Rektor Unhi: Utsawa Bali Sani Mempertemukan Kegairahan Ilmiah, Teknologi dan Seni ‎

 Rektor Unhi: Utsawa Bali Sani Mempertemukan Kegairahan Ilmiah, Teknologi dan Seni ‎

Rektor Unhi bersama Menteri Kebudayaan saat pembukaan UBS 2026, Kamis (24/9/2026).

‎DENPASAR – baliprawara.com
‎Utsawa Bali Sani (UBS) Univeristas Hindu Indonesia tidak sekadar diarahkan sebagai festival seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan seni. Setelah vakum selama enam tahun, UBS kembali digelar.  UBS ke-11 tahun 2026 ini resmi dibuka Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira, Kampus Unhi Denpasar, Kamis (24/9) malam. Pembukaan ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Menbud Fadli Zon. Acara juga dihadiri Gubernur Bali yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali IB Alit Suryana.
‎
‎Rektor Unhi Denpasar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra dalam sambutannya menyampaikan, Utsawa Bali Sani pertama kali dibuka pada tahun 2010 di kampus Unhi. Festival seni ini digagas oleh Rektor Unhi saat itu yakni Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S yang kini menjadi kurator Utsawa Bali Sani.
‎
‎Ada beberapa gagasan mendasar mengapa kampus swasta yang pendanaannya hanya ditopang dari SPP mahasiswa “nekat” menggelar festival seni yang menyedot biaya yang tidak sedikit.
‎
‎Pertama, Unhi mencoba menawarkan satu lompatan paradigma berkesenian: bahwa seni adalah ekspresi pemuliaan dan pengabdian melalui kerja ikhlas yang disebut ngayah. Semangat ngayah dalam berkesenian ini berpotensi hilang ketika aktivitas seni mulai diatur hukum-hukum pasar. Sehingga yang muncul adalah semangat komersil—bukan semangat ngayah.
‎
‎Padahal spirit berkesenian di Bali adalah ruang pencarian pengalaman estetik yang basisnya adalah rasa. Rasa tidak hanya menjadi pondasi berkesenian—rasa bahkan menjadi pondasi dasar dari religiusitas manusia Bali.
‎
‎Kedua, Utsawa Bali Sani sebagai ruang mempertemukan kegairah ilmiah melalui pengembangan sains, teknologi dan kegairahan seni. Seni adalah ruang di mana kemajuan sains, teknologi bisa selaras dengan rasa.
‎
‎Sebagai lembaga Pendidikan Hindu yang lahir di tempat pertemuan air (Campuhan), Unhi punya semangat membuka ruang perjumpaan antara pengetahuan ilmiah dan seni, karena keduanya sejatinya mesti berjalan beriringan. Apalagi visi Unhi yang tertuang dalam statutaI yakni menjadi universitas berkelas dunia dan pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai dharma.
‎
‎Peradaban manusia yang maju tidak hanya dibangun oleh kekuatan rasio, tetapi juga ditopang oleh kelembutan nurani (rasa). Di era modernisasi yang ditandai kemajuan teknologi yang sangat pesat hari ini, manusia sering kali dituntut untuk berpikir serba cepat, logis, terukur, dan objektif. Namun, jika peradaban hanya dituntun oleh rasio semata, kita bisa kehilangan empati, kepekaan sosial, dan kedamaian jiwa.
‎Di sinilah seni hadir sebagai jembatan yang sangat krusial. Melalui Festival Utsawa Bali Sani tahun ini, kita mengusung tema yang sangat mendalam: Prabhā Nīti Widyā Sani Prawartana: Semangat Bersama Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Seni.
‎
‎Kesenian dalam ajaran Hindu berakar pada nilai Satyam, Sivam, Sundaram: Satyam (Kebenaran): Rasio bergerak mencari kebenaran hakiki melalui logika dan pengetahuan. Sivam (Kesucian/Kebaikan): Budi pekerti dan rasa melahirkan kesucian niat serta keluhuran budi. Ketika Kebenaran (Satyam) dan Kesucian (Sivam) itu menyatu, maka terwujudlah Keindahan (Sundaram) yang sejati melalui media seni.
‎
‎Seni bukanlah sekadar hiburan semata, melainkan sebuah ruang perjumpaan di mana logika akademis dan kedalaman intuisi bertemu. Ketika rasio memberikan arah, struktur, dan kedisiplinan, maka rasa memberikan nyawa, keindahan, dan makna. Penyatuan antara rasio dan rasa inilah yang melahirkan karya seni yang bernilai luhur—karya yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga menggetarkan jiwa dan menyentuh kemanusiaan.Rasa dan rasio yang bertemu inilah yang melahirkan kesenian Bali, mengalir dari hilir masa lalu hingga hilir masa kini. Hal ini dapat kita lihat dari warisan sastra yang berbentuk kakawin, kidung, dan geguritan sebagai bentuk estetik yang penuh dengan perhitungan sebagai manifestasi rasio. Demikian pula dalam bentuk gambelan dan tabuh. Di balik keindahan dan rasa yang berhasil diungkapkan oleh tabuh, di dalamnya ada perhitungan yang berbeda, ketat, dan kuat yang mengalir dari ceruk-ceruk batin dari para seniman. Pertemuan rasio dan rasa inilah yang menjadi dasar estetika Bali untuk mencapai ngajap sandining lango ‘melebur bersama keindahan’.
‎
‎Bali memiliki warisan budaya yang amat kaya, di mana tradisi, keilmuan, dan kesenian berpadu harmoni dalam bingkai filosofi kehidupan. Melalui gelaran Utsawa Bali Sani, kita tidak hanya merayakan keindahan ekspresi seni, tetapi juga menjadikan kampus/perguruan tinggi sebagai benteng kelestarian budaya sekaligus laboratorium inovasi seni.
‎
‎Sebagai Rektor ia berharap festival ini menjadi wadah dialog kreatif bagi para mahasiswa, dosen, dan seniman untuk mengasah gagasan (rasio) dan mengolah kepekaan batin (rasa). Mari kita jadikan seni sebagai media untuk memperhalus budi pekerti, mempererat kebersamaan, dan menyebarkan pesan harmoni bagi masyarakat luas.
‎
‎Pada kesempatan ini mewakili jajaran civitas akademika Unhi, Rektor Cokorda Gde Bayu Putra juga menyampaikan apresiasi kepada  Menteri Kebudayaan yang telah bekerja serius melalui program prioritas Kementerian Kebudayaan seperti revitalisasi cagar budaya dan museum, repatriasi benda budaya, penguatan ekonomi budaya, dan menyalurkan pendanaan bagi pelaku budaya, komunitas dan pelaku seni.
‎
‎”Ini tentu terobosan yang sangat luar biasa. Kami berharap ada kenang-kenangan Bapak Menteri Kebudayaan untuk kampus Unhi yang masih sangat setia dengan pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan. Tentu ini bukan saja harapan saya sebagai Rektor dan civitas akademika Unhi, tapi harapan seluruh umat Hindu di Indonesia. Sebab, Unhi adalah milik umat Hindu, ” katanya.
‎
‎Rektor Unhi juga memberikan apresiasi kepada  Gubernur Bali yang telah berkomitmen pada pelestarian adat, budaya, seni dan agama Hindu melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Begitu juga dengan Walikota Denpasar, Bupati Badung. Kabupaten Badung bahkan telah konsisten bekerjasama dengan akademisi Unhi untuk melakukan penyusunan Direktori 10 objek pemajuan kebudayaan di Kabupaten Badung.
‎
‎Arti Penting bagi Perjalanan Unhi
‎

‎Rektor Unhi mengatakan, kembalinya UBS memiliki arti penting bagi perjalanan Unhi yang akan memasuki usia ke-63 tahun pada 3 Oktober 2026.
‎
‎Dikatakan, setelah agama Hindu mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah, ada upaya dari para aktivis dan intelektual Hindu untuk menata kembali kehidupan beragama Hindu di Bali.
‎Pada tahun 1961 majelis agama Hindu melaksanakan pertemuan—dharmacrama di Campuhan Ubud Gianyar yang menghasilkan piagam Campuhan. Pada butir II Piagam Campuhan inilah termaktub niat untuk mendirikan asrama pengadyayan—perguruan tinggi Hindu sebagai tempat belajar dharma.
‎
‎Namun niat ini tidak langsung bisa terwujud ketika Bali dihadapkan pada beberapa peristiwa politik dan bencana alam yakni meletusnya Gunung Agung yang sangat disucikan di Bali. Niat itu akhirnya bisa diwujudkan pada 3 Oktober 1963 dengan berdirinya Maha Widya Bhawana, Institut Hindu Dharma yang lebih dikenal dengan IHD. Pada tahun 1993 IHD resmi bertransformasi menjadi Universitas Hindu Indonesia.
‎
‎Sebagaimana diketahui bersama, Unhi bukan sekadar lembaga pendidikan sebagaimana perguruan tinggi swasta yang lain. Unhi adalah pondasi yang membangun dan mewarnai sejarah perjalanan Hindu modern di Indonesia. Ungi adalah embrio dari lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Hindu yang lain. Pada titik ini, tentu tidak bisa dipungkiri begitu besarnya kontribusi Unhi sebagai lembaga yang mencetak generasi intelektual Hindu yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia maupun dunia. 
‎
‎Pada usia 63 tahun, Universitas Hindu Indonesia masih memiliki komitmen yang besar untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkontribusi pada negara sebagai bentuk dharma negara melalui jalur pendidikan. Sementara dalam konteks dharma agama, Universitas Hindu Indonesia senantiasa hadir membumikan dan menanamkan nilai-nilai dharma melalui media pendidikan, budaya, seni dan teknologi informasi. 
‎
‎”Saya teringat dengan pesan Prof. Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali pada masanya sekaligus tokoh intelektual Hindu yang juga punya jasa besar dalam mendirikan lembaga ini. Beliau pernah menyampaikan bahwa eksistensi, harga diri, dan keberlanjutan masa depan manusia Bali dibangun di atas lima pilar utama: agama, seni, budaya, bahasa, dan ekonomi. Setidaknya ada tiga perguruan tinggi yang diharapkan untuk menopang pilar ini yakni Fakultas Sastra Udayana, ISI Denpasar yang kini menjadi ISI Bali, dan IHD yang kini jadi Universitas Hindu Indonesia.
‎Sejak saat itu, Prof Mantra sudah berpandangan bahwa peran lembaga pendidikan modern sangatlah penting dalam menjaga masa depan manusia Bali dan pemajuan kebudayaan Bali. Sampai saat ini, sebagai perguruan tinggi Hindu swasta tertua di Indonesia, UNHI masih tegak berdiri di pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan—meskipun konsekuensinya adalah menghadapi tantangan pasar di tengah persaingan ketat antar perguruan tinggi, ” katanya.
‎
‎Tentu tegaknya Unhi pada pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan sebagai satu komitmen moral dan intelektual—sekaligus menjaga marwah, filosofi dan tujuan lembaga ini didirikan. Salah satu wujud kerja pemajuan kebudayaan yakni dengan dilaksanakannya festival Seni Utsawa Bali Sani.

Momentum Hidupkan Ruang Ekspresi Seni
‎
‎Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. Purn. Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menbud Fadli Zon yang membuka UBS 2026.
‎
‎Menurutnya, kembalinya UBS setelah vakum enam tahun bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah festival seni, melainkan menjadi momentum menghidupkan ruang ekspresi spiritual, edukatif, dan kultural melalui seni.
‎
‎“Pendidikan dan kebudayaan merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Pendidikan tanpa akar budaya akan kehilangan identitas, sedangkan budaya tanpa sentuhan pendidikan akan sulit beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
‎
‎Ia berharap sinergi Kementerian Kebudayaan, Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, dan Unhi dapat memperkuat generasi muda yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki jati diri.
‎
‎Merawat Warisan Budaya Bali
‎
‎Sementara itu Ketua Panitia UBS 2026 Dr. Komang Indra Wirawan,  menyampaikan, Utsawa Bali Sani memiliki makna strategis dalam pelestarian seni budaya Bali. Utsawa berarti festival atau perayaan. Sedangkan Bali Sani berkaitan dengan seni dan kebudayaan Bali.
‎Jadi, ajang ini merupakan wujud nyata dari pola pikir ilmiah pokok Unhi yang memadukan unsur agama, seni dan budaya. 
‎
‎Setelah sempat jeda beberapa tahun karena salah satunya akibat dampak COVID-19, astungkara tahun 2026 ini Utsawa Bali Sani diadakan kembali dengan mengusung tema Praba Niti Widya Sani Prawartana. Tema ini bermakna sebagai panggung kreativitas seni budaya Bali.  Secara filosofi tema tersebut menggambarkan sinergi antara cahaya, ilmu, pengetahuan, etika, kebijaksanaan dan seni yang dipersembahkan dalam sebuah panggung seni.
‎
‎Melalui tema ini Unhi ingin menegaskan bahwa seni dan budaya Bali bukan sekedar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang hidup relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. Jadi, tujuan Utsawa Bali Sani adalah menjadi ruang bagi generasi muda, mahasiswa dan seniman untuk mengekspresikan kreativitas serta merawat warisan seni budaya Bali agar tetap lestari dan relevan di zaman kekinian. (MBP2)
‎
‎

Redaksi

Related post