“Fokus”, Kiat Strategis Kembangkan COCO Group, dari Tiga Karyawan Kini 3 Ribu
I Nengah Natyanta dan Ni Ketut Siti Maryati
DENPASAR – baliprawara.com
Membangun sebuah usaha mesti fokus dan kerja keras, disertai semangat yang luar biasa. Prinsip itulah rupanya selalu dipegang teguh pemilik COCO Group dalam mengembangkan usahanya selama ini. Sehingga, COCO Group di usianya 26 tahun tetap eksis dan berkembang.
Bermula dari bisnis ritel, kemudian berkembang menjadi ekosistem usaha yang mencakup berbagai sektor, termasuk hospitality, food & beverage, bakery, dan lifestyle. Usaha itu di antaranya COCO Mart, COCO Express, COCO Gourmet, COCO Supermarket, COCO Signature, COCO Dewata, COCO Roti, Natya Hotel & Resort, Natys Restaurant, dan Blue Surf.
Kini, perusahaan ini tak hanya hadir di Bali, tetapi telah merambah luar Bali seperti Gili Terawangan Lombok dan kawasan IKN, Kalimantan Timur.
Siapakah pendiri sekaligus pemilik COCO Group? Kemudian, seperti apa perjalanan usahanya?
COCO Group dibangun oleh pasangan suami-istri asal Bali, I Nengah Natyanta (mantan karyawan hotel asal Sidemen, Karangasem) dan Ni Ketut Siti Maryati (mantan karyawan supermarket, kelahiran Pejaten, Tabanan.)
”Kami bangun usaha ini sejak 1998 dengan semangat kerja keras dan fokus. Diawali dengan tiga orang karyawan, dan saat ini COCO Group dan sister company-nya telah memiliki tiga ribu karyawan. Kami harap ke depan, COCO Group selalu berkembang, tumbuh lebih sehat dan lebih kuat, ” ujar I Nengah Natyanta dan Ni Ketut Siti Maryati, saat jumpa pers pelaksanaan COCO Fair 2026 di Living World Denpasar, Senin (24/8/2026).
Mengusung “The R3 Formula: Rhythm, Reels, Retail”, festival yang berlangsung 7 hari– mulai 24 hingga 30 Agustus 2026 ini,
memadukan hiburan, kreativitas digital, pengalaman retail, inovasi aplikasi, kolaborasi, dan dukungan terhadap UMKM lokal Bali.
Usaha pertama yang dibangun pasangan suami istri ini adalah toko baju, di Nusa Dua, menggandeng brand ternama. Bisnis jualan baju ini pun terus bertumbuh di area pariwisata tersebut. Selain itu, mereka juga membuat restoran di tahun 2000. Namanya, COCO Bistro. Dinamai COCO Bistro, karena di tengah-tengah restoran itu ada pohon palm. COCO diambil dari kata coconut. COCO Bistro, restoran pertama mereka di Nusa Dua area.
Seiring waktu, perjalanan bisnisnya di dunia pariwisata melewati banyak peristiwa. Ada kasus SARS, bom Bali 1, bom Bali 2, Covid-19 dan lain-lain. Peristiwa itu berdampak terhadap bisnis di dunia pariwisata. Di samping itu, seperti diketahui bersama, kunjungan wisatawan mengalami up and down. Saat peak season, kunjungan wisatawan bagus. Sedangkan pada saat low season, terkadang sepi. Dari situlah ada pemikiran untuk merambah bisnis yang lain agar bisa sustain atau long term. Akhirnya, mereka tidak hanya berbisnis di pariwisata, tetapi memulai bisnis local dengan berjualan sembako dengan konsep yang lebih modern pada tahun 2006. Konsumennya pun berdatangan. Ketika itu toko modern berjaringan belum ada di Bali.
Cuma, karena terbiasa berbisnis di pariwisata dengan margin yang besar, sedangkan bisnis berjualan sembako marginnya kecil, Siti Maryati sempat ragu. “Saya sempat tanya sama suami, ini bisnis apa sih? Kerjaannya banyak, namun untungnya kecil. Namun, suami bilang, bisnis yang bagus itu adalah bisnis yang stabil dan berkecenderungan naik. Kata suami, bisnis berjualan sembako itu bagus dan punya masa depan. Karena itu kami berjualan sembako, ” kata Siti Maryati.
Kiat Strategis Kembangkan Usaha
Ditanya apa kiat sukses mengembangkan COCO Group? Nengah Natyanta mengatakan, kiat strategis mengembangkan usaha, di antaranya dengan melakukan inovasi sesuai perkembangan zaman. Tentu dilandasi semangat tinggi, kerja keras dan fokus. Di era digital, COCO Group juga beradaptasi di antaranya dengan membangun e-commerce dan sebagainya. “Jika kita komit membangun usaha dan terus melakukan inovasi, pasti akan membaik dan bertumbuh, ” ujar Natyanta.
Senada disampaikan Natyanta. Kata Siti Maryati, kiat yang dijalankan selama ini dalam berbisnis adalah fokus. Dalam perjalanan bisnis, memang banyak hal yang terjadi. Muncul banyak tantangan dan masalah. Tapi ketika masalah bisa diatasi, di situlah kesuksesan diraih. Jadi, menurutnya, arti sebuah kesuksesan apabila bisa menyelesaikan setiap masalah yang datang. Apabila masalah bisa diselesaikan step by step, sukses menyertai.
”Membangun usaha mesti didasari niat dan kerja keras, kemudian harus fokus. Itulah yang kami lakukan selama ini sehingga COCO Group bisa eksis sampai sekarang,” ujar Siti Maryati sembari menambahkan bahwa suaminya memiliki naluri bisnis yang baik dan selalu fokus. Dan, di satu sisi dirinya juga bisa mensupport pada bidang yang lainnya. Dalam berbisnis, mereka selalu melakukan kolaborasi sesuai dengan strong atau talenta masing-masing.
Lulus SMA Berjualan Balsem
Proses perjalanan bisnis mereka cukup panjang. Ni Ketut Siti Maryati yang lahir di Pejaten, Tabanan, setelah tamat SMAN 2 Tabanan tahun 1992, langsung mencari pekerjaan. Pertama kali pekerjaannya adalah berjualan balsem keliling. Ia memang seorang fighter. Apapun pekerjaannya, ia berusaha melakoni sampai berhasil.
Berhenti berjualan balsem, Siti Maryati bekerja di Tragia Supermarket, Nusa Dua selama 3 tahun. Setelah itu ia pindah ke Batik Keris sebagai seorang SPG juga. “Selama bekerja di supermarket dan di Batik Keris, banyak hal yang saya pelajari. Pengalaman dan ilmu yang saya dapat, kemudian dipraktikkan di dunia bisnis,” katanya.
Keluar dari Batik Keris, Siti Maryati memutuskan berbisnis. Karena memiliki modal terbatas, ia pun joint bisnis dengan teman-temannya yang memiliki modal.
Ia bertemu sang suami I Nengah Natyanta di Nusa Dua, karena sama-sama bekerja di daerah pariwisata tersebut. Suaminya seorang karyawan di Grand Hyatt Nusa Dua. Sedangkan dirinya bekerja di supermarket Tragia Nusa Dua. “Kami bertemu tahun 1992, kemudian menikah tahun 2000,” ujarnya.
Siti Maryati merintis bisnis duluan, sedangkan suaminya bekerja di Grand Hyatt. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya suaminya memutuskan ikut membangun bisnis bersama-sama di tahun 2004. (MBP2)
