Tampilkan Rekontruksi “Tabuh Lonceng” saat Tumpek Klurut, Hung Bali Hidupkan Gending Pagan Kelod

 Tampilkan Rekontruksi “Tabuh Lonceng”  saat Tumpek Klurut, Hung Bali Hidupkan  Gending Pagan Kelod

DENPASAR – baliprawara.com
Suara dentang waktu yang biasanya hanya menjadi penanda perjalanan hari, kini menjelma menjadi karya musikal yang sarat makna. Dalam gelaran Tumpek Klurut: HUNG Bali di kawasan Lapangan Puputan Badung, sebuah karya karawitan klasik “Tabuh Lonceng (Gaya Pagan)” kembali diperdengarkan melalui proses rekonstruksi gending kuno yang membawa ingatan masyarakat pada jejak seni di wilayah Pagan Kelod, Denpasar.

Karya tersebut merupakan hasil rekrontuksi seniman muda asal Denpasar, I Gede Arya Swastika, asal Pagan Kelod,.Denpasar. Pria kelahiran Denpasar, 6 Desember 1990 melakukan eksplorasi musikal dan riset terhadap jejak gending lama, ia berupaya menghadirkan kembali karakter khas Palegongan Saih Lima dalam balutan penyajian yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Rekonstruksi Tabuh Lonceng tidak lahir dalam waktu singkat. Proses dan pencarian referensi dilakukan sekitar satu bulan, dengan melibatkan narasumber I Wayan Masda, warga asli Pagan Kelod yang menjadi salah satu sumber penting dalam penelusuran keberadaan dan karakter gending gaya Pagan tersebut.

“Prosesnya tidak hanya menyusun kembali nada, tetapi juga mencari jejak cerita dan rasa dari gending itu sendiri. Kami mencoba memahami bagaimana karya ini tumbuh dari lingkungan masyarakat Pagan Kelod,” ujar Made Arya.

Dalam perjalanan penciptaannya, suara detak jarum jam di tengah Kota Denpasar menjadi inspirasi utama. Dentang yang teratur, berulang, dan penuh ketepatan kemudian diterjemahkan ke dalam struktur nada gambelan Palegongan Saih Lima.

Melalui pola tabuhan yang tegas namun tetap anggun, Tabuh Lonceng menghadirkan karakter musikal yang menggambarkan ritme kehidupan kota—bergerak tanpa henti, tetapi tetap memiliki ruang untuk keindahan dan perenungan.

Dalam versi gaya Pagan, karya ini dikenal dengan nuansa yang khas dan pernah disebut sebagai Legong Kelandis. Melalui proses rekonstruksi, gending tersebut kembali mendapatkan ruang hidup dengan penataan yang lebih dinamis, namun tetap menjaga akar estetika Palegongan klasik Bali.

Panggung Tumpek Klurut, Sabtu (1/8/2026) menjadi momentum penting bagi karya ini. Para seniman Palegongan tidak hanya memainkan sebuah komposisi, tetapi juga menghadirkan kembali memori budaya yang tersimpan dalam perjalanan kesenian Pagan Kelod.

Bagi Arya Swastika, menghidupkan kembali gending lama merupakan bentuk penghormatan terhadap para pendahulu sekaligus upaya menjaga agar warisan karawitan Bali tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Tabuh Lonceng bukan sekadar rangkaian nada. Di dalamnya ada cerita, ada jejak seniman terdahulu, dan ada denyut kehidupan masyarakat yang ingin terus diwariskan,” demikian pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.

Dentang itu pun kembali bergema dari Puputan Badung. Bukan hanya sebagai bunyi, tetapi sebagai pengingat bahwa tradisi akan tetap hidup ketika generasi baru mau menggali, merawat, dan memberi ruang bagi warisan budaya untuk berbicara kembali.(MBP2)

Redaksi

Related post