Merawat Warisan Pemikiran yang Terpatri Dalam Simbol Siwanataraja

 Merawat Warisan Pemikiran yang Terpatri Dalam Simbol Siwanataraja

Oleh Kadek Suartaya
‎
Memasuki penyelenggaraan ke-48 pada tahun 2026 ini, Pesta Kesenian Bali (PKB) sesungguhnya tidak hanya merayakan keberlangsungan tradisi seni, tetapi juga merawat sebuah warisan pemikiran yang terpatri dalam simbol resminya, yakni Siwanataraja. Sayangnya, figur yang menjadi lambang PKB ini lebih sering dipahami sebagai ornamen visual daripada sebagai sumber filsafat penciptaan seni yang sangat kaya dan mendalam.

Kadek Suartaya

Dalam perspektif akademis, Siwanataraja merupakan representasi Dewa Siwa sebagai penari kosmis yang menggerakkan dinamika alam semesta. Tarian-Nya melambangkan siklus abadi kehidupan melalui konsep Pancakrtya, yaitu srsti (penciptaan), sthiti (pemeliharaan), samhara (peleburan), tirobhava (pengaburan), dan anugraha (anugerah). Kelima aktivitas tersebut bukan sekadar ajaran teologis, melainkan paradigma kreatif yang sangat relevan bagi proses berkesenian. Setiap karya seni lahir melalui penciptaan gagasan, dipelihara melalui proses penggarapan, dilebur melalui evaluasi, disempurnakan melalui perenungan, dan akhirnya dipersembahkan sebagai anugerah bagi masyarakat.
‎
‎Lingkaran api yang mengitari tubuh Siwanataraja melambangkan energi kosmis yang tidak pernah berhenti bergerak. Dalam konteks seni, simbol ini mengingatkan bahwa kebudayaan tidak boleh membeku dalam romantisme masa lalu, melainkan harus terus bertransformasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Kaki yang menginjak raksasa Muyalaka menandakan kemenangan pengetahuan atas kebodohan, sebuah pesan penting bagi seniman agar selalu menjadikan kreativitas sebagai sarana pencerahan.
‎
‎Lebih jauh, Siwanataraja merupakan pengejawantahan falsafah estetika Hindu Bali: “Satyam, Siwam, Sundaram”. Kebenaran menjadi dasar gagasan, kesucian menjadi landasan niat, dan keindahan menjadi wujud ekspresi. Karena itu, seni Bali idealnya tidak hanya mengejar kemegahan visual, tetapi juga mengandung kedalaman makna dan nilai spiritual.
‎
‎Pada usia ke-48, PKB patut menjadikan Siwanataraja bukan sekadar logo perayaan, melainkan sumber inspirasi penciptaan. Ketika seniman Bali mampu membaca kembali simbol ini sebagai manifestasi gerak kosmis kehidupan, maka setiap tari, tabuh, sastra, dan karya rupa yang lahir akan menjadi tarian semesta yang menyatukan kreativitas, spiritualitas, dan peradaban. (*)
‎
‎Penulis, pengamat budaya dan praktisi seni
‎

Redaksi

Related post