Sekjen Kementerian Kebudayaan Hadiri Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur
Sekjen Kementerian Kebudayaan, Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A., (paling Tengah) didampingi Ketua Harian Karya Tawur Agung, Jro Saba dan para panglingsir. (ist)
BANGLI – baliprawara.com
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A., secara khusus hadir langsung di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Jumat 25 September 2026. Kehadiran di Pura Tri Kahyangan Jagat ini, untuk menyaksikan secara langsung pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama, yang berlangsung sakral dan penuh makna bagi krama Desa Adat Songan.
Pelaksanaan karya yang digelar dengan penuh khidmat tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena mencerminkan kuatnya tradisi keagamaan dan budaya yang masih terjaga di Bali. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Desa Adat Songan tetap menjalankan warisan leluhur dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.
Sejak pagi hari, kawasan Pura Hulundanu Batur dipadati umat yang datang untuk mengikuti rangkaian upacara. Para pemangku, krama yang ngayah, hingga masyarakat yang tangkil terlihat menjalankan tugas masing-masing dalam setiap tahapan prosesi. Suasana religius terasa begitu kental di setiap sudut pura.
Karya Tawur Agung Manca Wali Krama merupakan upacara besar yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Berbagai unsur budaya hidup dalam pelaksanaan karya tersebut. Mulai dari tata cara upacara, seni tradisional, pembuatan sarana upakara, hingga nilai gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali. Seluruh elemen itu berpadu menjadi satu kesatuan yang memperlihatkan kekuatan tradisi yang masih terjaga hingga kini.
Bagi masyarakat Desa Adat Songan, pelaksanaan karya ini memiliki makna yang mendalam. Selain sebagai bentuk bakti spiritual, karya tersebut juga menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam serta lingkungan sekitar. Keberadaan Pura Hulundanu Batur yang berada di kawasan Danau Batur semakin mempertegas keterkaitan antara kehidupan masyarakat dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Dalam kesempatan itu, Sekjen Kementerian Kebudayaan RI, Bambang Wibawarta, menyampaikan apresiasinya terhadap pelestarian tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Bali. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui dokumentasi atau pencatatan sejarah, tetapi juga lewat praktik nyata yang dijalankan secara bersama-sama oleh masyarakat.
“Saya merasa terhormat dapat hadir bersama para sesepuh dan tetua adat. Tradisi ini sangat penting untuk terus dilestarikan. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan tentu mendukung kegiatan seperti ini karena memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, bukan hanya di Desa Songan tetapi juga bagi Bali secara umum. Mari bersama-sama menjaga keseimbangan alam sesuai nilai Tri Hita Karana dan berharap seluruh harapan baik dapat tercapai,” ujarnya.
Di tepian Danau Batur, Karya Agung Manca Wali Krama menjadi gambaran nyata harmonisasi antara spiritualitas, adat, seni, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam. Bagi Desa Adat Songan, karya ini bukan sekadar rangkaian ritual keagamaan, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi generasi masa kini maupun generasi mendatang. (MBP)
