Simposium Internasional STBis PNB 2026, Bahas Pariwisata Berkelanjutan dan Tantangan Industri Wisata Bali
Simposium Internasional STBis PNB 2026, di Grand Istana Rama, Kuta, Jumat 13 Maret 2026.
MANGUPURA – baliprawara.com
Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali (PNB) menyelenggarakan Sustainable Tourism Business International Symposium (STBis) PNB 2026, Jumat 13 Maret 2026. Kegiatan akademik ini berlangsung di Grand Istana Rama, Kuta, Bali, dengan mengangkat tema “Embedding Inclusivity and Sustainability for the Resilience of Future Tourism”.
Simposium tersebut menjadi forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, praktisi industri pariwisata, serta mahasiswa doktoral dari berbagai negara. Tercatat peserta berasal dari lima negara, yakni Indonesia, Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda.
Forum ini dirancang untuk membahas berbagai strategi pengembangan sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan industri wisata di masa depan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pertukaran gagasan serta penyampaian hasil penelitian yang berkaitan dengan bisnis pariwisata berkelanjutan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik dalam Program Doktor Bisnis Pariwisata PNB. Para peserta tidak hanya berasal dari kalangan akademisi, tetapi juga mencakup profesional industri serta perwakilan berbagai asosiasi yang memiliki keterkaitan dengan sektor pariwisata.
Ketua panitia simposium, Prof. Ni Made Ernawati, MATM., Ph.D., menjelaskan bahwa peserta simposium mencakup berbagai pihak yang terlibat langsung dalam pengembangan industri pariwisata. “Para peserta termasuk perwakilan dari beberapa asosiasi yang kami undang, serta para profesional industri dan mahasiswa doktoral kami. Acara ini pada dasarnya mendukung proses pembelajaran seminar dalam program PhD kami. Saat ini, mahasiswa doktoral kami terdiri dari dua kelompok, yang sebagian besar adalah praktisi industri seperti manajer umum dan kepala departemen,” katanya.

Menurut Prof. Ernawati, simposium ini memiliki peran penting sebagai platform akademik bagi mahasiswa doktoral dan peneliti untuk mempresentasikan hasil studi mereka. Selain itu, forum ini juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai berbagai isu strategis yang sedang dihadapi sektor bisnis pariwisata global.
Ia menambahkan bahwa di tingkat pendidikan doktoral, kebutuhan akan forum ilmiah menjadi sangat penting. Melalui forum tersebut, peneliti dapat memaparkan temuan penelitian sekaligus memperoleh masukan dari akademisi maupun praktisi yang memiliki pengalaman langsung di lapangan.
“Sebagai akademisi di tingkat doktoral, kami membutuhkan forum ilmiah untuk menyajikan temuan penelitian dan memperdalam pemahaman akademis. Itulah mengapa kami menyelenggarakan simposium yang secara khusus berfokus pada bisnis pariwisata dan bagaimana sektor ini dapat berkembang secara berkelanjutan,” tambahnya.
Prof. Ernawati juga menegaskan bahwa konsep keberlanjutan kini telah menjadi agenda global yang tidak dapat diabaikan oleh pelaku industri pariwisata. Oleh karena itu, berbagai penelitian yang dipresentasikan dalam simposium ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat membantu sektor pariwisata berkembang secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi semata, tetapi juga mencakup dimensi sosial, budaya, serta lingkungan. Ketiga aspek tersebut dinilai harus berjalan secara seimbang agar pembangunan pariwisata dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Dalam presentasinya, Prof. Ernawati juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Bali dalam praktik bisnis pariwisata. Nilai tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan di sektor pariwisata.
Meski demikian, ia mengakui bahwa Bali masih menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan pariwisata yang benar-benar berkelanjutan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan persoalan lingkungan seperti banjir serta pengelolaan limbah yang masih perlu ditingkatkan.
“Setiap orang harus berkontribusi, mulai dari lingkup terkecil, apakah komunitas, lembaga pendidikan, atau pemain industri. Hotel, misalnya, menghasilkan sejumlah besar limbah, sehingga upaya seperti daur ulang dan pengurangan limbah sangat penting,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas sektor pariwisata Bali dengan menyeimbangkan jumlah kunjungan wisatawan dan nilai ekonomi yang dihasilkan. Pendekatan tersebut dianggap penting agar pertumbuhan sektor pariwisata tetap memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun masyarakat lokal.
Sementara itu, Ketut Darmayasa, General Manager Grand Istana Rama Hotel, menyampaikan apresiasi kepada Politeknik Negeri Bali yang telah memilih hotel tersebut sebagai lokasi penyelenggaraan simposium internasional tersebut. “Ini adalah simposium pertama yang diadakan sejak program doktoral Bisnis Pariwisata didirikan di Politeknik Negeri Bali. Para peserta termasuk mahasiswa doktoral dari kelompok pertama dan kedua, akademisi dari beberapa universitas, perwakilan dari asosiasi profesional, dan praktisi pariwisata,” kata Darmayasa.

Menurutnya, forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi Bali dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisatanya. Ia menyebutkan bahwa meskipun Bali mencatat sekitar 7,1 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang tahun 2025, angka tersebut hampir mencapai 50 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Namun kata dia, Bali masih menghadapi sejumlah persoalan penting yang perlu ditangani secara serius.
Beberapa isu utama yang dibahas dalam simposium antara lain pengelolaan limbah, ketersediaan air bersih, potensi krisis energi akibat ketegangan geopolitik global, serta meningkatnya kemacetan lalu lintas di berbagai kawasan wisata.
Selain tantangan lokal, perkembangan situasi global juga mulai memengaruhi sektor pariwisata Bali. Darmayasa menjelaskan bahwa sejumlah penerbangan dari kawasan Eropa dan Timur Tengah sempat dibatalkan akibat ketegangan geopolitik yang memengaruhi operasional beberapa bandara di wilayah tersebut.
“Dampaknya mulai terasa, terutama pada kedatangan wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah. Semoga situasinya akan segera membaik, karena kekhawatiran terbesar adalah potensi kekurangan energi,” katanya.
Melalui penyelenggaraan simposium internasional ini, para akademisi, praktisi industri, serta pemangku kepentingan diharapkan dapat bertukar ide dan pengalaman. Diskusi yang berlangsung di forum tersebut juga diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi konkret yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bali pada masa mendatang. (MBP)