Pelestarian Budaya dan Lingkungan, Jadi Kunci Mendorong Ekonomi Desa Pejeng
Tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana. (ist)
GIANYAR – baliprawara.com
Pelestarian budaya dan lingkungan tidak hanya berfungsi menjaga warisan leluhur dan kelestarian alam, tetapi juga dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang terus didorong tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana.
Menurut Kamardiyana, keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan konservasi dan pelestarian menjadi faktor penting untuk menciptakan manfaat yang lebih luas. Ketika warga terlibat secara aktif, kegiatan pelestarian tidak berhenti pada aspek lingkungan dan budaya semata, melainkan dapat berkembang menjadi sumber penggerak ekonomi yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Selama bertahun-tahun, Kamardiyana telah menjalankan berbagai program yang menggabungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Berawal sekitar 16 tahun lalu, ia merintis kebun organik yang kemudian berkembang menjadi komunitas bernama Mai Organic di Banjar Panglan, Desa Pejeng.
Komunitas tersebut kini aktif menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan konservasi lingkungan sekaligus pelestarian budaya lokal. Berbagai program yang dijalankan juga melibatkan masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Dedikasinya di bidang pertanian berkelanjutan dan pelestarian lingkungan mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Gianyar. Kamardiyana menerima penghargaan Anugerah Citra Karya Raksita 2026 yang diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-255 Kota Gianyar.
Penghargaan tersebut diraih berkat inovasi pakan fermentasi berbahan dasar limbah upacara yang dikembangkannya. Inovasi tersebut mengantarkan Kamardiyana menjadi penerima penghargaan kategori Terbaik Inovasi Bidang Kelautan dan Perikanan. Dalam kategori tersebut hanya satu inovator yang terpilih, dengan penilaian mencakup kematangan konsep hingga pemaparan inovasi yang dilakukan.
Kamardiyana menilai kegiatan pelestarian memiliki potensi besar untuk menghadirkan efek ekonomi yang nyata. Salah satu contoh yang disampaikannya adalah kegiatan pelepasliaran jalak Bali yang melibatkan berbagai institusi dari dalam maupun luar negeri.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah bahkan mancanegara tidak hanya tertarik pada upaya konservasi satwa, tetapi juga ingin mengenal lebih jauh budaya serta potensi yang dimiliki Desa Pejeng. Saat kegiatan berlangsung, ratusan peserta membutuhkan berbagai layanan seperti konsumsi dan kebutuhan lainnya yang sebagian besar disediakan oleh warga setempat.
Kondisi tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang secara langsung memberikan manfaat kepada masyarakat lokal. “Kegiatan konservasi dapat dikembangkan menjadi bagian dari konsep pariwisata regeneratif yang tidak hanya menghadirkan wisatawan, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan lingkungan,” katanya dalam keterangannya, Sabtu 5 September 2026.
Selain pelepasliaran jalak Bali, kegiatan pelestarian sumber mata air atau beji juga dinilai memiliki dampak serupa. Program konservasi tersebut melibatkan gotong royong berbagai pihak, baik masyarakat lokal maupun kelompok pemerhati lingkungan dari luar daerah.
Dengan semakin banyaknya orang yang datang untuk mengikuti kegiatan pelestarian, kebutuhan akan sarana pendukung seperti konsumsi, akomodasi, hingga jasa lokal ikut meningkat. Hal itu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan potensi Desa Pejeng kepada publik yang lebih luas. (MBP)
