Made Kamardiyana Dorong Pengelolaan Potensi Desa Pejeng Lewat BUMDes
Tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana. (ist)
GIANYAR – baliprawara.com
Desa Pejeng di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, menyimpan sejumlah potensi yang dinilai mampu menjadi motor penggerak pembangunan desa di masa depan. Tokoh muda setempat, I Made Kamardiyana, melihat sedikitnya tiga sektor yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, yakni pertanian organik, pelestarian sumber mata air, serta konservasi burung curik Bali.
Ketiga sektor tersebut tidak hanya difokuskan pada upaya menjaga lingkungan dan warisan alam desa, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat secara luas. Nantinya, berbagai potensi tersebut direncanakan dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga hasilnya dapat menjadi sumber pendapatan desa.
Kamardiyana, yang akrab disapa Kadek, bukan sosok baru dalam pengembangan potensi lokal. Sebelum terjun ke sektor pertanian, ia sempat berkarier sebagai manajer di sebuah perusahaan perjalanan wisata. Namun pada 2016, ia memutuskan meninggalkan pekerjaan tersebut dan fokus mengembangkan pertanian organik melalui Mai Organic.
Pengalaman membangun usaha pertanian organik menjadi landasan bagi Kamardiyana untuk melihat peluang lain yang dimiliki Desa Pejeng. Dari sana, ia mulai terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, termasuk menjaga keberadaan sumber mata air Beji Suganti dan Beji Apit Aungan, serta mendukung konservasi burung curik Bali.
Perhatian terhadap Beji Suganti muncul saat dirinya menjabat sebagai Kelian Dinas Banjar Panglan. Dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan, ia melihat banyak pamedek lanjut usia yang datang untuk mengikuti prosesi ngabejian. Bahkan tidak sedikit yang datang bersama cucu mereka.
Kondisi tersebut membuatnya memikirkan aspek keamanan dan kenyamanan masyarakat saat menjalankan rangkaian upacara keagamaan. Berangkat dari kondisi itu, ia bersama masyarakat melakukan koordinasi dan penataan kawasan Beji Suganti agar lebih aman serta nyaman digunakan. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan warga.
Permasalahan serupa juga ditemukan di kawasan Beji Apit Aungan yang kerap digunakan untuk upacara ngening. Sumber mata air tersebut sempat mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang. Selain itu, kondisi lingkungan yang kurang terawat, keberadaan sampah, serta akses tangga yang tidak nyaman menjadi kendala bagi masyarakat, khususnya perempuan yang membawa perlengkapan upacara.
Di sisi lain, kawasan lahan di bagian atas sumber mata air telah berada dalam penguasaan investor. Meski demikian, berbagai langkah perbaikan dan pemeliharaan tetap dilakukan agar lokasi tersebut kembali layak digunakan sebagai sarana kegiatan spiritual masyarakat.
Menurut Kamardiyana, pelestarian sumber mata air tidak bisa dilakukan hanya sekali. Pemeliharaan harus berjalan secara berkelanjutan dan memerlukan dukungan pembiayaan yang memadai. Karena itu, ia menggagas pengembangan pariwisata spiritual yang nantinya dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bagi upaya pelestarian tersebut.
“BUMDes dipilih sebagai pengelola karena dinilai mampu mengakomodasi kepentingan seluruh banjar di Desa Pejeng. Dengan sistem tersebut, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan kelompok tertentu, melainkan dapat kembali kepada masyarakat secara menyeluruh,” kata Kamardyana, dalam keterangannya Jumat 18 September 2026.
Selain sumber mata air, konservasi curik Bali juga menjadi perhatian utama. Burung endemik yang tergolong langka itu dinilai memiliki daya tarik tinggi sekaligus nilai edukasi yang besar. Program konservasi diharapkan dapat menjadi sarana memperkenalkan kekayaan lingkungan dan budaya Desa Pejeng kepada masyarakat maupun wisatawan.
Namun demikian, kegiatan konservasi memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit, termasuk untuk kebutuhan pakan dan perawatan. Oleh sebab itu, pengembangan sektor pariwisata dipandang sebagai salah satu solusi untuk mendukung keberlangsungan program tersebut.
Ke depan, BUMDes Pejeng direncanakan tidak hanya berperan sebagai pengelola usaha desa, tetapi juga menjadi fasilitator dan penghubung berbagai produk pertanian, hasil karya masyarakat, serta potensi lokal dengan pasar yang lebih luas, termasuk jaringan internasional.
Melalui konsep tersebut, Kamardiyana menegaskan bahwa seluruh program yang disiapkan bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat desa. Pendapatan yang diperoleh nantinya akan menjadi bagian dari pendapatan asli desa dan digunakan kembali untuk mendukung pembangunan serta pengembangan program-program berikutnya. Dengan demikian, pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi desa dapat berjalan beriringan dalam satu sistem yang saling mendukung. (MBP)
