Kesadaran Pemilahan Sampah di Bali Capai 71 Persen, Menteri LH Sebut Penanganan Sampah Sudah di Jalur yang Tepat

 Kesadaran Pemilahan Sampah di Bali Capai 71 Persen, Menteri LH Sebut Penanganan Sampah Sudah di Jalur yang Tepat

Menteri Mohammad Jumhur Hidayat, saat meninjau TPST Tahura Ngurah Rai, Denpasar, Selasa 9 Juni 2026. (ist)

DENPASAR – baliprawara.com
Upaya penanganan sampah di Bali menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pemerintah pusat menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat telah menghasilkan kemajuan nyata, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, saat meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura Ngurah Rai di kawasan Suwung, Denpasar, Selasa 9 Juni 2026.

Fasilitas pengolahan sampah tersebut disiapkan untuk mengurangi timbunan sampah perkotaan dengan kapasitas pengolahan ratusan ton sampah setiap hari. Sampah yang masuk nantinya akan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif.

Menteri Lingkungan Hidup RI, Mohammad Jumhur Hidayat, menyebut berbagai persoalan sampah yang sempat menjadi sorotan di Bali kini telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.

“Sejak tersiar kabar ada masalah sampah di Bali, khususnya di Bandung dan Denpasar, ini sudah terjadi kemajuan yang luar biasa lah begitu ya. Mereka sangat serius berkolaborasi, tidak hanya pihak pemerintah, kabupaten atau kota dan juga provinsi, tapi juga masyarakat,” ujar Mohammad Jumhur Hidayat usai peninjauan.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Salah satu indikator yang terlihat adalah meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah.

“Misalnya gerakan pilah sampah itu saya dapat laporan dari Kapusdal, di sini sudah 71 persen orang memilah dengan sadar gitu ya. Masih ada yang masih belum, tapi kan memang butuh waktulah,” katanya.

Selain pemilahan yang dilakukan masyarakat, proses pemisahan sampah juga kembali dilakukan di TPST Tahura Ngurah Rai sebelum sampah masuk ke tahapan pengolahan berikutnya.

Menteri Jumhur menjelaskan bahwa sampah organik yang dihasilkan dari proses tersebut akan dikirim ke Kabupaten Klungkung untuk diolah lebih lanjut. Sementara sampah yang memiliki potensi sebagai bahan bakar akan diproses menjadi RDF.

“Dan di sini tadi barusan kita datang ke TPST di Tahura Denpasar, itu memang ada proses pemilahan lagi di situ. Sebagian yang organiknya ke Klungkung, kemudian yang RDF-nya bisa jadi bahan bakar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengolahan sampah organik di Klungkung ke depan juga akan dikembangkan menjadi bahan pengganti batu bara yang memiliki nilai kalor tinggi. “Bahkan nanti yang ke Klungkung itu sebentar lagi akan dikelola menjadi semacam pengganti batubara kompos, apa namanya, bahan baku dari kompos itu, itu tinggi kalorinya. Dan itu sedang diproses, tadi mesinnya sudah ada, kira-kira bulan Agustus,” jelasnya.

Dengan berbagai fasilitas yang mulai beroperasi dan dukungan masyarakat yang semakin meningkat, pemerintah optimistis sistem pengelolaan sampah di Bali akan semakin efektif dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan bahwa langkah-langkah yang saat ini dijalankan sudah berada di arah yang benar dan perlu terus diperkuat melalui kolaborasi seluruh pihak.
“Jadi sebenarnya ini sudah pada track yang benar gitu ya, dan kita mendorong terus,” tegasnya.
Keberhasilan gerakan pemilahan sampah yang telah mencapai angka 71 persen tersebut menjadi salah satu indikator penting bahwa perubahan perilaku masyarakat mulai terbentuk. Pemerintah berharap capaian tersebut terus meningkat sehingga target pengurangan sampah dari sumbernya dapat tercapai secara maksimal.
Pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi RDF maupun bahan bakar alternatif lainnya juga diharapkan mampu mendukung upaya pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menciptakan sistem ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan. (MBP)

 

redaksi

Related post