Putra Art Studio Singapadu Sediakan Patung dan Palinggih Klasik Nan Estetik

 Putra Art Studio Singapadu Sediakan Patung dan Palinggih Klasik Nan Estetik

Dewa Soma Wijaya, pemilik Putra Art Studio, saat mewarnai patung.

SINGAPADU – baliprawara.com

JIKA bertandang ke Putra Art Studio di bilangan Banjar Negari, Singapadu, Sukawati, Gianyar, Anda akan terkesima dengan berbagai karya patung klasik dan palinggih antik, produksi seniman studio seni ini.
Memang, Putra Art Studio milik seniman I Dewa Gede Soma Wijaya, S.Sn. ini sejak lama telah menyediakan karya seni patung dan bangunan palinggih berbahan batu padas.

Berbagai karya patung tersedia di sana, mulai dari patung penari Janger, patung Singa, patung Dewata, hingga patung untuk kepentingan ritus di Pura. Tak itu saja, Putra Art Studio juga menyediakan berbagai ornamen klasik.
Mendapat sentuhan senirupa murni, pewarnaan klasik nan apik, patung-patung produksi seniman Putra Art Studio tampak berkarakter dan metaksu.
Soal harga, tentu disesuaikan dengan kualitas, ukuran dan tingkat kerumitan pembuatannya.

Patung estetik produksi Putra Art Studio.

Sosok Pemilik Putra Art Studio

Mau tahu lebih jauh sosok pemilik Putra Art Studio dan kiprahnya dalam berkarya?
I Dewa Gede Soma Wijaya, S.Sn. lahir di Banjar Negari, Singapadu, 21 Maret 1972. Ia sudah menekuni patung dan seni lukis sejak usia muda. Bagi Soma Wijaya, melukis dan mematung, sama pentingnya.
Dibimbing pematung Bapak Wayan Ribek, Dewa Soma Wijaya makin menguasai seni patung.

Bakat seni Dewa Soma tumbuh subur tak terlepas dari pengaruh lingkungan Desa Singapadu, tempatnya lahir, tumbuh dan berkembang. Kita tahu, masyarakat desa ini sebagian besar menekuni bidang seni.

Berbekal kemampuan membuat patung dan seni lukis sejak kecil, Dewa Soma Wijaya Kemudian mengasah talenta seninya di SMIK Batubulan. Empat tahun belajar di sekolah tersebut, prestasi akademik Dewa Soma Wijaya lumayan baik. Maka bersama dua temannya, Dewa Soma Wijaya mendapat ‘’tiket’’ PMDK untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Oleh gurunya, Dewa Soma diarahkan untuk kuliah seni di ISI Yogyakarta. Namun, karena kurang mendapat restu dari sang ibu, Dewa Soma akhirnya kuliah di FSSRD Unud, mengambil jurusan senirupa murni.

See also  BEM FKH Unud gelar Animal Feeding di Sangeh

Di FSSRD, prestasi akademiknya juga lumayan tinggi. Sebagai salah satu lulusan terbaik, Dewa Soma Wijaya diberi kesempatan menjadi asisten dosen. Namun karena kurang tertarik menjadi dosen, Soma Wijaya memilih pulang kampung setelah bertahan tiga tahun sebagai asisten dosen. Di kampung halamannya, Soma Wijaya menekuni seni lukis.

Beralih ke Patung

Tahun 2000, Dewa Soma Wijaya menikah. Ketika menjalani kehidupan berumah tangga, Dewa Soma mulai merasakan kesulitan biaya hidup. Sebab, hasil dari melukis dirasa kurang mencukupi. Akhirnya Soma Wijaya kembali menekuni seni patung dengan harapan hasil karyanya diapresiasi pecinta seni.
Ketika itu ia mengaku banyak mendapat motivasi dari Bapak Wayan Muja, pematung asal Singapadu. Dewa Soma Wijaya pun makin semangat menekuni seni patung. Ia tetap yakin, suatu saat karya patungnya akan mendapat apresiasi dari masyarakat. Benar adanya, karyanya mulai dilirik pecinta seni, terlebih setelah seorang bule Belanda menyuruhnya membuat patung klasik dengan figur penari Janger. Dari situlah karya-karyanya mendapat apresiasi lebih luas dari masyarakat.

Selain dikoleksi para pecinta seni, sejumlah karya patung Dewa Soma Wijaya difungsikan sebagai sungsungan umat di Pura. Seperti di Griya Perak Pemogan dan Pura Ulun Danu Batur, Bangli. Di Pura Griya Perak, karya patung Dewa Soma Wijaya berupa Dewi Kwan Im dan Patung Ratu Niyang. Sedangkan di Pura Ulun Danu Batur, Karya Dewa Soma berupa patung pemujaan. Terakhir Dewa Soma dipercaya membuat patung Dewi Danu setinggi satu setengah meter untuk distanakan di Pelinggih Gedong Pura Segara Batur.

Palinggih klasik karya Putra Art Studio Singapadu.

Penghargaan Seni

Dalam kiprahnya berkesenian, Dewa Soma Wijaya mendapat Award dari Kedutaan Peru dan Award The Philip Morris pada Tahun 1995. Dewa Soma tercatat pernah meraih juara I lomba seni lukis cat air dalam Pameran HMJS di Museum Sidik Jari, Denpasar Tahun 1996 dan Juara III Lomba Lukis Pantai Remaja Indonesia Tahun 1997.

See also  TPA Suwung Ditutup, Masyarakat Diingatkan Kembali Pilah Sampah

Dewa Soma Wijaya juga sering ikut pameran lukisan maupun patung. Baik di Bali maupun luar Bali. Bahkan, pada saat Pandemi Covid-19, ia bersama Komunitas Perupa Galang Kangin Dua Kali Pameran Karya.

Apresiasi Seniman

Kekaryaan senirupa Dewa Soma Wijaya mendapat apresiasi dari seniman yang Ketua Kelompok Galang Kangin, I Made Galung Wiratmaja, S.Sn.
Menurut Galung, sejak saat mahasiswa di FSSRD Unud, Dewa Soma Wijaya sudah sangat aktif berkarya.
Dewa Soma yang juga salah satu pendiri Komunitas Galang Kangin, awalnya dikenal sebagai pelukis, kemudian dalam perkembangannya menekuni seni patung. Patung yang dihasilkan sangat spesifik, ada sentuhan seni murni, sehingga memiliki karakter tersendiri.

Sementara itu I Gusti Ayu Budi Ningsih, istri Dewa Soma Wijaya juga sangat mendukung kiprahnya berkesenian. Ia sangat mensupport aktivitas berkesenian Dewa Soma Wijaya dan berharap selalu sehat dan mampu menghasilkan karya-karya terbaik. (MBP2)

Redaksi

Related post