Yuga, Moralitas dan Kebahagiaan
Sukarsa
Oleh: I Wayan Sukarsa
Kala (waktu) adalah Sri Bhagawan,kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya terlihat secara material atas beraneka macam fenomena yang secara langsung mempengaruhi dan menentukan kehidupan alam semesta material (Bhag.3.29.4). Kala berjalan secara bersiklus membentuk sebuah perubahan peradaban yang mempunyai karateristik dan pola kehidupan yang berbeda di setiap jaman. Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, kemudian akan lahir sesuatu yang baru untuk menggantikannya yang disebut dengan perubahan (Alam, 2015).
Tidak ada yang abadi di dunia material. Semuanya terus berkembang mengalami perubahan, selaras dengan pandangan William Fung yang mengatakan:“The only constant is change” (Sembel dan Sugiharto, 2009: 17). Dari sinilah waktu dikatakan sebagai penakluk yang paling agung, lambang dari Tuhan itu sendiri, selaras dengan salah satu kutipan suci Bhagavad Gita X. 30 yang menyebutkan “Kalah kalayatam aham” yang mengandung arti “di antara para penakluk,Aku adalah waktu” (Prabhupada,2017:536).
Menurut ajaran Hindu, siklus kala dibagi menjadi empat yang disebut dengan istilah yuga. Yuga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti zaman, periode waktu, era, generasi, atau kuk (penggabungan dua hal), “generasi”, atau “periode waktu.
Yuga adalah siklus kosmik yang berulang, memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dapat dimaknai simbol kemandirian dan kebebasan serta harapan menjadi pribadi yang bijaksana dan seimbang. Ada empat yuga utama yang membentuk satu siklus besar (Mahayuga), yaitu: Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga, yang masing-masing memiliki karakteristik moral, spiritual, dan sosial yang berbeda yang dimulai dengan Satyayuga, menuju Kaliyuga. Semakin mundur yuga, semakin menurun pula kualitas spiritual dan moral manusia. Dimulai dari Satyayuga, disebut sebagai “zaman keemasan”, di mana kebenaran dan kebajikan sangat dijunjung tinggi. Tretayuga zaman ini lebih fokus pada kerohanian dan pengetahuan. Dwaparayuga zaman ketika manusia mulai bertindak lebih rasional, namun kebohongan dan kejahatan mulai bertambah. Kaliyuga zaman saat ini yang dianggap sebagai zaman kegelapan, di mana moralitas menurun dan banyak kebohongan, kekerasan serta, kehidupan material yang menjadi tujuan hidup.
Era milenial yang identik dengan zaman Kaliyuga, berdasarkan dua sastra suci agama Hindu yaitu Vanaparva Mahābhārata dan Śrimad-Bhägavatam. Sesungguhnya bila zaman kegelapan telah datang, hanyalah harta dan kekayaan yang paling dihargai. Orang saleh, orang pandai justru mengabdi kepada orang yang mapan akan kekayaan.
Kemerosotan Moral
Era kaliyuga atau era milenial sering digambarkan sebagai era kemerosotan moral, spiritual, dan sosial, dimana generasi manusia tidaklah mengalami evolusi, melainkan mengalami proses devolusi yang terlihat dari kualitas fisik, mental, dan spiritualnya semakin merosot yang mendewakan material dan kekuasaan menjadi tujuan hidup. Oleh karena itu, indikator kebahagiaan di zaman ini tidak lagi diukur dari kemakmuran lahiriah atau hubungan yang harmonis, melainkan dari perjuangan individu untuk memenuhi kebutuhan terkait dengan kehidupan di dunia fana atau memenuhi kebutuhan jasmani semata. Pada era kaliyuga pengukuran tingkat kebahagian lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan jasmani yang menggambarkan sejauh mana seseorang atau masyarakat merasa puas dan senang dalam hidupnya, yang diukur melalui berbagai metode mencakup dimensi kepuasan hidup, perasaan (afeksi), dan makna hidup, serta dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepuasan ekonomi, hubungan sosial, dan kesehatan. Kebahagiaan zaman milenial sering dikaitkan dengan pencapaian pribadi, karier yang sukses, stabilitas finansial, kesehatan fisik dan mental, serta pengalaman hidup yang positif, cenderung bersifat lebih subjektif, langsung terasa (instant gratification), dan seringkali jangka pendek lebih berfokus kepada kesejahteraan (well-being) di dunia nyata, kepuasan kerja, work-life balance, dan kesehatan mental dan Kondisi finansial menjadi prasyarat untuk merasa bahagia. Hidup bahagia bukan dicapai dengan memilki harta dan kedudukan dunia tinggi dimasyarakat. Hidup bahagia dicapai hanya kalau insyaf diri sebagai jiwa yang berkedudukan sebagai pelayan kekal pada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut ajaran agama, kebahagiaan hakiki bersumber dari ketenangan batin dan hubungan yang erat dengan Tuhan, bukan hanya materi duniawi.
Kebahagiaan dalam pemahaman agama bersumber dari hubungan yang erat dengan Tuhan atau kekuatan ilahi, kesadaran spiritual, dan kepatuhan terhadap ajaran serta pedoman hidup yang diberikan oleh agama. Ini mencakup ketenangan hati (qalbun saliim) yang didapat dari kedekatan dengan Sang Pencipta, bersifat mendalam, abadi (jangka panjang), dan menjanjikan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat (surga atau nirwana). Fokusnya adalah pada nilai-nilai spiritual, akhlak mulia, pengampunan dosa, beramal saleh, dan pencapaian ridha Tuhan. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari harta duniawi atau status sosial, melalui ibadah, doa, bersyukur, sabar, tobat, beramal, dan menjalankan kewajiban agama dengan ikhlas, menerima takdir (ridha) juga menjadi kunci pencapaian kebahagiaan sejati yaitu moksa, persatuan Atman (jiwa) dengan Brahman (Tuhan). Tingkatan kebahagiaan ini dapat dicapai melalui berbagai cara, seperti mengendalikan keinginan dan pikiran, serta mempraktikkan jalan seperti Jnana Yoga (pengetahuan), Seva (pelayanan tanpa pamrih), dan Vairagya (melepaskan diri). Kebahagiaan sejati bersifat intrinsik dan berasal dari dalam diri, bukan dari hal-hal duniawi, dan dapat dibagi dalam tingkatan Sattvik, Rajasik, dan Tamasik.
Berdasarkan atas penjelasan hubungan yuga, moralitas dan kebahagiaan secara ringkas dapat disimpulkan bahwa, kebahagiaan agama lebih menekankan pada aspek spiritual, nilai-nilai transenden, dan hasil jangka panjang (akhirat). Sementara kebahagiaan milenial yang diukur dari dimensi kepuasan hidup, perasaan (afeksi), dan makna hidup yang bersifat pemenuhan kebutuhan jasmanai atau material semata, pencapaian pribadi, dan kesejahteraan di kehidupan duniawi saat ini. Mengejar kebahagiaan material memiliki manfaat langsung dalam menyediakan kebutuhan dasar dan kenyamanan, menjadikan materi sebagai satu-satunya, atau sumber utama kebahagiaan secara umum berkorelasi dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi menunjukkan peran penting stabilitas ekonomi dalam kesejahteraan masyarakat sebagai indikator pengukuran pembangunan.
Kebahagiaan material cenderung menimbulkan permasalahan berupa ketidakpuasan jangka panjang, stres, dan hubungan sosial yang buruk merugikan kesejahteraan psikologis dan emosional dalam jangka panjang. Dalam pandangan agama, kebahagiaan sejati adalah anugerah ilahi yang didapatkan melalui iman, amal saleh, dan kedekatan spiritual.
Kontrol atas keinginan dan pancaindra sebuah tanda kemunduran di Kaliyuga, fokus yang berlebihan pada keinginan fisik dan materi. Oleh karena itu, mengendalikan keinginan dan tidak membiarkan hasrat menguasai hidup menjadi indikator kebahagiaan sejati dengan menerapkan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), sering ditemukan dalam pengalaman tak berwujud, hubungan yang bermakna, dan rasa syukur. (*)
Penulis adalah Analis Kebijakan pada Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung.
.