Sugihan Jawa dan Bali, Sucikan Bhuana Agung dan Bhuana Alit Songsong Galungan
Prof. IGN Sudiana
Enam dan lima hari sebelum Hari Raya Galungan, umat Hindu melakukan penyucian bhuana agung dan bhuana alit yang disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kedua hari suci itu rutin dirayakan setiap enam bulan sekali menyongsong Galungan. Galungan itu sendiri memiliki makna filosofis yakni menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu adalah wujud adharma.
Dari konsepsi lontar Sundarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).
Lalu apa makna Sugihan Jawa dan Sugihan Bali yang dirayakan sebelum Galungan?
Pengamat agama yang sekaligus Rektor UHN Sugriwa, Prof. Dr. Drs. IGN Sudiana menyampaikan, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah dua hari suci yang bermakna marerebu bhuana agung dan bhuana alit atau bersih-bersih di alam semesta dan diri manusia itu sendiri sebelum Galungan.
Kedua hari ini jatuhnya pada Wuku Sungsang, enam dan lima hari sebelum Galungan. Sugihan Jawa jatuh pada Wrehaspati Wage Wuku Sungsang, 6 hari sebelum Galungan. Sedangkan Sugihan Bali jatuh pada Sukra Kliwon Wuku Sungsang, 5 hari sebelum Galungan.
Sugihan berasal dari kata Sugi yang artinya mererebu atau membersihkan atau menyucikan. Sugihan Jawa bukan merujuk nama Pulau Jawa. Jawa di sini artinya di luar atau jaba (di luar diri sendiri yaitu bhuana agung atau alam semesta) . Sedang Sugihan Bali (Bali dalam konteks ini artinya di dalam diri sendiri atau bhuana alit). Jadi, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan hari suci untuk melakukan penyucian alam semesta, dan penyucian diri sendiri.
Dalam hubungannya dengan menjaga kebersihan lingkungan, Sugihan Jawa bisa dimaknai sebagai tonggak untuk mererebu sampah agar tidak mencemari bhuana agung. Dengan memaknai nilai filosofi Sugihan Jawa, diharapkan persoalan sampah bisa diatasi.
Selanjutnya, kata Prof. IGN Sudiana, makna etika dari kedua Sugihan ini adalah bahwa leluhur Hindu mengajarkan sebelum menyambut turunnya para Dewa dan leluhur ke dunia menjelang Galungan, maka pura, merajan, rumah dan alam lingkungan sekitar harus bersih atau suci. Demikian juga, badan dan pikiran manusia harus bersih terlebih dahulu.
Dikatakan, Sugihan Bali yang jatuh pada rahina Sukra Kliwon Wuku Sungsang juga memiliki makna filosofi. Sesuai kalender Bali, rahina Sukra atau Hari Jumat bermakna hari Cinta Kasih. Sukra sama dengan Dewa Cinta. Sedangkan Kliwon sama maknanya pelebur kekotoran pikiran. Karena itu pada Sugihan Bali sangat bagus melakukan peleburan batin atau dosa dengan ngaturang banten Panyeneng, melukat di beji, sembahyang ke Sanggah dan Pura. Juga, saling memaafkan sama keluarga, tetangga, dan krama. “Jadi sebelum merayakan Galungan, bersihkan dulu lingkungan dan pikiran. Buang dendam, iri dengki, marah dan sifat buruk lainnya. Sebab, Galungan sebagai lambang kemenangan dharma lawan adharma, maka adharma di dalam diri harus dilebur terlebih dahulu,” ujar mantan Ketua PHDI Bali ini. (MBP2)
