Belog Megandong, Ogoh-ogoh STT Paramartha Kusuma Hadirkan Kritik Sosial Sambut Caka 1948

 Belog Megandong, Ogoh-ogoh STT Paramartha Kusuma Hadirkan Kritik Sosial Sambut Caka 1948

STT Paramartha Kusuma hadirkan ogoh-ogoh berjudul Belog Megandong, bentuk kritik sosial sambut Caka 1948.

MANGUPURA – baliprawara.com
Ogoh-ogoh selama ini identik sebagai simbol bhuta kala yang akan dibakar dalam rangkaian pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi. Namun, kreativitas generasi muda di Banjar Ketapang, Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, menghadirkan makna yang lebih luas dari sekadar ritual tahunan.

Melalui tangan para pemuda Sekaa Teruna Teruni (STT) Paramartha Kusuma, ogoh-ogoh dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan sosial yang kontekstual dengan kondisi masyarakat masa kini. Dalam menyambut Tahun Baru Caka 1948, mereka mengusung tema “Belog Megandong” sebagai gambaran karakter manusia yang keras kepala dan terperangkap dalam kebodohannya sendiri.

Tema tersebut dipilih karena dinilai selaras dengan berbagai fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat Bali saat ini. Istilah Belog Megandong diambil dari Lontar Bhuana Kemulan dan Siwagama, kemudian diinterpretasikan kembali agar relevan dengan kehidupan modern.

Ketua STT Paramartha Kusuma, Komang Adi Dharmana, menjelaskan bahwa secara harfiah Belog berarti bodoh, sedangkan Megandong bermakna memikul beban berat di pundak. Kedua kata tersebut digabungkan menjadi satu konsep yang merepresentasikan seseorang yang menanggung akibat dari kebodohannya sendiri.

“Untuk tahun ini kami di Sekaa Teruna Paramartha Kusuma Banjar Ketapang mengangkat tema Belog Megandong. Artinya bodoh yang memikul beban berat di pundaknya,” kata Komang Adi, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia menerangkan, konsep ogoh-ogoh ini terinspirasi dari sosok manusia yang hidup dalam kebodohan dan sifat keras kepala. Karakter tersebut digambarkan tidak memiliki keinginan untuk belajar dari nasihat maupun masukan orang lain.

Bahkan, ia cenderung meremehkan pendapat sekitar dan merasa dirinya paling benar. Sikap demikian pada akhirnya justru menimbulkan berbagai persoalan yang harus ia tanggung sendiri. Beban itu muncul dari sifatnya yang tidak terbuka dan enggan menerima pandangan berbeda.

See also  Pangerupukan di Apuan Berkesan, Fragmentari "Maya Sandhi" Memukau

Secara visual, ogoh-ogoh Belog Megandong menampilkan figur manusia berukuran besar di bagian atas. Sosok ini digambarkan dengan lidah panjang yang menjulur keluar sebagai simbol perkataan yang berlebihan dan kasar. Di sekelilingnya terdapat buta atau raksasa yang merepresentasikan kesombongan, kebiasaan menipu, serta perilaku merendahkan orang lain.

Tokoh-tokoh di bagian bawah ogoh-ogoh digambarkan sebagai pihak yang seharusnya dapat berdialog dan bertukar gagasan secara sehat. Namun, karena dominasi sifat Belog Megandong, mereka justru berada dalam posisi tertekan.

Proses pengerjaan ogoh-ogoh ini dimulai sejak akhir Desember 2025 dan berhasil diselesaikan pada 18 Februari 2026. Selama kurang lebih satu setengah bulan, para anggota STT bekerja secara intens untuk menyempurnakan setiap detail karya tersebut.

Total anggaran yang dihabiskan dalam proses pembuatan hampir mencapai Rp 30 juta. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan bahan, perlengkapan, hingga aspek artistik agar hasil akhir sesuai dengan konsep yang dirancang.

Dalam kompetisi ogoh-ogoh yang digelar di Zona 7, STT Paramartha Kusuma menyadari bahwa persaingan berlangsung sangat ketat. Bahkan, zona tersebut kerap dijuluki sebagai “zona neraka” karena kualitas peserta yang dinilai selalu menghadirkan karya luar biasa setiap tahunnya. “Kalau target di Zona 7, kami sudah memberikan yang terbaik. Soal juara itu dari juri. Yang penting kami sudah maksimal,” tegas Komang Adi.

Dukungan terhadap karya tersebut juga datang dari berbagai pihak di lingkungan banjar. Pangliman Banjar Ketapang, I Putu Suda Suartana, menyampaikan apresiasi atas semangat dan dedikasi para pemuda dalam menjaga tradisi sekaligus menyampaikan pesan sosial melalui ogoh-ogoh.

Menurutnya, tema Belog Megandong memiliki keterkaitan erat dengan situasi kehidupan saat ini. Dalam era globalisasi, ia menilai penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan wawasan dan tidak terjebak dalam pola pikir sempit.

See also  Pangerupukan, STDB Apuan Persembahkan Fragmentari "Sang Jogor Manik"

“Tema ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Dalam era globalisasi, kebodohan itu harus dikurangi dan jangan sampai megandong. Belognya bisa dalam bentuk berkata kasar, berprinsip kaku yang tidak relevan dengan perkembangan zaman, atau susah dinasehati orang tua. Kami sangat mengapresiasi para pemuda,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Kedonganan, Made Sumerta (dua kiri), menyerahkan dana motovasi untuk STT Paramartha Kusuma.

Apresiasi juga disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Made Sumerta. Ia menyoroti dukungan dari Pemerintah Kabupaten Badung yang memfasilitasi lomba ogoh-ogoh melalui bantuan dana sebesar Rp 40 juta untuk masing-masing banjar atau STT.

“Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Badung yang sudah memfasilitasi lomba ogoh-ogoh dengan bantuan Rp 40 juta per banjar atau STT. Itu sangat membantu, ditambah kas STT, kas banjar, dan sponsor,” ungkapnya.

Selain dukungan dari pemerintah daerah, Sumerta juga menyerahkan bantuan dana motivasi yang bersumber dari dana sosial serta promosi koperasi milik Banjar Ketapang. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong semangat para pemuda dalam berkarya.

Ia juga mengingatkan agar kegiatan pembuatan ogoh-ogoh tetap seimbang dengan tanggung jawab utama para anggota STT, khususnya yang masih berstatus pelajar.

“Kami harapkan pemuda bisa bersatu, mempererat kedekatan dan sosialisasi. Tapi jangan sampai pembuatan ogoh-ogoh ini mengganggu kewajiban utama, terutama bagi adik-adik yang masih sekolah. Jam malam juga harus diatur,” pesannya.

Melalui karya Belog Megandong, STT Paramartha Kusuma tidak hanya menampilkan kreativitas artistik, tetapi juga menyampaikan refleksi sosial yang diangkat dari nilai-nilai lontar dan diterjemahkan dalam konteks kekinian. Ogoh-ogoh tersebut menjadi wujud peran aktif generasi muda dalam merawat tradisi sekaligus menyuarakan pesan moral kepada masyarakat luas. (MBP)

 

redaksi

Related post