RSU Kasih Ibu Denpasar Jadi Pelopor Implementasi Teknologi VR untuk Pelatihan Tenaga Medis
Seorang perawat RS Kasih Ibu saat mengikuti pelatihan melalui teknologi VR. (ist)
DENPASAR – baliprawara.com
Rumah Sakit Umum (RSU) Kasih Ibu terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah menggelar pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi tenaga keperawatan, dengan memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) dengan menggandeng NEWBASE, yang merupakan perusahaan teknologi asal Korea Selatan. Pelatihan yang digelar dua hari dari Selasa 14 – Rabu 15 April 2026 di RS Kasih Ibu Denpasar ini, diikuti oleh perawat dari RS Kasih Ibu Group.
Pendekatan ini menjadi terobosan baru karena sebelumnya pelatihan dilakukan secara konvensional. Kini, dengan dukungan teknologi VR, para perawat dapat merasakan pengalaman simulasi yang lebih realistis dalam menangani pasien, sekaligus mengedepankan aspek keselamatan pasien.
Direktur RSU Kasih Ibu Denpasar, dr. Ni Kadek Dwi Widhyari,M.M menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi VR dilatarbelakangi oleh perkembangan zaman yang semakin bergantung pada teknologi di berbagai aspek kehidupan. “Rumah sakit tidak ingin tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan tersebut, terlebih dalam upaya peningkatan kompetensi SDM yang menjadi faktor penting dalam mutu pelayanan kesehatan,” katanya saat ditemui, Rabu 15 April 2026.

Ia menegaskan bahwa pelatihan berkelanjutan merupakan program utama rumah sakit untuk memastikan tenaga medis memiliki kemampuan yang terus berkembang. Melalui VR, pelatihan diharapkan menjadi lebih menarik, relevan dengan generasi saat ini, serta efisien dari sisi biaya dan waktu.
Manager Medical Informatics, dr. Odilia Dea Novena, S.Ked., MARS., menjelaskan bahwa teknologi VR memungkinkanperawat merasakan simulasi lingkungan kerja secaralangsung. Dengan menggunakan perangkat VR, peserta pelatihan dapat melihat kondisi ruangan secara menyeluruh hanya dengan menggerakkan kepala, seolah-olah berada di situasi nyata.
Dalam simulasi tersebut, perawat tidak hanya melihat gambaran visual, tetapi juga berinteraksi dengan pasien virtual yang telah dirancang responsif. Pasien dapat memberikan jawaban terkait kondisi kesehatannya, sehingga menciptakan suasana yang mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.
Setiap tahapan dalam pelatihan juga dilengkapi dengan prosedur yang harus dijalankan. Pada tahap awal, peserta akan mendapatkan panduan, namun seiring berjalannya waktu, mereka dituntut untuk mengambil keputusan secara mandiri. Sistem ini juga dilengkapi dengan penilaian yang mencatat performa peserta di setiap tahap.
Teknologi ini dinilai sangat membantu terutama bagi perawat baru atau lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja. Mereka dapat belajar mulai dari dasar, seperti cara mengidentifikasi pasien hingga melakukan pemeriksaan sederhana seperti pengukuran tekanan darah.
Ns. Kadek Hendra Frandika, S.Kep., selaku Nurse Informatics, menambahkan bahwa penggunaan VR memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif dibandingkan metode sebelumnya yang mengandalkan alat peraga seperti manekin.
Ia menjelaskan bahwa metode konvensional seringkali membutuhkan biaya besar untuk penyediaan alat dan tidak mampu memberikan interaksi nyata seperti dengan pasien. Sementara dengan VR yang didukung teknologi kecerdasan buatan (AI), perawat dapat melatih kesiapan penanganan sambil berinteraksi secara dinamis dengan pasien virtual.
Pelatihan yang difasilitasi oleh LPK Mitra Kasih Training Centre ini, juga mencakup berbagai kondisi, termasuk situasi darurat dan kepanikan. Hal ini membantu perawat memahami risiko keterlambatan tindakan dan pentingnya mengikuti prosedur secara tepat. Selain itu, sistem penilaian yang objektif memungkinkan perawat terus meningkatkan kemampuan mereka secara konsisten.
Pimpinan LPK Mitra Kasih Training Centre, dr. Ni Made Laksmiwati, M.Mkes., menyampaikan bahwa lembaga pelatihan tersebut memang difokuskan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di lingkungan Kasih Ibu Group. Ia menjelaskan bahwa selama ini pelatihan dilakukan melalui orientasi umum dan khusus yang lebih menitikberatkan pada keterampilan. Dengan hadirnya teknologi VR, proses pembelajaran menjadi lebih efektif karena membantu tenaga perawat memahami dunia kerja secara lebih cepat.
Menurutnya, teknologi ini juga dapat membantu tenaga kesehatan beradaptasi dengan lingkungan kerja, sehingga mampu memberikan pelayanan yang optimal. Selain itu, penggunaan VR juga diharapkan mampu meningkatkan kolaborasi antar unit kerja dan menjaga standar keselamatan pasien.
“LPK Mitra Kasih Training Centre ke depan juga berencana mengembangkan pelatihan tidak hanya untuk internal, tetapi juga eksternal, dengan memanfaatkan metode konvensional dan digital secara bersamaan,” ucapnya.
Sementara itu, Chief strategy officer, NEWBASE (Korea), Mo Hyojung, menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya menghadirkan simulasi kasus medis yang sulit ditemui dalam praktik sehari-hari.
Ia mencontohkan kasus pemeriksaan respons pupil yang tidak normal, yang jarang ditemukan pada pasien. Melalui VR, kondisi tersebut dapat disimulasikan sehingga tenaga medis memiliki kesempatan untuk berlatih sebelum menghadapi situasi nyata.
Pengembangan sistem ini juga melibatkan kerja sama dengan dokter spesialis untuk memastikan akurasi dan objektivitas materi pelatihan. Selain itu, vendor juga menyediakan fitur “scenario studio” yang memungkinkan tenaga pengajar menyesuaikan skenario pelatihan sesuai kebutuhan.
Teknologi VR ini juga telah disesuaikan dengan kondisi di Asia, termasuk Indonesia, baik dari sisi bahasa, budaya, maupun peran tenaga medis yang berbeda dengan negara Barat. Hal ini membuat pelatihan menjadi lebih relevan dan aplikatif.
Di Indonesia sendiri, penggunaan VR untuk pelatihan medis masih tergolong baru dan sebagian besar masih dalam tahap percontohan. Namun dalam hal ini, RS Kasih Ibu Denpasar menjadi salah satu pelopor dalam implementasi teknologi ini secara resmi.
Dengan adanya inovasi ini, diharapkan tenaga medis, khususnya perawat, dapat lebih siap menghadapi dunia kerja, meningkatkan kepercayaan diri, serta memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan berorientasi pada keselamatan pasien. (MBP)