Tumpek Uye di Pura Uluwatu Disiapkan Jadi Daya Tarik Wisata Internasional, Desa Adat Pecatu Siapkan Berbagai Inovasi
Persembahan gebogan serangkaian Tumpek Kandang di Pura Uluwatu, jadi daya tarik wisata.
MANGUPURA – baliprawara.com
Perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang di kawasan Pura Luhur Uluwatu tidak lagi sekadar menjadi tradisi keagamaan yang digelar setiap enam bulan sekali. Desa Adat Pecatu kini mulai menyiapkan perayaan tersebut sebagai salah satu daya tarik wisata internasional yang mampu memperkuat posisi Uluwatu sebagai destinasi unggulan Bali.
Langkah tersebut muncul seiring besarnya perhatian wisatawan terhadap keberadaan ratusan wanara atau monyet yang hidup di kawasan Uluwatu. Satwa yang selama ini menjadi ikon kawasan wisata tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menarik kunjungan wisatawan dari berbagai negara.
Pada perayaan Tumpek Uye yang berlangsung Sabtu, 5 September 2026, kembali digelar upacara persembahan Gebogan bagi para wanara yang menghuni kawasan Uluwatu. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada hewan sekaligus ungkapan syukur atas manfaat yang diberikan bagi kehidupan masyarakat setempat.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sutama, menegaskan bahwa pihaknya ingin menghadirkan konsep yang lebih menarik pada perayaan Tumpek Uye mendatang. Menurutnya, tradisi yang selama ini berlangsung, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi atraksi budaya yang dapat dinikmati wisatawan mancanegara.
Made Sutama mengungkapkan bahwa, keberadaan monyet di kawasan Uluwatu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan sektor pariwisata setempat. Monyet-monyet tersebut menjadi salah satu alasan wisatawan datang berkunjung selain panorama tebing, Pura Luhur Uluwatu, serta pertunjukan Tari Kecak yang mendunia.
Karena itu, Desa Adat Pecatu berencana melakukan berbagai inovasi agar perayaan Tumpek Uye semakin meriah dan memiliki nilai atraksi yang lebih kuat. Salah satu rencana yang tengah dipersiapkan adalah menambah jumlah gebogan persembahan yang saat ini masih terbatas.
“Jika sebelumnya hanya tersedia dua gebogan besar, ke depan jumlahnya direncanakan akan ditambah sehingga dapat menjangkau seluruh kelompok monyet yang ada di kawasan Uluwatu. Saat ini tercatat terdapat tujuh kelompok monyet yang hidup dan beraktivitas di area wisata tersebut,” kata Sutama.
Menurutnya, konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang berkunjung ke Uluwatu. Tidak hanya menyaksikan keindahan alam dan budaya Bali, wisatawan juga dapat melihat secara langsung tradisi unik penghormatan terhadap satwa yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Sementara itu, Sekretaris Desa Adat Pecatu, Drs. I Wayan Wijana, SH., menjelaskan populasi monyet di kawasan Uluwatu saat ini diperkirakan mencapai sekitar 650 ekor. Jumlah tersebut terus dipantau melalui berbagai upaya pengelolaan agar tetap terkendali dan tidak mengganggu keseimbangan kawasan wisata.
Ia menambahkan bahwa monyet merupakan salah satu unsur penting yang ada di DTW Uluwatu. Sesuai tagline yang dimiliki yakni, “The Five Wonderful Beauties of Uluwatu”, yaitu lima daya tarik utama yang dimiliki kawasan tersebut. “Selain panorama alam yang spektakuler, pertunjukan seni budaya, dan keunikan pura di atas tebing, keberadaan monyet menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan,” kata Wijana yang juga mantan Manajer DTW Uluwatu.
Panglingsir Puri Jrokuta, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau sering disapa Turah Joko menambahkan, perayaan Tumpek Kandang di Pura Uluwatu, sudah digelar sejak 15 tahun yang lalu. Untuk itu pihaknya sangat mendukung rencana dari Desa Adat untuk kedepannya bisa membuat yang lebih meriah lagi.
“Dengan pelaksanaan Tumpek Kandang pada hari ini. Harapan kami tentunya monyet-monyet di seputaran Uluwatu lebih bisa jinak,” harapnya. (MBP)
