Perupa Santrayana Ingatkan Jaga Alam lewat Karya “Ibu” dan “Raja tanpa Hutan”
Santrayana bersama Ny. Putri Suastini Koster.
SANUR – baliprawara.com
Alam bagi para lelangit Bali diibaratkan sebagai sosok “ibu” yang mesti dimuliakan, dijaga dan dilestarikan. Dengan menjaga kelestariannya, alam akan melindungi dan memberi nafas bagi kehidupan. Tetapi belakangan, kasus “pemerkosaan” dan ekspolitasi alam secara membabi buta kerapkali terjadi. Dampaknya, sudah sering ditunjukkan oleh alam itu sendiri. Banjir bandang dan tanah longsor terjadi di banyak tempat. Wilayah konservasi sebagai resapan air hujan, malah banyak dialihfungsikan untuk kepentingan pragmatis. Luasan hutan sebagai paru-paru alam, sudah banyak berkurang. Ketika hujan, hutan tak kuasa lagi menahan air. Tanah tempat bertumbuhnya pepohonan menjadi tak stabil, kemudian longsor. Karena banyak dibabat, hutan kehilangan habitat, satwa kehilangan tempat, dan karbon dioksida di atmosfer meningkat, memperparah pemanasan global.
Fenomena itulah yang digambarkan perupa I Wayan Santrayana dalam sejumlah karya seni lukisnya dalam pameran senirupa Kelompok Soko Guru bertajuk “Tutur Ayu” di Santrian Art Gallery Sanur, yang dibuka Ketua Dekrasnada Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Jumat 6 Maret 2026. Selain karya Santrayana, pameran lukisan tiga pensiunan guru senirupa di SMKN 1 Sukawati itu juga menyuguhkan karya I Ketut Marra dan I Gede Budiartha.
Lukisan perupa asal Cau Blayu Tabanan berjudul “Tragedi di Tanah Emas”, “Raja Tanpa Hutan”, “Ibu” dan “Yang Masih Tersisa” tersebut sangat jelas bertutur soal fenomena ekploitasi alam dan dampak yang ditimbulkan.
Dalam lukisan “Tragedi di Tanah Emas”, Santrayana mendeskripsikan bahwa manusia lupa dengan ketergantungannya kepada alam. Manusia dibutakan oleh kekuasaan, ketamakan, dan kerakusan sehingga terjadi pembabatan hutan. Akibatnya, tragedi banjir pun terjadi, yang banyak menelan korban jiwa dan materi.
Demikian juga dalam lukisannya bertitel “Raja Tanpa Hutan”, Santrayana menggambarkan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi alam. Hutan dibabat untuk kepentingan pragmatis, sehingga kehilangan habitat dan fungsi untuk melindungi manusia–meninggalkan sang raja hutan tanpa singgasana.
Kemudian dalam karyanya berjudul “Yang Masih Tersisa (Tarian Badut)”, Santrayana menggambarkan Badut serakah yang mengeksploitasi alam dalam arogansi. Mengikis habis sisa narasi.
Lewat karyanya berjudul “Ibu”, Santrayana berupaya mengingatkan agar alam yang disimbolisasikan sebagai seorang ibu mesti dilestarikan. Jangan justru diperkosa dan dilecehkan.
Selain bertutur ayu tentang pentingnya memuliakan alam, Santrayana juga memamerkan karya berjudul “Naga Banda”, yang menggambarkan sang jiwa kembali mencapai Sangkan Paraning Dumadi. Dalam konteks ini, manusia mesti mampu melepaskan segala keterikatan yang membelit fisik dan rohani, ketika waktunya pulang. Hanya karma baiklah, yang akan setia menemani. Tanpa harta, tahta, dan permata. Karena itu, selama masih hidup, hendaknya jangan sampai mengejar materi semata dengan cara merusak alam dan perbuatan tak terpuji.
Tak itu saja, Santrayana juga memamerkan karya “Gajah Mina”, sebuah mitologi, simbol teman perjalanan sang jiwa menuju nirwana.
Dalam karyanya berjudul “Ngelawang,” Santrayana juga menyampaikan tutur ayu tentang ritus menjaga keseimbangan. Ngelawang merupakan ritual simbolis pengembalian siklus energi mikrokosmos dengan makrokosmos, menuju kesatuan dan keseimbangan.
Dalam konteks mandala Pulau Dewata, lewat karyanya berjudul Kaisar Kambing, Santrayana mengingatkan agar manusia Bali selalu “ngeh” dan tak terjebak dalam pusaran kapitalis. Bak parodi tentang bagaimana Bali sebagai pulau surga, secara perlahan dikuasai para badut kapitalis berkedok investasi.
Melalui karya-karya yang dipamerkan itu sesungguhnya Santrayana ingin menyampaikan “Tutur Ayu” para lelangit Bali, bahwa menjaga hubungan harmonis dengan alam penting dilakukan. Dengan menjaga dan melestarikan alam, manusia pun akan dijaga oleh alam itu sendiri. Jika alam dirusak, alam tak akan bersahabat karib lagi dengan umat manusia. Lelangit Bali dengan konsep Tri Hita Karana, sudah jelas mengamanatkan hal itu.

Objek Deformatis
Sementara itu kurator pemeran, I Made Susanta Dwitanaya menyampaikan,
I Wayan Santrayana dikenal dengan karakter karya yang menampilkan figur dan objek yang deformatis. Kecenderungan ini telah hadir sejak awal kariernya sebagai perupa, berangkat dari pembacaan kritis terhadap problematika sosial dan budaya masyarakat Bali. Bentuk-bentuk terdeformasi menjadi bahasa visual yang khas, menghadirkan figur dan objek yang sarat ekspresi.
Tema-tema karyanya merepresentasikan budaya Bali, namun di baliknya terkandung pesan kritis dan reflektif mengenai relasi manusia dengan alam, dinamika sosial-budaya, hingga spiritualitas. Karya-karyanya berbicara tentang bagaimana manusia merawat ekologi, menghadapi perubahan sosial, serta merenungkan kondisi bangsa dan dunia. (MBP2)