Gaya Hidup Antar Generasi Berubah: Masih Kuatkah Spirit Gotong Royong?
Nyoman Keramas
Oleh : I Nyoman Keramas, S.E., M.M
Kemajuan teknologi telah mendekatkan manusia dengan dunia, tetapi belum tentu mendekatkan manusia dengan sesamanya. Perubahan zaman selalu melahirkan perubahan cara berpikir, gaya hidup, dan cara memandang hubungan antarmanusia. Apa yang dianggap sebagai kewajiban sosial oleh satu generasi, belum tentu dipandang sama oleh generasi berikutnya. Begitu pula dalam menjalankan ajaran agama, kehidupan bermasyarakat, dan hubungan kekeluargaan.
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul fenomena yang menarik. Semakin modern suatu masyarakat, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mudah akses informasi, namun pada saat yang sama muncul kecenderungan sebagian orang untuk berkata:
“Saya tidak mau ikut campur urusan orang lain.” Kalimat tersebut terdengar bijaksana. Bahkan sering dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi orang lain. Namun, benarkah semua bentuk kepedulian merupakan “ikut campur”? Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman.
Setiap Generasi
Dibentuk oleh Zamannya
Karakter suatu generasi tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi pada masa mereka tumbuh.
Silent Generation tumbuh pada masa perang dan kesulitan ekonomi. Mereka belajar hidup sederhana, saling membantu, dan mengutamakan kebersamaan.
Baby Boomers lahir ketika pembangunan sedang berkembang. Mereka dibesarkan dengan nilai kerja keras, gotong royong, menghormati orang tua, serta menjaga hubungan keluarga besar dan masyarakat.
Generasi X mulai mengenal modernisasi. Mereka lebih mandiri, tetapi masih mempertahankan keseimbangan antara keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Generasi Milenial tumbuh bersama internet. Mereka menghargai kebebasan memilih, keseimbangan hidup, dan lebih selektif dalam membangun relasi sosial.
Generasi Z lahir sebagai generasi digital. Mereka terbiasa berkomunikasi melalui media sosial, menghargai ruang pribadi, dan lebih kritis terhadap berbagai norma sosial.
Tidak ada generasi yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Setiap generasi memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing.
Dari Gotong Royong
Menuju Individualisme
Dahulu, ketika ada tetangga sakit, masyarakat datang membantu tanpa harus diustrong Ketika ada keluarga berduka, seluruh warga ikut mempersiapkan upacara.
Ketika ada pembangunan pura atau balai banjar, masyarakat bergotong royong tanpa menghitung untung rugi. Sekarang, sebagian masyarakat mulai berpikir: “Kalau tidak diminta, saya tidak mau ikut campur.”
Perubahan ini dipengaruhi oleh urbanisasi, kesibukan pekerjaan, mobilitas tinggi, perkembangan teknologi, dan semakin kuatnya penghargaan terhadap privasi individu.
Akibatnya, hubungan sosial perlahan berubah dari budaya “kita” menjadi budaya “saya.”
Apa Sebenarnya Arti “Ikut Campur Urusan Orang Lain”? Inilah yang sering disalahartikan. Ikut campur berarti memasuki urusan pribadi seseorang tanpa hak, tanpa diminta, lalu mengendalikan, menghakimi, memaksa, atau membuat keputusan yang seharusnya menjadi hak orang tersebut.
Contohnya: Memaksa seseorang mengikuti pilihan hidup kita; Menyebarkan persoalan rumah tangga orang lain; Mengatur keputusan pribadi tanpa diminta; Mencampuri konflik yang tidak kita pahami sehingga memperkeruh keadaan. Itulah yang disebut ikut campur.
Namun berbeda dengan peduli. Peduli adalah memberikan bantuan, perhatian, atau dukungan yang bermanfaat tanpa mengambil alih hak orang lain. Contohnya: Membantu tetangga yang sakit; Ikut mengantar ke rumah sakit; Membantu keluarga yang sedang berduka; Bergotong royong dalam kegiatan adat; Menyumbang tenaga, waktu, atau pikiran untuk kepentingan bersama; dan Membantu korban bencana.
Semua itu bukanlah ikut campur. Itulah nilai luhur kemanusiaan. Bahkan dalam banyak ajaran agama, termasuk Hindu, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari Dharma.
Perspektif Agama Hindu
Dalam Hindu dikenal ajaran Tat Twam Asi, yang berarti “Aku adalah engkau, engkau adalah aku.” Maknanya sangat dalam.
Ketika orang lain menderita, sesungguhnya kita ikut merasakan penderitaannya.
Ketika orang lain bahagia, kita ikut bersukacita.
Demikian pula konsep Tri Hita Karana mengajarkan bahwa kebahagiaan lahir dari keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Artinya, manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Membantu sesama bukan berarti melanggar privasi, melainkan menjalankan Dharma.
Mengapa sebagian generasi terlihat lebih individualistis? Fenomena ini tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan karakter generasi. Ada banyak faktor yang memengaruhi, antara lain:Tekanan pekerjaan yang semakin tinggi; Mobilitas yang semakin cepat; Kehidupan di kota besar; Pengaruh media sosial; Budaya global yang lebih menekankan kemandirian individu; dan Semakin sempitnya waktu untuk berinteraksi secara langsung.
Akibatnya, sebagian orang merasa bahwa selama dirinya tidak mengganggu orang lain, maka ia sudah menjalankan kewajibannya sebagai warga masyarakat. Padahal kehidupan sosial tidak cukup hanya dengan tidak mengganggu. Kehidupan sosial memerlukan kepedulian aktif.
Menjaga Keseimbangan
Kita memang tidak boleh terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain.Namun kita juga tidak boleh kehilangan rasa empati.
Menghormati privasi tidak berarti menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Tidak ikut mengatur hidup orang lain bukan berarti berhenti menjadi manusia yang peduli. Keseimbangan inilah yang harus dijaga. Peduli tanpa memaksa;
Membantu tanpa menguasai; dan
Memberi tanpa menghakimi.
Jadi, setiap generasi memiliki cara hidup yang berbeda karena dibentuk oleh zamannya. Generasi Baby Boomers dikenal kuat dalam semangat gotong royong dan hubungan kekeluargaan. Generasi setelahnya membawa nilai-nilai baru seperti efisiensi, kemandirian, dan penghormatan terhadap ruang pribadi. Nilai-nilai tersebut tidak harus dipertentangkan. Yang perlu dijaga adalah agar modernisasi tidak mengikis kepedulian.
Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan suatu bangsa bukan hanya dilihat dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari sejauh mana manusianya masih memiliki hati untuk saling menolong.
Jangan sampai kita hidup di zaman yang semakin cerdas, tetapi kehilangan kepekaan.
Jangan sampai kita semakin menghormati privasi, tetapi lupa memelihara empati.
Sebab masyarakat yang kuat bukan dibangun oleh orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, melainkan oleh orang-orang yang masih bersedia berkata, “Apa yang bisa saya bantu?” (*)
Penulis, pengamat ekonomi dan praktisi perbankan.
