Puluhan Seller dan Buyer Bertemu di 2nd Indonesia Wedding Congress 2025, Target Transaksi Mencapai Rp 60 Miliar
Sesi B2B, 2nd Indonesia Wedding Congress 2025, di The Westin, Nusa Dua, Rabu 3 Desember 2025.
MANGUPURA – baliprawara.com
Gelaran 2nd Indonesia Wedding Congress 2025 kembali memperlihatkan antusiasme tinggi dari para pelaku industri pernikahan di Tanah Air. Acara yang berlangsung di The Westin, Nusa Dua, pada Rabu 3 Desember 2025 ini dihadiri oleh 30 seller dari berbagai resort dan hotel di Bali, serta 40 buyer yang terdiri dari Wedding Organizer dan wedding planner dari 15 kota di Indonesia.
Pertemuan tersebut menjadi wadah strategis bagi para pelaku usaha untuk memperkuat kolaborasi sekaligus membuka peluang transaksi yang lebih besar. Selain menjadi ruang bertemunya para pelaku industri wedding, agenda ini juga menyediakan sesi knowledge learning yang menyoroti perkembangan serta tren terbaru dalam industri pernikahan di Bali.
Ketua Bali Wedding Association (BWA), Veronika Prawasti, menyampaikan bahwa asosiasi mengapresiasi terselenggaranya kembali Indonesia Wedding Congress di tahun 2025. Ia menegaskan bahwa acara ini memiliki arti penting untuk memperkenalkan lebih banyak destinasi wedding dan memperkuat posisi Bali maupun Indonesia di mata internasional.
Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia Wedding Congress 2025 mengusung tema “Redefining Luxury Weddings In A Global Era”. Tema tersebut menggambarkan upaya bersama untuk mengangkat profesionalisme industri wedding agar dapat bersaing di tingkat global, sejalan dengan perkembangan dunia pernikahan yang terus bergerak dinamis dan semakin kompetitif.
CEO Raja Mice, Panca Rydolf Sarungu, menjelaskan bahwa ajang ini menjadi momentum untuk menguatkan citra Bali sebagai destinasi utama wedding di dunia. Ia menyebut bahwa selama ini Bali memang sudah dikenal luas sebagai pulau terbaik untuk wedding, mengungguli destinasi populer lainnya seperti Phuket di Thailand dan Langkawi di Malaysia.
Panca menambahkan bahwa meskipun dari sisi jumlah wisatawan Bali kalah dari kedua destinasi tersebut, namun untuk urusan wedding Bali tetap menjadi pilihan utama pasangan dari berbagai negara.
Dalam kesempatan yang sama, Panca mengatakan bahwa acara ini dirancang sebagai pertemuan Business to Business (B2B) yang memungkinkan para pelaku usaha untuk saling bertukar informasi, memperluas jaringan, dan menciptakan peluang bisnis baru. “Industri wedding di Bali terus tumbuh, terlihat dari meningkatnya jumlah wedding planner serta wisatawan yang datang khusus untuk melangsungkan pernikahan,” ucapnya.
Dengan kehadiran 30 seller dan 40 buyer, pihak penyelenggara menargetkan ada 1.200 pertemuan bisnis selama agenda berlangsung. “Dari pertemuan tersebut, ditargetkan nilai transaksi mencapai minimal Rp 60 miliar,” katanya.
Selain sesi B2B, acara ini juga menghadirkan rangkaian sesi berbagi pengetahuan yang dipandu oleh para pelaku industri pernikahan dan pariwisata. Panca turut menuturkan bahwa sektor wedding saat ini telah berkembang menjadi industri mandiri yang memiliki potensi ekonomi sangat besar, tidak lagi hanya tergolong sebagai bagian dari sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
Dukungan bagi penyelenggaraan IWC 2025 juga datang dari Pemerintah Provinsi Bali. Ketua Tim Kerja Promosi Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Ermi Hendriani, menegaskan bahwa pemerintah daerah merasakan dampak positif dari adanya acara berbasis wedding seperti ini. Menurutnya, terselenggaranya acara ini untuk kedua kalinya menjadi bukti bahwa industri wedding di Bali semakin berkembang.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah siap mendukung dengan memperkuat berbagai destinasi yang berpotensi menjadi lokasi pernikahan. Upaya tersebut meliputi dorongan untuk meningkatkan kualitas destinasi wisata agar dapat menarik lebih banyak pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan di Bali.
Ketua Umum Hastana Indonesia, Yunarsih, menyebutkan bahwa kehadiran para pelaku industri wedding dari berbagai daerah menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pengembangan sektor ini. Peserta yang hadir berasal dari sejumlah daerah seperti Sumatra Selatan, Lampung, dan wilayah lainnya.
Yunarsih menjelaskan bahwa Hastana Indonesia, dengan sekitar 200 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri wedding, tidak hanya di Bali tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Ia berharap jumlah seller yang berpartisipasi di masa mendatang tidak hanya didominasi oleh pelaku usaha dari Bali, sehingga jaringan dan nilai transaksi dapat berkembang lebih luas. (MBP)