Peserta Tunarungu Tampil Percaya Diri di Kartini Go Surf 2026, Tebar Semangat Inklusivitas di Pantai Kuta

 Peserta Tunarungu Tampil Percaya Diri di Kartini Go Surf 2026, Tebar Semangat Inklusivitas di Pantai Kuta

Peserta Kartini Go Surf yang merupakan tunarungu, tampil percaya diri, Minggu 19 April 2026.

MANGUPURA – baliprawara.com
Suasana berbeda terlihat di pesisir Pantai Kuta saat puluhan perempuan mengenakan kebaya, ikut ambil bagian dalam ajang Kartini Go Surf 2026. Kegiatan tahunan ini kembali digelar untuk memperingati semangat emansipasi perempuan yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.

Para peserta tampil mencolok dengan kebaya berwarna-warni saat menaklukkan ombak. Pemandangan ini menghadirkan nuansa unik, mengingat olahraga selancar identik dengan busana modern seperti bikini atau boardshort.

Tak hanya soal busana, kegiatan ini juga membawa pesan kuat tentang inklusivitas. Dari sekitar 20 peserta perempuan yang ikut serta, enam di antaranya merupakan penyandang disabilitas tunarungu.

Peserta Kartini Go Surf 2026, berfoto bersama sebelum tampil.

Penggagas kegiatan Kartini Go Surf, Bagus Made Irawan yang akrab disapa Piping, menjelaskan bahwa ide berselancar menggunakan kebaya lahir dari keinginan menghadirkan sesuatu yang berbeda di dunia surfing.

Ia menyebutkan bahwa penggunaan kebaya menjadi simbol kebanggaan terhadap budaya Indonesia, sekaligus penghormatan terhadap semangat Kartini. “Kalau surfing pakai bikini atau boardshort itu sudah biasa. Kita bangsa Indonesia harus bangga dengan Kartini,” ujarnya di sela kegiatan.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 dan terus mendapatkan respons positif hingga kini. Tahun 2026 menjadi penyelenggaraan ke-12 sejak pertama kali digelar di Pantai Kuta.

Menurut Piping, kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi perempuan, tetapi juga menjadi pengingat bagi laki-laki tentang pentingnya peran perempuan dalam kehidupan. “Kita tidak pernah ada tanpa Kartini kita. Ini bentuk terima kasih saya kepada ibu saya dan semua perempuan,” katanya.

Kartini Go Surf dirancang sebagai kegiatan yang inklusif dan terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batasan bagi peserta, baik dari segi kemampuan maupun latar belakang.
Piping menegaskan bahwa siapapun yang mampu berdiri di atas papan selancar dapat ikut berpartisipasi. “Selama bisa berdiri di atas papan, silakan ikut. Kalau merasa terpanggil sebagai Kartini, join saja,” tambahnya.

See also  Ganggu Ketertiban dan Langgar Prokes Tempat Bilyard di Jl Bung Tomo Ditertibkan Satpol-PP

Ia juga menekankan bahwa berselancar menggunakan kebaya bukanlah hambatan, melainkan tantangan yang justru memberikan kebanggaan tersendiri bagi peserta. “Kalau tidak pernah mencoba sesuatu yang dianggap sulit, ya tidak akan pernah terjadi,” tegasnya.

Ketua Yayasan Corti Bali, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menegaskan bahwa Kartini Go Surf bukan sekadar atraksi atau kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk nyata perayaan martabat perempuan sekaligus wujud emansipasi yang sejalan dengan semangat Kartini.

Ia menyampaikan bahwa jumlah peserta tahun ini mencapai lebih dari 20 orang, termasuk enam remaja putri tunarungu yang ikut berpartisipasi. “Ini adalah wujud nyata inklusivitas. Kita mendobrak stigma keterbatasan fisik dan batasan terhadap kemampuan perempuan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesetaraan bukan soal belas kasihan, melainkan tentang memberikan akses dan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berprestasi.

Dalam pelaksanaannya, panitia juga memastikan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas, termasuk dengan menyediakan sistem komunikasi visual dan rambu-rambu khusus di laut untuk mendukung peserta tunarungu.

Salah satu peserta tunarungu, Ayu Intan Melisa Maharani, turut membagikan pengalamannya mengikuti kegiatan ini.
Ia mengaku bahwa Kartini Go Surf 2026 menjadi partisipasi ketiganya dalam ajang tersebut. Selama mengikuti kegiatan, ia tidak mengalami kendala berarti meskipun harus berselancar menggunakan kebaya.

Ayu mulai belajar surfing sejak tahun 2022, didorong oleh minat dan hobi yang ia miliki. Ia juga menyebutkan bahwa teman-temannya memiliki ketertarikan yang sama terhadap olahraga ini. Melalui momentum Hari Kartini, ia berharap semakin banyak orang yang mendukung semangat perempuan untuk terus berkembang, termasuk melalui olahraga selancar.

Ketua Umum Pengprov Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Bali, Nyoman Graha Wicaksana, turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menilai Kartini Go Surf menjadi ajang yang efektif untuk memperkenalkan olahraga surfing kepada generasi muda, terutama dengan konsep yang unik dan kental dengan budaya lokal.

See also  Pentas Seni Sanggar Mahayana Kolaborasi Pelepasan Mahasiswa KKN Unud

Menurutnya, surfing merupakan salah satu olahraga favorit di kawasan pantai dan memiliki potensi besar untuk melahirkan prestasi. Ia mencontohkan bahwa atlet Bali berhasil meraih medali perak dan perunggu dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Aceh. Dengan adanya kegiatan seperti Kartini Go Surf, diharapkan dapat menjadi wadah untuk meningkatkan minat serta mengembangkan potensi anak muda di bidang olahraga selancar.

Kartini Go Surf 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga simbol kuat tentang kesetaraan, keberanian, dan semangat perempuan dalam menghadapi tantangan.

Kehadiran peserta tunarungu dalam kegiatan ini mempertegas bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi dan tampil percaya diri. (MBP)

 

prawarautama

Related post