Tingkat Hunian di The Nusa Dua Stabil di Tengah Geopolitik Global, ITDC Percepat Rejuvenasi Kawasan
Sejumlah wisatawan saat berlbur di kawasan Waterblow pulau Peninsula, The Nusa Dua.
MANGUPURA – baliprawara.com
Kondisi geopolitik global yang belakangan menjadi perhatian berbagai pihak ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap okupansi atau tingkat hunian di kawasan pariwisata the Nusa Dua, Bali. Kawasan yang dikenal sebagai destinasi premium yang dikelola InJourney Tourism Development Corporation(ITDC) ini masih menunjukkan performa okupansi yang stabil, bahkan cenderung positif dalam beberapa periode terakhir.
Hingga saat ini aktivitas pariwisata di Nusa Dua juga tetap berjalan dengan baik. Hal ini menjadi indikator bahwa daya tarik Bali, khususnya Nusa Dua, masih kuat di mata wisatawan mancanegara.
Selain menjaga stabilitas kunjungan, pengelola kawasan juga tengah fokus melakukan berbagai pembaruan dan peningkatan kualitas infrastruktur. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kawasan tetap kompetitif dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menyampaikan bahwa secara umum tingkat hunian di Nusa Dua masih dalam kondisi baik. Ia juga menekankan bahwa pihaknya tengah menjalankan program rejuvenasi kawasan sebagai bagian dari komitmen jangka panjang.
Menurutnya, upaya pembaruan ini mendapat apresiasi dari para tenant yang berada di kawasan tersebut. “Setelah sekian lama tidak mengalami perubahan besar, kini Nusa Dua menghadirkan wajah baru yang lebih segar dan modern, tanpa meninggalkan identitasnya,” katanya saat memberikan keterangan kepada wartawan, Jumat 17 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa, pengembangan saat ini difokuskan di area Pulau Peninsula, yang dinilai memiliki potensi besar. Berbagai pekerjaan fisik tengah dilakukan di kawasan tersebut dan ditargetkan dapat selesai dalam tahun ini, meskipun prosesnya akan dilakukan secara bertahap.
Beberapa percepatan pekerjaan juga dilakukan, termasuk penanganan area pantai yang terdampak abrasi. Dalam hal ini, dilakukan peninggian permukaan pantai sebagai langkah mitigasi, terutama sebelum operasional hotel baru dimulai secara resmi.
Selain itu, penataan kawasan juga mencakup pembaruan fasilitas seperti area parkir, pemasangan batu andesit di wilayah Pulau Peninsula, hingga peningkatan akses jalan. “Seluruh pekerjaan ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan mobilitas wisatawan di dalam kawasan,” ucapnya.
Peningkatan fasilitas umum kata dia, juga menjadi perhatian utama, termasuk perbaikan toilet dan sarana pendukung lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga dan sesuai dengan ekspektasi wisatawan internasional.
“Akses menuju kawasan juga tengah dalam proses penyelesaian dan ditargetkan rampung pada bulan Juni. Dengan kondisi cuaca yang mendukung, percepatan pengerjaan dinilai memungkinkan untuk dilakukan tanpa kendala berarti,” bebernya.
Selain infrastruktur, penguatan kualitas konstruksi dan penataan kawasan juga menjadi fokus utama. Hal ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan kawasan sebagai destinasi unggulan yang mampu bersaing di tingkat global.
Meski mengakui bahwa situasi global tetap memberikan dampak tertentu, pihak pengelola menegaskan bahwa hal tersebut tidak mengurangi semangat untuk terus melakukan pembaruan. Terlebih, kawasan Nusa Dua akan memasuki usia ke-53 tahun pada Oktober mendatang, yang menjadi momentum penting untuk tampil lebih baik.

Sementara itu, General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menambahkan bahwa meskipun jumlah penerbangan ke Bali mengalami penurunan dan harga tiket cenderung meningkat, jumlah kunjungan ke kawasan Nusa Dua justru menunjukkan tren positif. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data year-on-year, jumlah pengunjung pada Maret tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa hingga saat ini belum terlihat adanya dampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan.
Namun demikian, pihaknya masih menunggu data bulan April untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, mengingat isu geopolitik mulai berkembang pada periode tersebut.
Dwiatmika juga menjelaskan bahwa sekitar 80 persen tamu yang menginap di Nusa Dua merupakan wisatawan mancanegara. Meskipun segmen ini berpotensi terpengaruh oleh kondisi global, dampaknya dinilai tidak sebesar wisatawan domestik.
“Tetapi kita belum melihat yang bulan April nih. Ya kami sih berharap itu tidak ada pengaruh ya, karena mostly, 80 persen yang menginap di Nusa Dua ini adalah Wisatawan Mancanegara. Yang relatif sebetulnya terpengaruh, tapi kan tidak sebesar yang domestik,” bebernya.
Ia juga berharap wisatawan domestik yang sebelumnya berencana bepergian ke luar negeri dapat mengalihkan destinasi liburannya ke Bali. Tren seperti ini kerap terjadi ketika terjadi ketidakpastian global.
Dari sisi pasar, wisatawan asal Australia masih menjadi kontributor terbesar bagi Nusa Dua. Disusul oleh wisatawan dari Rusia dan China. Sementara itu, kunjungan dari Korea Selatan masih relatif kecil dan belum menjadi pasar utama.
Karakteristik wisatawan asing yang berkunjung ke Nusa Dua juga menjadi salah satu faktor pendukung stabilitas kawasan. Mereka cenderung mencari suasana yang tenang, alami, dan kental dengan budaya lokal.
Keunggulan Nusa Dua terletak pada tata kawasan yang tertata rapi, dengan taman-taman yang terjaga serta arsitektur khas Bali yang tetap dipertahankan. Hal ini memberikan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi lain.
“Wisatawan juga dapat dengan mudah menikmati aktivitas luar ruangan seperti jogging, berjalan kaki, hingga mengunjungi pusat perbelanjaan terbuka yang terintegrasi dalam kawasan,” ucapnya. (MBP)