjadi salah satu bahasa visual yang paling dominan dalam perjalanan artistiknya. Dalam perjalanannya mengolah dan mengeksplorasi objek lebah dalam karya-karyanya itu tentu saja telah melalui dan berhadapan dengan berbagai perkembangan dan pergerakan artistik yang dapat dilihat melalui karya-karyanya. Lihat misalnya dalam dua karyanya, yaitu Populasi Lebah dan Abstraksi Alam Lebah #7, memperlihatkan kesinambungan cara pandang terhadap lebah sebagai sumber bahasa visual yang terus dikembangkan melalui garis, repetisi, warna, dan kepadatan. Pada keduanya, lebah hadir dalam jumlah besar dan berulang, bergerak dari bentuk yang masih dapat dikenali menuju susunan yang semakin dekat dengan abstraksi. Perbedaan ukuran, komposisi, dan intensitas warna menghasilkan pengalaman visual yang berlainan, namun keduanya bertemu pada perhatian Kabul terhadap kehidupan kolektif: bagaimana satu bentuk kecil memperoleh daya ketika hadir bersama bentuk-bentuk lain dalam jumlah yang masif. Dari hubungan tersebut dapat dibaca kecenderungan artistik Kabul yang mengolah alam bukan sebagai pemandangan atau representasi yang utuh, melainkan sebagai kumpulan ritme, gerak, warna, dan relasi antarbentuk yang membangun sebuah medan visual.

Populasi Lebah 2026, merupakan lukisan diptych berukuran 250 × 600 cm yang dengan akrilik di atas kanvas. Lebah menjadi motif utama yang hadir melalui pengulangan garis secara intensif hingga memenuhi hampir seluruh permukaan bidang. Pengulangan tersebut membentuk ritme visual yang rapat dan memberi kesan gerak, kerumunan, sekaligus kepadatan. Di antara jaringan garis yang menyerupai tubuh-tubuh lebah itu muncul bidang-bidang warna biru, merah, kuning, ungu, hijau, dan merah muda yang tersebar seperti massa atau gugusan di dalam sebuah ruang yang luas. Dari jarak tertentu, bentuk individual lebah perlahan melebur ke dalam keseluruhan komposisi sehingga perhatian bergeser dari satu objek menuju pengalaman tentang jumlah dan kepadatan. Diptych dengan bentangan enam meter memperkuat kesan keluasan tersebut, seolah populasi lebah terus bergerak dan berkembang melewati batas satu bidang kanvas. Repetisi menjadi bahasa penting dalam karya ini karena setiap lebah memiliki kedudukan yang relatif setara, sementara keberadaannya memperoleh makna melalui hubungan dengan lebah-lebah lainnya. Di sini populasi dapat dipahami sebagai sebuah struktur kehidupan yang tersusun dari banyak individu kecil, dengan keteraturan dan kekacauan yang berjalan bersamaan. Bidang-bidang warna memberikan jeda sekaligus menciptakan lapisan visual yang membuat permukaan lukisan terasa hidup dan berdenyut. Kabul menarik motif lebah keluar dari penggambaran figuratif menuju pengalaman tentang massa, ritme, dan keberadaan kolektif. Kekuatan karya ini terletak pada konsistensi repetisi yang mampu mengubah motif sederhana menjadi medan visual yang luas, sekaligus membuka pembacaan mengenai kehidupan, produktivitas, kepadatan, dan hubungan antara individu dengan populasi.

Sedangkan dalam Abstraksi Alam Lebah #6 2026, berukuran 130 × 140 cm, memperlihatkan kepadatan bentuk lebah yang memenuhi bidang kanvas dan berinteraksi dengan gugusan warna yang tersebar di belakangnya. Lebah digambar melalui garis hitam yang sederhana, dengan bentuk tubuh yang berulang namun memiliki arah dan posisi yang berbeda, sehingga menghasilkan gerak visual yang terasa organik. Di bawahnya terdapat susunan bidang warna biru, merah, kuning, hijau, jingga, ungu, dan abu-abu yang membentuk semacam lanskap tanpa batas yang jelas bidang bidang itu juga mendapatkan sentuhan garis dengan warna yang senada dengan bidang. Repetisi lebah membuat figur individual perlahan kehilangan identitasnya ketika dilihat secara keseluruhan, sementara dari jarak dekat detail garis dan karakter setiap bentuk kembali muncul. Hubungan antara garis hitam dan warna yang lebih padat menciptakan lapisan visual yang bertumpuk, seolah lebah bergerak di dalam suatu ruang yang terus berubah. Judul Abstraksi Alam Lebah mengarahkan pengalaman tersebut pada gagasan tentang alam sebagai jaringan kehidupan yang tersusun dari keberulangan, kepadatan, dan pergerakan. Kabul tidak menjadikan lebah sebagai objek pengamatan naturalistik, melainkan mengolahnya menjadi bahasa visual untuk membangun pengalaman tentang sebuah ekosistem. Warna yang beragam memberi suasana yang hidup dan ekspresif, sedangkan repetisi bentuk menciptakan keteraturan yang tetap terasa dinamis. Kekuatan karya ini terletak pada kemampuan Kabul mempertahankan keterbacaan motif lebah sekaligus mendorongnya menuju wilayah abstraksi, sehingga pengalaman terhadap lukisan bergerak antara mengenali bentuk, mengikuti ritme, dan merasakan kepadatan kehidupan yang memenuhi seluruh bidang.

Pada Abstraksi Alam Lebah #7 (2026), Kabul membangun komposisi melalui pertemuan garis-garis yang meliuk dengan gugusan figur lebah yang direpetisi secara rapat. Garis berwarna biru, merah, kuning, jingga, dan warna-warna pucat bergerak bebas, saling bertemu, berbelok, dan membentuk bidang-bidang organik yang tidak beraturan. Gugusan lebah ikut menjadi bagian dari struktur tersebut, membentuk kepadatan yang muncul dan menghilang di antara aliran garis. Ruang lukisan terasa dinamis karena tidak memiliki pusat yang tetap. Mata bergerak mengikuti garis, memasuki gugusan, lalu berpindah menuju bidang lainnya. Bentuk-bentuk yang muncul dapat dibaca sebagai imaji alam yang telah diabstraksikan, menyerupai arus air, angin, awan, lanskap, atau organisme yang terus bergerak dan berubah.

Sedangkan karya Abstraksi Alam Lebah #8 (2026), struktur tersebut berkembang dalam bentangan diptych sepanjang enam meter. Garis-garis bergerak lebih luas dan membentuk bidang-bidang warna yang saling berkelindan, sementara repetisi lebah menghasilkan gugusan besar dengan kepadatan berbeda. Pada jarak dekat, figur lebah masih dapat dikenali, tetapi dari kejauhan ribuan bentuk kecil itu melebur menjadi tekstur dan bidang. Format horizontal membuat pergerakan garis terasa memanjang seperti arus yang membawa pandangan melintasi permukaan karya. Bidang-bidang yang terbentuk tidak hadir sebagai bentuk geometris yang tertutup, melainkan sebagai massa organik yang tumbuh, menyebar, bertemu, dan terurai sehingga keseluruhan lukisan menyerupai bentang alam imajiner yang terus bergerak.

Kedua karya memperlihatkan bagaimana garis menjadi elemen penting dalam bahasa visual Kabul. Garis tidak semata membentuk figur lebah, tetapi berkembang menjadi arus yang mengorganisasi ruang sekaligus melahirkan bidang-bidang dinamis. Repetisi lebah, pergerakan garis, dan pertemuan warna membuat batas antara figur dan abstraksi semakin cair. Pada Abstraksi Alam #7, hubungan antara gugusan lebah dan aliran garis masih terbaca cukup jelas, sedangkan pada Abstraksi Alam #8 keduanya semakin melebur menjadi medan komposisi visual yang luas dan padat. Dari proses inilah muncul berbagai imaji yang tidak ditentukan secara tunggal: koloni, arus, lanskap, jaringan kehidupan, atau bentuk-bentuk alam yang terus mengalami perubahan.

Dalam Bumi Lebah (2026), Kabul menghadirkan bidang lingkaran besar yang mendominasi kanvas berukuran 250 × 300 cm, membentuk imaji abstraksi dari bola dunia. Seluruh objek mikro dan repetitif yang terkomposisi dalam karya ini adalah objek lebah yang dibangun melalui elemen garis, kemudian diulang dalam jumlah besar dengan variasi ukuran, arah, kepadatan, dan warna. Repetisi garis tersebut menghasilkan ritme visual yang memenuhi bagian dalam maupun luar lingkaran, sementara perbedaan kepadatan menciptakan kesan gerak seperti kawanan yang terus beredar. Pada bagian pusat, lapisan warna merah muda, jingga, hijau, biru, dan gelap membentuk bidang-bidang yang saling bertumpuk sehingga ruang terasa lebih padat dan dinamis dibandingkan latar biru di sekelilingnya. Garis dengan demikian menjadi unsur utama yang membangun figur sekaligus keseluruhan struktur komposisi: dari garis lahir lebah, dari pengulangan lebah terbentuk populasi, dan dari populasi tersebut muncul imaji sebuah “bumi”. Judul Bumi Lebah memperkuat pembacaan tentang lebah sebagai kehidupan kolektif yang membentuk dunianya melalui hubungan antarelemen yang rapat, teratur, sekaligus bergerak dinamis.

Selain menghadirkan kombinasi abstraksi bidang, ruang, dan warna dengan repetisi objek lebah yang membentuk konfigurasi koloni dalam karya-karya Kabul yang lain, ia juga menghadirkan objek-objek yang bersifat representasional, dalam artian setiap objek maupun figur yang dihadirkan dapat dikenali sebagai representasi atas imaji tertentu. Hal ini misalnya terlihat pada karya Menuju Gunung Putih (2026), Old Town Mountains (2025), Energi Naga Putih (2026), Energi 2 Naga (2026), Intropeksi Diri (2026), serta Elu & Lesung (2025). Gunung, lanskap, tubuh manusia, naga, hingga benda keseharian hadir sebagai bentuk yang masih dapat dikenali, kemudian dipertemukan dengan karakter visual yang telah lama menjadi bagian penting dalam karya Kabul, yakni repetisi lebah dan permainan garis. Dalam Menuju Gunung Putih, sebuah gunung putih ditempatkan sebagai pusat orientasi di tengah bentang yang dipenuhi ribuan lebah, sementara bidang biru yang terbuka membentuk jalur visual menuju gunung tersebut. Pada Intropeksi Diri, tubuh telanjang yang duduk membelakangi pengamat menjadi pusat komposisi, berhadapan dengan hamparan lebah yang memenuhi hampir seluruh latar. Kepadatan repetisi tersebut menciptakan kontras dengan tubuh tunggal yang diam sehingga membangun suasana hening dan reflektif. Sementara Old Town Mountains membawa pembacaan ke wilayah yang lebih sosial. Karya ini menghadirkan refleksi kritis Kabul terhadap berbagai perubahan sosial yang berlangsung seiring dengan masifnya pembangunan. Gunung hadir sebagai simbol alam, sedangkan susunan garis, bidang persegi, dan bentuk-bentuk geometris di bagian kiri menyerupai deretan arsitektur modern yang perlahan memasuki lanskap. Dua struktur visual tersebut saling berhadapan dalam satu ruang, sementara kawanan lebah bergerak dan menyebar di antaranya. Lebah beserta habitatnya seakan berada di tengah perubahan lanskap yang berlangsung cepat, ketika ruang alam bersinggungan dan semakin terdesak oleh pertumbuhan bangunan serta perubahan lingkungan hidup.

Pertemuan dan sinergi antar daya muncul kembali melalui bahasa yang berbeda pada Energi Naga Putih, Energi 2 Naga, dan Elu & Lesung. Figur naga tidak dibangun sebagai bentuk yang statis dan terperinci, melainkan melalui sapuan putih, biru, dan merah yang bergerak melingkar. Pada Energi Naga Putih, tubuh naga membentuk pusaran besar yang mengitari ruang biru gelap di bagian tengah sehingga gerak sirkular menjadi struktur utama komposisi. Pola tersebut berkembang lebih kompleks dalam Energi 2 Naga, ketika dua naga berwarna merah dan biru saling berhadapan sekaligus bergerak mengikuti arah tubuh masing-masing, membentuk pusaran dua kekuatan yang saling merespons. Gagasan mengenai pertemuan dua energi memperoleh bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan agraris Bali dalam Elu & Lesung. Elu dan lesung merupakan perangkat tradisional untuk menumbuk padi, namun bagi Kabul keduanya membawa pemaknaan simbolik mengenai pertemuan energi maskulin dan feminin, lingga dan yoni. Elu yang memanjang bergerak memasuki rongga lesung, membentuk relasi visual yang tegas di tengah kepadatan koloni lebah dan arus garis yang mengelilinginya. Hubungan keduanya dibaca sebagai dua daya yang saling melengkapi dan bersinergi, sumber bagi penciptaan, kesuburan, dan kesejahteraan. Aktivitas yang berasal dari keseharian masyarakat agraris dengan demikian memperoleh lapisan simbolik yang menghubungkan kerja, pangan, reproduksi, dan keberlangsungan kehidupan.

Jika dibaca sebagai variasi gagasan, karya- karya tersebut memperlihatkan bagaimana Kabul menggunakan bentuk-bentuk representasional untuk memperluas kemungkinan pemaknaan bahasa visual lebah yang selama ini dikembangkannya. Gunung dapat menjadi orientasi sekaligus citra alam, tubuh yang duduk membawa pengalaman introspektif, naga mengartikulasikan daya dan pergerakan energi, elu dan lesung menghubungkan kehidupan agraris dengan prinsip penciptaan dan kesuburan, sedangkan arsitektur geometris dalam Old Town Mountains menandai perubahan ruang akibat pembangunan modern. Di antara seluruh objek tersebut, lebah tetap menjadi unsur yang menghubungkan karya-karya Kabul. Kehadirannya bekerja sebagai figur, massa, tekstur, medan, sekaligus ritme yang membangun ruang. Dari dekat setiap lebah masih dapat dikenali sebagai individu, tetapi ketika berjumlah ratusan hingga ribuan, tubuh-tubuh kecil tersebut melebur menjadi arus dan konfigurasi koloni. Posisi lebah pun berubah mengikuti konteks setiap karya: kadang menjadi penghuni lanskap, kadang mengitari figur, kadang hadir di antara dua energi, dan terkadang berada di tengah benturan antara habitat alam dan perubahan ruang hidup. Melalui pergeseran konteks inilah lebah berkembang menjadi kosa rupa yang lentur dalam praktik Kabul, sekaligus menjadi cara untuk membicarakan kehidupan kolektif, hubungan dengan alam, perubahan sosial, energi, kesuburan, dan keberlangsungan hidup.

Epilog

Pada akhirnya, Nectar Waggle memperlihatkan perjalanan I Ketut Suasana “Kabul” dalam mengolah lebah sebagai bahasa artistik yang terus berkembang. Lebah berpindah dari ikon menuju garis, dari individu menuju populasi, dari koloni menuju bidang dan abstraksi, lalu kembali berhadapan dengan gunung, tubuh manusia, naga, benda-benda agraris, dan perubahan lanskap. Di dalam pergerakan tersebut tersimpan berbagai lapisan gagasan mengenai kerja, kebersamaan, perjalanan, komunikasi, kesuburan, energi, perubahan sosial, hingga hubungan manusia dengan alam. Nectar dan waggle kemudian dapat dibaca melampaui metafora kehidupan lebah. Keduanya menjadi gambaran mengenai proses pencarian dan komunikasi yang terus berlangsung dalam perjalanan artistik Kabul. Seperti nektar yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dan waggle yang terus dilakukan untuk mengabarkan arah kepada koloni, lukisan-lukisan dalam pameran ini tumbuh dari akumulasi pengalaman, pengamatan, ingatan, dan kerja tangan yang berlangsung panjang.

Di tengah keragaman tersebut terdapat satu unsur yang terus bertahan, yakni garis. Hampir seluruh dunia lebah Kabul bermula dari garis. Tubuh, sayap, bulu, gerak kawanan, kepadatan koloni, hingga bidang-bidang yang mendekati abstraksi dibangun melalui guratan yang berulang. Karena itu, garis dalam karya Kabul tidak berhenti sebagai perangkat untuk membuat kontur. Ia menyimpan waktu dan kerja. Satu garis mungkin tampak sederhana, tetapi ribuan garis yang dikerjakan terus-menerus membentuk kompleksitas visual yang hanya mungkin dicapai melalui ketekunan. Pada titik tertentu, sulit memisahkan bentuk lebah dari proses pembentukannya. Tubuh lebah adalah garis, koloni adalah repetisi garis, sementara kepadatan lukisan merupakan akumulasi dari waktu yang dicurahkan untuk mengerjakan garis demi garis.

Kecenderungan tersebut menarik jika ditempatkan dalam lingkungan seni rupa Bali yang memiliki sejarah panjang dalam memperlakukan garis sebagai elemen penting pembentuk citra. Dalam konteks pengetahuan seni rupa Bali garis disebut sebagai cawi yang memegang posisi paling sentral sebagai penyelesaian akhir dalam sebuah karya. Dalam berbagai praktik seni lukis dan seni rupa tradisi Bali, garis hadir melalui ketelitian, pengulangan, kestabilan tangan, serta kesediaan untuk menekuni bagian-bagian kecil hingga membangun keseluruhan yang kompleks. Kompleksitas tidak selalu dicapai melalui satu gestur besar, tetapi melalui penumpukan detail yang dikerjakan secara tekun. Jejak cara bekerja semacam ini dapat dirasakan dalam praktik Kabul, meskipun bahasa visual yang dihasilkannya telah bergerak dalam medan seni kontemporer. Garis pada karya-karyanya dengan demikian memiliki hubungan dengan pengalaman visual dan keterampilan tangan yang tumbuh dari lingkungan kebudayaan tempat ia hidup.

Hubungan tersebut menjadi lebih nyata ketika melihat kehidupan Kabul di luar studio. Di samping menjalankan praktik personal sebagai seniman kontemporer, ia masih terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berada dalam ranah tradisi dan kehidupan sosial desa. Membuat topeng barong, mengukir bagian bangunan tradisional Bali, serta terlibat dalam aktivitas ngayah menempatkan keterampilan artistiknya di dalam ruang yang berbeda dari penciptaan karya personal. Dalam ruang ini, kerja artistik tidak selalu berangkat dari kebutuhan menyatakan individualitas seorang seniman. Tangan bekerja sebagai bagian dari kepentingan bersama, mengikuti kebutuhan upacara, lingkungan sosial, dan tradisi yang dijalankan secara kolektif. Ketekunan tangan yang hadir dalam lukisan Kabul, dalam konteks itu memiliki akar pengalaman yang konkret. Garis yang berulang di atas kanvas bersinggungan dengan kebiasaan mengukir, membentuk, menghias, dan mengerjakan detail dalam praktik tradisi yang terus ia jalani.

Pada titik inilah kehidupan koloni lebah menemukan tautan yang menarik dengan posisi Kabul sendiri. Lebah hidup sebagai individu yang bekerja di dalam struktur komunal, sementara Kabul menjalani dua ruang yang terus berkelindan: ruang penciptaan personal sebagai seniman dan ruang sosial ketika dirinya larut sebagai bagian dari masyarakat adat. Di studio ia memiliki kebebasan untuk membangun bahasa visual, melakukan eksplorasi, dan menyampaikan pandangan personalnya. Dalam kehidupan komunal ia dapat melepaskan sebagian posisi individual tersebut untuk bekerja bersama, ngayah, dan mengambil bagian dalam keberlangsungan tradisi. Dua keadaan itu tidak perlu ditempatkan sebagai pertentangan. Keduanya berlangsung pada orang yang sama dan saling membawa pengalaman dari satu ruang ke ruang lainnya.

Kabul dengan demikian memperlihatkan salah satu posisi yang menarik dari seniman Bali kontemporer hari ini. Individualitas artistik tumbuh berdampingan dengan keterikatan terhadap kehidupan komunal. Studio, galeri, banjar, ruang upacara, dan pekerjaan tradisi menjadi medan yang dapat dijalani secara bersamaan. Barangkali di sinilah metafora koloni dalam Nectar Waggle memperoleh gema yang paling dekat dengan kehidupan sang seniman sendiri. Seekor lebah memiliki tubuh dan tugasnya sendiri, tetapi keberadaannya selalu terhubung dengan kehidupan koloni. Kabul pun mengembangkan dunia artistiknya secara personal tanpa sepenuhnya melepaskan diri dari jaringan sosial yang membentuk kesehariannya. Dari pertemuan dua kesadaran tersebut, garis-garis yang memenuhi kanvasnya dapat dibaca sebagai jejak individual sekaligus ingatan atas kerja bersama: satu garis bertemu garis lainnya, satu tubuh bertemu tubuh lainnya, hingga perlahan membangun sebuah kehidupan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.(*)
Penulis, akademisi dan penulis senirupa.

Redaksi

Related post