Rekonstruksi untuk Regenerasi, Bangkitnya Drama Gong Lawas Banyuning
Penampilan sanggar seni Nong Nong Kling, pada drama gong lawas Banyuning di PKB ke-47.
DENPASAR – baliprawara.com
Suasana kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, terlihat berbeda, Kamis 3 Juli 2025. Panggung yang biasanya hanya dihias ornamen sederhana, hari itu disulap dengan properti dan dekorasi khas. Semua properti ini merupakan sarana untuk pementasan dari sanggar seni Nong Nong Kling, Kelurahan Banyuning, Buleleng, yang tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47.
Pada kesempatan tersebut, sanggar yang dipimpin I Nyoman Suardika, tampil membawakan rekonstruksi Drama Gong lawas versi Banyuning, Kabupaten Buleleng di pesta seni tahunan terbesar di Bali ini.
Tentu kehadiran Drama Gong Lawas versi Banyuning ini, sudah sangat ditunggu-tunggu para pecinta drama gong. Tampil membawakan lakon berjudul “Sampik Ingtai”, sanggar ini hadir menjadi pengobat rindu bagi penggemar drama gong. Pasalnya drama gong Banyuning, merupakan drama gong yang sangat populer sejak tahun 70-an hingga akhirnya meredup. Bahkan, dimasa itu, Banyuning menjadi salah satu kelompok Drama Gong yang paling menonjol di wilayah Bali utara, khususnya di Buleleng.
Nyoman Suardika, yang sering disapa Mang Evo mengungkapkan, sebenarnya cerita lakon Sampik Ingtai ini dipopulerkan oleh sanggar Puspa Anom di bawah kepemimpinan almarhum Wayan Sujana (Jedur) sejak tahun 70-an. Yang mana drama gong yang dibawakan sanggar Puspa Anom ini dulunya cukup terkenal tidak hanya di Bali namun juga hingga ke Lombok. Namun, lambat laun karena beberapa penari ada yang sudah meninggal, ada yang sudah tua, dan ada yang sakit, akhirnya drama gong ini meredup dan mati suri.
Namun, dirinya sebagai generasi penerus, melalui sanggar seni Nong Nong Kling, berusaha untuk kembali menghidupkan dan melestarikan drama gong versi Banyuning ini. Upaya itu dilakukan dengan setiap tahun tetap menggelar pementasan drama gong dalam setiap piodalan di pura Gede Pemayun.
Tak hanya itu, pelestarian drama gong Banyuning ini terus dilakukan dengan pentas di sejumlah wilayah seperti di Karangasem dan beberapa wilayah. Meski kata dia, pementasan hanya untuk kegiatan upacara tertentu, namun menurutnya ini menjadi langkah untuk tetap mempertahankan dan melestarikan keberadaan drama gong tersebut. “Sekarang Puspa Anom sudah tidak ada. Kami-lah regenerasi dari Puspa Anom, dan kebetulan semua penari-penari dari Nong Nong Kling adalah anak, cucu, keponakan dari personel puspa anom itu sendiri,” ucapnya.
Rekonstruksi Drama Gong Banyuning ini kata dia, dilakukan karena memang penunjukkan dari dinas kebudayaan provinsi Bali, dengan tujuan untuk melestarikan drama gong lawas dan meregenerasi. Sedangkan lakon Sampik Ingtai yang diangkat, karena cerita itu sudah sangat dikenal. Yang menjadi pembeda dari drama gong Banyuning dengan yang lain adalah dari properti dan dekorasi yang digunakan, khusus sebagai pakem dari drama gong Banyuning.
Yang tetap dipertahankan dari drama gong ini adalah mempertahankan pakem pakem yang sudah ditentukan. Ini juga menjadi keinginan dari pemprov bali untuk melestarikan warisan leluhur dengan pakem-pakemnya.
Adapun pakem yang juga masih dipertahankan adalah, dimana pada saat adegan sedih, tidak boleh ada unsur lucu yang ditampilkan. Begitu juga pada saat adegan tegang ya harus juga tegang, pada saat punakawan melawak ya harus ngelawak.
Pada pementasan rekonstruksi ini, ada sebanyak 4 sesepuh dari Puspa Anom yang dilibatkan. Diantaranya, Nengah Wijana, Ketut Weker, Komang Putriasih (mantan pemeran putri di Puspa Anom), Luh Sasi (mantan penyeroan dari puspa anom). Sedangkan, yang main dari generasi muda adalah ada dari anaknya, cucunya termasuk sekaa gong nya.
Dalam menyatukan pemain sesepuh dengan yang muda, memang diakui ada sedikit kendala. Mengingat untuk pemain muda biasanya bermain drama dengan naskah. Sedangkan untuk sesepuh biasanya bermain dengan improvisasi tanpa naskah. Dengan kondisi pemain yang sudah sepuh, ada yang daya ingatnya sudah menurun. Disanalah perlu kesabaran untuk berusaha mengembalikan memori masa lalu dalam berkesenian, sehingga para pemain sepuh bisa mengimbangi pemain anak-anak muda. “Ini adalah menghubungkan antara naskah dengan iprovisasi,” ucapnya.
Pihaknya berharap kepada pemerintah agar Drama Gong bisa tetap ditampilkan di PKB. Termasuk juga di masing-masing kabupaten juga diharapkan bisa ditampilkan. Selain itu juga dalam setiap sosialisasi juga agar dapat dilibatkan dan ditampilkan.
Karena selama ini banyak generasi muda yang tertarik untuk bermain drama gong. Selama ini mereka hanya sampai berlatih saja, namun tidak pernah tampil. Tentu hal itulah yang mengakibatkan keengganan untuk gabung dalam drama gong.
Salah seorang pemain sepuh, Ketut Weker (76) mengungkapkan, perjalanan drama gong Puspa Anom di tahun 70-an sangat populer di masyarakat. Bahkan dirinya bersama Puspa Anom saat itu, bisa sampai 2 minggu berada di luar daerah.
“Bisa sampai 2 minggu di luar daerah, tidak pulang. Kita ke Karangasem, Negara, Tabanan, dan terakhir tampil di Melaya Jembrana di tahun 2000an,” kenangnya.
Lebih lanjut pria yang memulai bermain drama sejak usia 19 tahun ini mengatakan, saat sanggar Puspa Anom masih aktif, pementasan drama gong menjadi daya tarik tersendiri sebagai hiburan. Ketika itu antusias penonton sangat bagus, bahkan sampai menghayati alur cerita hingga ikut “terhanyut” di dalamnya.
Setelah beberapa pemainnya meninggal, drama gong Banyuning mulai redup. Meski sempat redup, dengan adanya sanggar Nong Nong Kling, drama gong ini mulai dibangkitkan kembali.
Pada kesempatan sama, pemeran Ingtai, Luh Made Tia Kusmira Dewi mengaku sangat bangga bisa turut serta dalam pementasan drama gong rekonstruksi Puspa Anom dan Nong Nong Kling ini. Sebagai generasi muda, ia juga merasa sangat bangga bisa ikut melestarikan drama gong ini.
Meski selama latihan sempat menemui kendala karena harus bisa beradaptasi dengan pemain sepuh. Namun kata dia hal itu bisa diatasi dengan baik.
“Harapan ke depan, semoga banyak lagi drama gong, atau banyak yang mau melestarikan Drama Gong ini. Semoga kedepan drama gong bisa dikenal lagi terutama di kalangan anak muda,” harapnya.
Ketua Sekaa Drama Gong Lawas, Anak Agung Gede Oka Aryana, menyampaikan kalau rekonstruksi ini sebagai salah satu upaya pemerintah dalam melestarikan budaya Bali. Karena seperti diketahui bersama untuk drama Gong belakangan ini sempat mati suri akibat tergerus jaman, apalagi dengan adanya media sosial. Namun saat ini ia melihat bahwa ini merupakan era kebangkitan dari drama gong.
Untuk drama gong lawas Banyuning yang kembali dipentaskan, ia merasa bangga. Apalagi drama gong Banyuning ini memiliki ciri khas di Bali Utara. Selain itu ciri khas cerita sampik ingtai maupun cerita pan balang tamak, juga merupakan cerita yang sangat populer di masanya. Tentu hal itu harus dipertahankan. “Saya berharap kepada generasi muda yang ada di Singaraja agar bisa melanjutkan untuk pelestarian dram.agong ini,” harapnya.
Tim Kurator Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Prof. Dr. I Wayan Dibia, menambahkan, drama gong di jaman lalu sedikit berbeda dibandingkan sekarang. Perbedaannya adalah konten drama Gong masa lalu hampir seimbang antara lucu dengan serius. Tetapi belakangan ini, lebih banyak pada adegan lucu.
“Untuk itu kita berkeputusan menampilkan drama gong banyuning yang kita anggap sebaga salah satu model dari drama gong masalalu, yang juga menghibur sekaligus memberikan tuntunan,” ucapnya.
Drama gong masa lalu itu Memang drama gong yang dipolakan sesuai pakem yang digunakan pada awal-awal berdiri. Drama gong adalah seni drama berbahasa Bali yang diiringi gamelan gong. Untuk pelakunya, walaupun tidak menarik, namun aktingnya itu diikat oleh aksen aksen gamelan gong. (MBP1)