Berkaca dari Banjir di Kedonganan, Tokoh Masyarakat Serukan Gerakan Kebersihan Lingkungan

 Berkaca dari Banjir di Kedonganan, Tokoh Masyarakat Serukan Gerakan Kebersihan Lingkungan

Tokoh masyarakat Kedonganan, Made Sumerta (kiri), mendampingi Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, saat meninjau kondisi banjir yang belum surut.

MANGUPURA – baliprawara.com
Kawasan Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, hingga Sabtu 28 Februari 2026 masih dikepung genangan air. Banjir yang terjadi sejak Senin 23 Februari 2026 itu belum sepenuhnya surut dan kini telah memasuki hari keenam.

Genangan air terlihat masih bertahan di sejumlah titik pemukiman warga. Aktivitas masyarakat pun terdampak, terutama di lingkungan perumahan dan ruas jalan yang berada di dataran lebih rendah. Warga berharap penanganan bisa segera tuntas agar aktivitas kembali normal.

Situasi ini mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Pemerintah Kabupaten Badung pun langsung merespons dengan menurunkan mesin pompa dan memastikan langkah penanganan berjalan optimal.

Wakil Bupati Badung turun langsung ke lokasi pada Jumat 27 Februari 2026 untuk melihat kondisi terkini di lapangan. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai upaya percepatan penanganan genangan yang belum surut sepenuhnya.

Dalam peninjauan tersebut, Wakil Bupati memastikan koordinasi antarinstansi berjalan baik, termasuk dalam hal pompanisasi dan pembersihan saluran air yang tersumbat. Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya untuk terus melakukan langkah-langkah antisipatif agar kejadian serupa dapat diminimalisasi di masa mendatang.

Kondisi banjir yang berkepanjangan ini juga menjadi perhatian tokoh masyarakat setempat, Made Sumerta. Ia menilai persoalan genangan air tidak hanya berkaitan dengan intensitas hujan, tetapi juga kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Menurutnya, edukasi terkait kebersihan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah, harus terus digaungkan sejak dini. Kesadaran menjaga lingkungan tidak hanya dimulai dari rumah masing-masing, tetapi juga diterapkan di jalan dan lingkungan sekitar.

Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menata lahan rumah. Sumerta mengingatkan agar lahan rumah tidak sepenuhnya ditutup beton atau batu sikat tanpa menyisakan area resapan air.

See also  Koalisi Golkar dan NasDem Semakin Kuat Untuk Pilkada Serentak

Konsep peresapan air dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang. “Setiap rumah diharapkan memiliki area tanah terbuka yang dapat menyerap air hujan serta berfungsi sebagai daya tampung alami ketika curah hujan tinggi terjadi,” kata Sumerta, Sabtu 28 Februari 2026.

Selain itu, peran pemerintah di tingkat paling bawah juga dianggap sangat penting. Ia berharap lurah, perbekel, hingga kepala lingkungan dapat menggerakkan kembali budaya gotong royong di masing-masing wilayah.

Sumerta juga mendorong efektivitas penerapan tebe modern di setiap rumah dengan memanfaatkan komposter. Konsep ini dinilai mampu membantu pengelolaan sampah organik sekaligus mendukung kebersihan lingkungan secara menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan krama adat dalam mewujudkan langkah-langkah tersebut. “Kolaborasi lintas unsur menjadi kunci agar upaya penanganan tidak hanya bersifat sementara, melainkan berkelanjutan,” ucapnya.

Di sisi lain, Sumerta memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah yang selama ini rutin melakukan antisipasi terhadap titik-titik rawan banjir. Ia menyebut perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang matang menjadi langkah strategis yang sudah mulai disiapkan.

Untuk tahun 2026 dan 2027, pemerintah disebut telah merancang pembangunan got, saluran air, serta sumur resapan di sejumlah lokasi. Perencanaan tersebut tetap memperhatikan saluran akhir pembuangan air, ketinggian jalan, serta lebar jalan agar sistem drainase berjalan efektif.

Namun demikian, ia mengingatkan agar kualitas pembangunan juga menjadi perhatian utama. Infrastruktur yang dibangun diharapkan memiliki mutu yang baik sehingga mampu bertahan dalam jangka panjang dan tidak mudah rusak saat menghadapi curah hujan ekstrem.

Sebagai langkah membangun kesadaran kolektif, Sumerta juga mengusulkan agar digelar lomba kebersihan lingkungan secara rutin. Lomba tersebut dapat meliputi kebersihan saluran air, penerapan tebe modern, hingga tamanisasi di lingkungan warga.

See also  Permudah Akses Nelayan, Kawasan Mangrove Ulam Sari Kedonganan Mulai Dibangun Akses Pantau

Ia mencontohkan pelaksanaan lomba kebersihan yang bisa digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun. Momentum tersebut dinilai tepat untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan adanya kegiatan rutin semacam itu, diharapkan muncul motivasi dan kesadaran awal masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan. Langkah preventif tersebut diyakini dapat membantu mencegah banjir sejak dini, terutama saat musim penghujan tiba. (MBP)

 

redaksi

Related post