Maskot PKB, Siwanataraja Simbol Kreativitas dan Spiritualitas dalam Berkesenian
Pada PKB ke-48, Tari Siwa Nataraja disajikan dalam garapan “Mahamredangga Kalpa” merupakan kolaborasi Komunitas Seni Usadhi Langu dan ISI Bali.
DENPASAR – baliprawara.com
Setiap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB), simbol yang memiliki makna filosofis mendalam, yakni Siwanataraja, selalu dihadirkan sebagai pembuka pawai PKB. Simbol Dewa Siwa sebagai Raja Tari tersebut tidak hanya menjadi logo PKB, tetapi juga merepresentasikan semangat kreativitas, pelestarian budaya, dan perjalanan spiritual masyarakat Bali. Lalu, kenapa Siwanataraja dijadikan ikon PKB?
Guru Besar Ilmu Pariwisata Budaya dan Agama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par., menjelaskan bahwa seni tari sejak zaman prasejarah hingga era modern memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Tari tidak semata-mata menjadi sarana hiburan, melainkan juga media spiritual, penguat solidaritas sosial, serta sarana mengekspresikan nilai-nilai budaya dan keagamaan.
Menurut Prof. Sumadi, dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas keagamaan. Berbagai bentuk kesenian, seperti tari, tabuh, seni suara, seni rupa, dan kriya dipersembahkan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Keindahan dalam seni merupakan salah satu manifestasi kemahakuasaan Tuhan. Karena itu, seni tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali,” ujar Prof. Sumadi.
Ia menjelaskan, Siwanataraja merupakan manifestasi Dewa Siwa sebagai Raja Tari yang menampilkan tarian kosmis atau cosmic dance. Tarian tersebut melambangkan proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta yang berlangsung secara harmonis.
“Gerak tari Siwanataraja menggambarkan dinamika kehidupan yang terus bergerak dan berubah, namun tetap berada dalam keseimbangan kosmis. Simbol ini menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai bentuk ekspresi seni dan budaya di Bali,” katanya.
Menurut Prof. Sumadi, makna filosofis Siwanataraja sangat relevan dengan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Karena itu, sejak awal penyelenggaraannya, Siwanataraja dipilih sebagai lambang PKB karena mencerminkan semangat kreativitas yang tidak pernah berhenti.
Melalui berbagai pertunjukan tari, karawitan, teater, seni rupa, sastra, dan seni tradisi lainnya, PKB menjadi ruang aktualisasi semangat tersebut. Para seniman Bali terus menggali inspirasi dari alam, tradisi, kehidupan sosial, hingga perkembangan zaman untuk melahirkan karya-karya yang inovatif tanpa meninggalkan akar budayanya.
“Siwanataraja mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Kebudayaan harus terus hidup melalui proses penciptaan, pelestarian, dan pembaruan,” tegasnya.
Prof. Sumadi juga menjelaskan bahwa dalam tradisi seni Bali dikenal klasifikasi Tari Wali, Tari Bebali, dan Tari Balih-balihan. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, namun saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya Bali.
Menurutnya, karya-karya Balih-balihan yang banyak ditampilkan dalam PKB menunjukkan bagaimana tradisi dapat terus berkembang melalui revitalisasi dan aktualisasi budaya. Setiap gerak tari, irama musik, dan ekspresi artistik menjadi refleksi upaya manusia memahami serta merayakan keindahan alam semesta.
Di tengah derasnya arus globalisasi, lanjut Prof. Sumadi, inovasi dan pembaruan seni yang berlangsung dalam PKB memiliki peran strategis dalam menjaga sistem nilai budaya bangsa.
“Pesta Kesenian Bali bukan hanya festival seni atau tontonan budaya. PKB merupakan perwujudan filosofi Siwanataraja yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah tarian kosmis yang terus bergerak. Melalui seni, masyarakat diajak memahami keindahan, keharmonisan, dan dinamika kehidupan serta hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesamanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Siwanataraja sebagai lambang PKB mengandung pesan bahwa kreativitas merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual dan kebudayaan manusia. Selama semangat berkarya, melestarikan, dan memperbarui tradisi terus hidup, kebudayaan Bali akan tetap tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Maskot PKB
Tim Kurator PKB 2026, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengatakan, dalam setiap pelaksanaan pawai pembukaan PKB, Tari Siwanataraja selalu disajikan melalui garapan seni pertunjukan yang atraktif. Siwanataraja dijadikan maskot PKB yang dalam konteks kesenian, merupakan manivestasi Siwa sebagai raja diraja yang menciptakan keteraturan dunia dengan cara menari. Tari ini disajikan oleh mahasiswa dan dosen Instiut seni Indonesia (ISI) Bali.
“Makanya sikap pada logo Siwa Nataraja itu kan manari. Dengan cara menari, seperti menghentakian kaki dan melalui gerak mudra itulah Dewa Siwa memutar dunia melalui gerak tari. Sebelumnya keadaan dunia statis atau tidak berputar, sehingga tidak ada kehidupan dimuka bumi ini,” kata Prof. Arya Sugiartha.
Artinya, sebelum itu di muka bumi ini tidak ada kehidupan. Dunia kacau dan tidak stabil.
Dewa Siwa kemudian memutar dunia dengan menari, maka munculan keteraturan. Dari keteraturan itu baru kemudian ada kehidupan. Tumbuh-tumbuhan mulai hidup, lalu muncul kehidupan binatang dan selanjutnya manusia hidup untuk mengatur kehidupan itu. “Dengan cara menari seperti itulah Dewa Siwa menciptakan keteraturan dunia ini,” tegas Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini.
Walau demikian, setiap penyajiaannya di PKB selalu dengan garapan yang baru. Setiap tahun ISI Bali menawarkan kreativitas dan inovasi seni yang berbeda. Itu artinya tari itu disajikan dengan kreativitas seni yang menarik. Bahkan, sejak jaman Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), lalu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) hingga kini menjadi ISI Bali, saelalu menyajikan Tari Siwanataraja dalam pembukaan PKB.
“Yang penting tetap figur Siwa Nataraja, tetapi terus digarap baru, tidak sama seperti sebelumnya. Setiap perbedaan itu karena ada unsur kreativitasnya, termasuk juga di dalam iringannya yang terus berinovasi, sehingga selalu menjadi garapan baru yang tidak menjemukan. Itu minotologi Siwa Nataraja,” imbuhnya. (MBP2)
