Melaspas dan Mendak Bagia Pula Kerthi di Pura Hulundanu Batur Dipuput Lima Sulinggih

 Melaspas dan Mendak Bagia Pula Kerthi di Pura Hulundanu Batur Dipuput Lima Sulinggih

Prosesi Mendak Bagia Pula Kerthi di Pura Hulundanu Batur. (ist)

BANGLI – baliprawara.com

Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang digelar di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, memasuki tahapan penting. Bertepatan dengan Buda Wage Menail pada Rabu 9 September 2026, sejumlah prosesi suci kembali dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan berbagai unsur adat, sulinggih, serta krama yang ngayah dalam pelaksanaan yadnya tersebut.

Sejak pagi hari, suasana religius sudah terasa di sejumlah lokasi yang menjadi pusat pelaksanaan upacara. Berbagai tahapan ritual dijalankan sesuai tatanan dan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran para pemangku adat dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran seluruh rangkaian karya.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan upacara Melaspas serta Mendak Bagia Pula Kerthi yang berlangsung di Pura Pemapagan, sekitar dua kilometer dari kawasan Pura Hulundanu Batur. Prosesi tersebut dipuput oleh Ida Rsi Bhujangga Putra Celagi Dharma Yoga dari Songan, Ida Pandita Mpu Istri Wijadaksa Manik Geni dari Kerta, Gianyar, serta Ida Pandita Dukuh Celagi Dharma Kerti dari Denpasar.

Ketua Umum Karya, I Gede Darmawa, bersama Ketua Pelaksana Jro Saba menjelaskan bahwa pelaksanaan yadnya melibatkan berbagai unsur kepemimpinan adat sebagaimana tercantum dalam Simadresta Desa Adat Songan. Unsur tersebut meliputi Guru Kubayan, Jro Mangku Gede, Jro Balian, Jro Dasaran, hingga Jro Penyarikan yang memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya masing-masing dalam mendukung kelancaran prosesi.

Selain ritual keagamaan, suasana sakral juga semakin terasa melalui penampilan berbagai kesenian tradisional Bali. Kesenian tersebut dibawakan oleh seniman dari Banjar Sapat, Tegallalang, Gianyar, melalui Yayasan Nusantara. Kehadiran seni wali ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan karya besar yang tengah berlangsung.

Tabuh atau sekaa gong, Tari Rejang Dewa, Wayang Gedog, Tari Topeng Sadakarya, hingga Tari Baris Jojor, ditampilkan pada prosesi ini. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi pelengkap upacara, tetapi juga merupakan bentuk persembahan suci yang memiliki nilai spiritual dalam tradisi Hindu Bali.

Sementara itu, di kawasan penataran Pura Hulundanu Batur, krama juga melaksanakan prosesi Ngaturang Subhakti Watos Malik Sumpah Agung dan Mapapada Upakara Malik Sumpah Agung. “Upacara dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Daksa Nila Kusuma bersama Ida Pandita Mpu Istri Nila Wureksa makalihan yang berasal dari Songan,” ucapnya.

Dalam pelaksanaannya, prosesi ini kembali melibatkan unsur-unsur Simadresta Desa Adat Songan sebagai bagian dari tata pelaksanaan yadnya yang telah ditentukan. Seluruh tahapan dilaksanakan secara berurutan dan penuh kekhusyukan sebagai bentuk bakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setelah rangkaian persembahyangan serta prosesi utama selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan Ngrempah Walungan yang dijalankan oleh Sekaa Ebat atau Baga Olahan. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam keseluruhan rangkaian karya yang masih terus berlangsung hingga waktu yang telah ditentukan. (MBP)

redaksi

Related post