Tawur Agung di Pura Hulundanu Batur Dipuput 13 sulinggih
Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama di kawasan tepi Segara Danau Batur, Desa Adat Songan, Bangli, Senin 21 September 2026. (ist)
BANGLI – baliprawara.com
Ribuan umat Hindu menghadiri pelaksanaan Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama yang digelar di kawasan tepi Segara Danau Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Senin 21 September 2026. Prosesi tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian karya di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur.
Upacara berlangsung khidmat dengan dipuput oleh 13 sulinggih. Sejak pagi, kawasan pelaksanaan upacara telah dipadati krama dan pamedek yang datang untuk mengikuti rangkaian yadnya sekaligus menghaturkan sembah bhakti. Pelaksanaan Tawur Agung Manca Wali Krama memiliki tujuan utama sebagai upaya penyucian alam semesta atau bhuwana agung. Selain itu, ritual ini juga menjadi wujud rasa syukur umat Hindu kepada alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Yajamana Karya Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun yang didampingi Pangrajeg Karya Anak Agung Gede Putra Wiraguna menjelaskan bahwa upacara tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban keagamaan semata. Menurutnya, ritual ini juga menjadi sarana memperkuat kesadaran umat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan.
Keseimbangan yang dimaksud mencakup hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Melalui pelaksanaan karya tersebut, umat diharapkan semakin mantap dalam menjalankan sembah bhakti sekaligus menjaga keharmonisan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Karya I Gede Darmawa mengatakan Tawur Agung Manca Wali Krama merupakan bagian dari rangkaian upacara yang telah berlangsung secara bertahap. Sebelumnya, sejumlah ritual penting seperti Danu Kertih dan Wana Kertih juga telah dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menjaga kesucian unsur alam.
Menurutnya, seluruh rangkaian tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keseimbangan dan kesucian alam semesta. “Karena itu, setiap tahapan upacara saling berkaitan dan menjadi bagian dari filosofi kehidupan masyarakat Bali yang menghormati alam sebagai sumber kehidupan,” terangnya.
Rangkaian karya di Pura Hulundanu Batur masih akan berlanjut hingga mencapai puncak karya pada 26 September 2026. Setelah seluruh tahapan utama selesai, kegiatan akan ditutup melalui upacara penyineban yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Oktober 2026.
Selain dihadiri ribuan umat, prosesi Tawur Agung juga diikuti sejumlah pejabat, tokoh puri, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Bali. Pelaksanaan yadnya di kawasan Danau Batur sekaligus menegaskan kuatnya keterkaitan antara kehidupan spiritual masyarakat Bali dengan alam. Melalui karya ini, umat berharap keharmonisan antara bhuwana agung dan bhuwana alit tetap terjaga demi keberlangsungan kehidupan yang seimbang dan damai. (MBP)
