Perayaan Akhir Tahun di Tengah Cuaca Ekstrem, Kuta Selatan Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan

 Perayaan Akhir Tahun di Tengah Cuaca Ekstrem, Kuta Selatan Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Suasana rapat koordinasi lintas sektor di Kantor Kecamatan Kuta Selatan, Senin 15 Desember 2025. 

MANGUPURA – baliprawara.com
Lonjakan kunjungan wisatawan saat libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) harus diiringi dengan kesiapan maksimal, khususnya dalam menghadapi potensi bencana seperti banjir, angin kencang, maupun gangguan lingkungan lainnya. Hal itu menjadi perhatian serius mengingat musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.

Tentunya kondisi cuaca yang tidak menentu dinilai berpotensi memengaruhi kelancaran aktivitas masyarakat maupun sektor pariwisata yang biasanya mengalami peningkatan signifikan pada akhir tahun. Upaya antisipasi pun terus dimatangkan agar kenyamanan dan keamanan wisatawan serta masyarakat tetap terjaga.

Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta, mengatakan, kesiapsiagaan jelang Nataru merupakan agenda rutin tahunan. Namun, tantangan tahun ini dinilai berbeda karena faktor cuaca ekstrem yang berpotensi muncul sewaktu-waktu dan dapat berdampak langsung pada aktivitas pariwisata serta mobilitas masyarakat.

Ketut Gede Arta menyampaikan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan tidak boleh dibarengi dengan munculnya gangguan lingkungan yang justru merugikan citra pariwisata. Ia menekankan pentingnya langkah antisipatif agar situasi tetap kondusif selama periode libur akhir tahun.

“Siaga Nataru sudah rutin kami lakukan setiap tahun. Tantangan tahun ini adalah cuaca. Jangan sampai kunjungan wisatawan meningkat, tetapi di sisi lain ada potensi gangguan seperti banjir yang justru berdampak pada pariwisata,” katanya usai rapat koordinasi lintas sektor yang berlangsung di Kantor Kecamatan Kuta Selatan pada Senin 15 Desember 2025.

Menghadapi potensi cuaca ekstrem, Pemerintah Kecamatan Kuta Selatan menaruh perhatian besar pada upaya mitigasi bencana. Salah satu langkah yang terus ditekankan adalah menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air dan area publik yang rawan tersumbat sampah saat musim hujan.

Menurut Gede Arta, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menjaga lingkungan. Gotong royong dan kepedulian terhadap kebersihan dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya banjir maupun genangan air yang dapat mengganggu aktivitas warga dan wisatawan.

See also  Prodi MKN FH Unud Gelar Bakti Sosial di Kelurahan Kawan, Bangli

Selain itu, kesiapsiagaan bencana juga dilakukan dengan mengaktifkan posko siaga di tingkat desa dan kelurahan. Posko tersebut telah disiapkan sejak beberapa hari sebelumnya dan dipastikan tetap beroperasi selama masa libur Nataru agar respons penanganan dapat dilakukan dengan cepat apabila terjadi kondisi darurat.

“Kami tetap melakukan mitigasi dan siaga bencana meskipun suasana liburan. Posko siaga sudah kami siapkan agar respons bisa cepat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Dalam rangka memantapkan persiapan pengamanan Nataru, Pemerintah Kecamatan Kuta Selatan menggelar Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Dinas Perhubungan, Puskesmas Kuta Selatan, APJATEL, KUB, Polsek Kuta Selatan, serta Koramil. Koordinasi ini bertujuan untuk menyatukan langkah dan memastikan setiap sektor siap menjalankan tugasnya masing-masing selama periode Nataru.

Salah satu hasil rapat koordinasi tersebut adalah penetapan pendirian Posko Nataru oleh Polsek Kuta Selatan. Posko ini direncanakan berlokasi di Simpang KFC dan akan mulai beroperasi pada 20 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Posko tersebut diharapkan menjadi pusat koordinasi pengamanan serta pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan.

Selain fokus pada mitigasi bencana, Pemerintah Kecamatan Kuta Selatan juga mengantisipasi potensi gangguan lalu lintas selama periode akhir tahun. Hal ini seiring dengan adanya sejumlah kegiatan perayaan dan event yang dijadwalkan berlangsung di wilayah Kuta Selatan.

Beberapa agenda yang menjadi perhatian antara lain Pandawa Festival yang rencananya digelar mulai 25 Desember, serta berbagai kegiatan lain di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Desa Ungasan. Kehadiran event-event tersebut diperkirakan akan menarik banyak pengunjung dan berpotensi menimbulkan kepadatan arus kendaraan.

Untuk itu, koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan agar pengaturan lalu lintas dapat berjalan optimal. Salah satu langkah yang diambil adalah memastikan badan jalan tidak digunakan sebagai area parkir liar yang dapat menghambat kelancaran arus kendaraan dan memicu kemacetan.

See also  Jawab Pandangan Fraksi soal Raperda Perubahan APBD Bali 2025, Gubernur Koster Prioritas Program Kepentingan Publik

Dalam rapat koordinasi tersebut, perwakilan masyarakat juga menyampaikan sejumlah masukan terkait potensi gangguan keamanan, seperti aksi trek-trekan dan penggunaan kembang api yang berlebihan. Hal ini menjadi perhatian bersama agar perayaan Tahun Baru dapat berlangsung tertib dan aman.

Gede Arta menyampaikan bahwa penggunaan kembang api diharapkan dapat dibatasi dan diarahkan hanya untuk kegiatan yang menunjang pariwisata. Pembatasan ini juga mempertimbangkan situasi kebencanaan yang tengah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
“Seperti tahun lalu, kami harapkan penyalaan kembang api bisa diminimalisir. Mengingat situasi bencana di Nusantara, kita perlu saling merasakan dan menjaga empati,” jelasnya.

Selain aspek keamanan dan kebencanaan, masukan dari masyarakat terkait kebersihan, utilitas, serta sarana dan prasarana juga menjadi perhatian dalam pengamanan Nataru. APJATEL turut menyampaikan kesiapan terkait utilitas jaringan agar layanan komunikasi tetap berjalan lancar selama perayaan Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah Kecamatan Kuta Selatan berharap seluruh rangkaian ibadah Natal dapat berlangsung dengan khidmat, kondisi cuaca tetap bersahabat, serta aktivitas pariwisata berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Dengan koordinasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat, diharapkan perayaan Nataru di Kuta Selatan dapat berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi semua pihak.
“Harapan kami, Nataru berjalan baik dan aman. Euforianya tidak berlebihan, sederhana namun tetap bermakna,” tutup Gede Arta. (MBP)

 

redaksi

Related post