Berawal dari Aksi Sosial saat Pandemi, Gde Rahmadi Sukses Bangun Usaha Ikan Bakar Bli Putu

 Berawal dari Aksi Sosial saat Pandemi, Gde Rahmadi Sukses Bangun Usaha Ikan Bakar Bli Putu

Menu bakaran di warung Ikan Bakar Bali Putu, Jimbaran.

MANGUPURA – baliprawara.com

Pandemi Covid-19 menjadi titik awal perjalanan Gde Rahmadi dalam membangun usaha kuliner ikan bakar Bli Putu, yang berlokasi di kawasan jalan Uluwatu II, Kuta Selatan, Badung. Berawal dari kegiatan sosial bersama komunitas Crew Jimbaran, ia kini mengembangkan bisnis makanan yang turut membuka peluang ekonomi.

Ketika Covid-19 melanda, ia diminta pihak desa untuk membantu masyarakat menghadapi situasi yang serba tidak pasti. “Bersama komunitas Crew Jimbaran, pemuda dari Sekaa Teruna Teruni (STT), dan warga Jimbaran, saya membentuk tim penanganan Covid-19,” kata Rahmadi yang juga Ketua Umum Jimbaran Bersatu, saat ditemui, Rabu 21 Oktober 2026.

Diceritakannya, program pertama yang dijalankan untuk penanganan Covid-19 saat itu adalah membuat masker kain untuk dibagikan kepada masyarakat. Setelah itu, mereka menyediakan disinfektan dan melakukan penyemprotan di sejumlah perumahan, bekerja sama dengan petugas Damkar Badung.

Dukungan kemudian datang dari warga perumahan yang memberikan bantuan sembako. “Sembako yang diterima itu kemudian kembali disalurkan kepada masyarakat terdampak, termasuk pekerja hotel yang dirumahkan dan warga kurang mampu,” kenangnya.

Kegiatan sosial tersebut kemudian berkembang menjadi awal usaha kuliner. Saat berkumpul di rumah, sejumlah temannya mengungkapkan kesulitan ekonomi karena kehilangan pekerjaan. “Mereka mulai meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan lain,” ucapnya.

Akibat pandemi yang cukup lama, tentu kondisi itu turut memengaruhi keuangan Gde Rahmadi. Usahanya mengalami penurunan, sementara tabungan yang digunakan untuk membantu teman-temannya semakin menipis. Dari situ, muncul gagasan untuk berjualan ikan bakar setelah mereka berkumpul dan memasak bersama.

Pada Juni 2020, ia kemudian mulai menjual ikan bakar dari rumah. Ia menyiapkan drum bekas sebagai alat pemanggang dan mengajak sekitar 50 teman yang sudah ia data untuk mencoba produknya. Setelah mendapatkan tanggapan positif, penjualan mulai dipasarkan dan pesanan berdatangan.

Usaha tersebut juga melibatkan orang-orang yang sebelumnya kehilangan pekerjaan. Bahkan ia juga membentuk tim pengiriman yang sempat beranggotakan 10 orang. Pemasaran dilakukan secara mandiri melalui jaringan pertemanan dan rekomendasi pelanggan, tanpa menggunakan jasa aplikasi pengiriman.

Pesanan pun berkembang hingga menjangkau luar Bali. Dalam satu pekan, pengiriman kerang ke Surabaya pernah mencapai sekitar 60 kilogram. Sejumlah pelanggan, termasuk kalangan artis, juga memesan produk ikan beku untuk dikirim ke Jakarta.

Seiring meningkatnya permintaan, ia akhirnya membuka warung di kawasan Jalan Tukad Balian, Denpasar. Namun, banyak pelanggan daring berasal dari wilayah Kuta Selatan. Jarak pengiriman membuat makanan tiba dalam kondisi dingin, sehingga ia mencari solusi dengan menggunakan aluminium foil khusus makanan.

Ia kemudian memilih untuk membuka warung di Jimbaran di lokasi saat ini. Ketika itu, pelanggan dari luar Bali, termasuk wisatawan asal Surabaya, mulai berdatangan. Kehadiran sejumlah artis dan influencer yang turut mengenalkan warung tersebut juga membantu memperluas jangkauan pelanggan hingga saat ini.

Namun, dari tujuh orang yang awalnya diajak merintis usaha, tiga orang masih bertahan. Sebagian lainnya memilih kembali bekerja di sektor perhotelan karena saat itu dinilai lebih menguntungkan.

Dengan semakin ramainya warung Ikan Bakar Bli Putu ini, ke depan ia juga mengembangkan layanan katering untuk acara di luar lokasi, termasuk pernikahan. Saat ini, layanan itu sudah mulai jalan dengan tim khusus untuk menangani pesanan tersebut. Tak hanya di Bali, ke depan, ia memiliki rencana membawa usaha kulinernya ke sejumlah kota besar di Indonesia dengan menyiapkan sistem pengembangan bisnis.

Dari perjalanan yang dialaminya, ada pesan yang bisa diambil bagi generasi muda. Yang mana menurutnya, dalam perjalanan membangun usaha, pentingnya mental dan modal bagi anak muda yang ingin berwirausaha. Menurutnya, modal dapat membantu seseorang memulai lebih mudah, tetapi ketahanan mental dibutuhkan untuk menghadapi kegagalan dan mencoba kembali.

Ia menyampaikan bahwa kegagalan menjadi bagian dari proses belajar. “Dengan terus mencoba dan memperbaiki kesalahan, seseorang dapat perlahan mencapai tujuan usaha yang diinginkan,” tutupnya. (MBP)

 

redaksi

Related post