Upacara Paneduh Jagat digelar di Segara Watu Klotok

 Upacara Paneduh Jagat digelar di Segara Watu Klotok

SEMARAPURA – baliprawara.com

Sebagai upaya menetralisir pandemi Covid-19 secara niskala, pada Rabu (22/4), digelar upacara paneduh jagat yang berpusat di Pura Besakih. Secara bersamaan, ritual ini juga dilakukan di lima segara di Bali menurut arah mata angin, Pura Kahyangan Tiga dan berlanjut hingga tingkat merajan rumah masing-masing masyarakat Hindu di Bali. 

Upacara paneduh jagat yang salah satunya dilaksanakan juga oleh Pasraman Bhakti Marga di Segara Watu Klotok klungkung berlangsung lancar, walaupun jumlah peserta dibatasi yakni hanya melibatkan 25 orang dari pemangku, serati dan sulinggih, sesuai imbauan pemerintah. 

Menurut Ketua Pasraman Bhakti Marga Jero Mangku Anak Agung Ketut Sumadi mengatakan, seluruh dunia terkena dampak Covid-19. Sebagai umat beragama, khususnya Hindu yang bisa dilakukan selain berdoa adalah melakukan yadnya. “Melalui organisasi Pasraman Bhakti Marga yang berlokasi di Padangsambian, kami menyelenggarakan yadnya peneduh jagat, mapakelem, di Pantai Watu Klotok. Nunas ica ke hadapan Ida Batara Sang Hyang Ciwa Baruna, nunas ica ke hadapan Ida Sang Hyang Anantaboga, Sang Hyang Druwe Rsi dengan sarana yadnya mapragembal, macaru, mapakelem yang kami haturkan,” jelas Jero Mangku Agung. Ia berharap melalui yadnya ini musibah ini segera berakhir. 

Sulinggih, Ida Ratu Rsi Agung Bagawan Dharmaputra Adnyana dari Geriya Lanang Dawan Padangsambian, Denpasar mengatakan, tujuan dari upacara ini adalah menyikapi situasi bumi saat ini yang dalam Hindu di Bali disebut merana yang mengancam kehidupan umat manusia, bisa juga disebut gering agung maupun sasab agung. Selain permohonan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Sang Hyang Tiga Wisesa (Penguasa), juga kepada Dewa Baruna agar alam semesta dan segala isinya dianugerahkan ketenteraman, kesejahteraan, dan kemakmuran. 

See also  Pedagang Jangan "Bengkung" Kalau Tidak Mau Seperti Ini

“Sarana yadnya berupa bebek hitam dan ayam hitam dipersembahkan kepada Ida Batara Segara dan Ida Batara Ciwa Baruna. Dan kepada ayabannya yang berupa pragembal, ke luhur itu kita persembahkan kepada Ida Bagawan Druwe Rsi yang bersemayam di angkasa,” jelasnya. 

Melalui doa, masyarakat Hindu pada khususnya diharapkan dapat lebih kuat menghadapi pandemi yang berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan ini. “Apa yang kita lakukan hari ini, akan juga dapat menjadi motivasi dari umat umat yang lain untuk melakukan sekecil apapun. Yang penting terwujud, ada bentuk yang kita lakukan kepada Ida Sang Hyang Widhi, kepada alam lingkungan, terpenting lagi kepada sesama umat yang dalam kesusahan.” Imbuhnya. (MBP6)

prawarautama

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *