Puncak Karya Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur Dipadati Ribuan Umat

 Puncak Karya Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur Dipadati Ribuan Umat

Ribuan umat Hindu mengikuti pelaksanaan puncak Karya Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Sabtu (26/9). (ist)

BANGLI – baliprawara.com

Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Bali memadati kawasan Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur yang berada di wilayah Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Sabtu 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Kapat. Kehadiran umat sejak pagi hari menandai berlangsungnya puncak Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang menjadi salah satu rangkaian upacara besar di kawasan suci tersebut.

Puncak karya ini menjadi tahapan utama dalam rangkaian Karya Agung Manca Wali Krama yang telah dipersiapkan dalam waktu panjang. Pelaksanaannya melibatkan krama Desa Adat Songan bersama berbagai elemen masyarakat yang bergotong royong menjalankan setiap tahapan yadnya.

Pengrajeg Karya DR. Dr. A.A. Gde Putra Wiraguna didampingi salah satu Penyarikan Desa Adat Songan menjelaskan bahwa puncak upacara dipuput oleh 14 sulinggih. Para sulinggih tersebut memegang peran penting dalam memimpin seluruh rangkaian ritual sesuai dengan tata cara dan ketentuan upacara yang telah ditetapkan.

Selain dihadiri umat, pelaksanaan karya juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan pemerintah. Sejumlah pejabat daerah maupun pusat turut hadir mengikuti prosesi persembahyangan. Di antaranya Gubernur Bali, Bupati Bangli, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, anggota DPR RI, anggota DPD RI, Pangdam IX/Udayana, hingga sejumlah pimpinan kepolisian di Bali.

Rangkaian upacara dimulai dengan pelaksanaan persembahyangan di Pura Jero Kemulan, Pengangket, Ibu, dan Pura Segara. Tahapan tersebut menjadi bagian awal sebelum memasuki prosesi inti di Pura Hulundanu Batur.

Selanjutnya dilaksanakan prosesi Ida Bhatara Sakti Hulundanu tedun ring Peselang yang berlangsung dalam suasana sakral. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan Ida Bhatara Sami tedun ring Perayungan dan diteruskan menuju Pedanaan. Seluruh tahapan dijalankan secara berurutan sesuai dengan tatanan upacara yang telah ditetapkan oleh panitia dan prajuru Desa Adat Songan.

Memasuki tahapan utama, prosesi Ngaturing Ageng digelar di Pura Hulundanu Batur. Pada momen tersebut, umat bersama-sama memanjatkan doa dan persembahan sebagai ungkapan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Doa dipanjatkan agar seluruh rangkaian karya berjalan lancar serta memberikan kerahayuan bagi umat dan alam semesta.

Keberadaan Pura Hulundanu Batur di kawasan Danau Batur memberikan nuansa tersendiri dalam pelaksanaan upacara. Latar panorama danau dan perbukitan yang mengelilinginya semakin menambah kekhidmatan suasana saat ribuan umat mengikuti persembahyangan.

Karya Agung Manca Wali Krama juga menjadi simbol kuatnya semangat kebersamaan masyarakat adat. Persiapan hingga pelaksanaan dilakukan secara gotong royong, mulai dari penyediaan sarana upacara, penataan area persembahyangan, hingga pengaturan arus umat yang hadir.

Bagi umat Hindu, puncak karya ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sradha dan bhakti, sekaligus memohon keseimbangan hidup. Melalui persembahyangan bersama, nilai keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan alam kembali diteguhkan dalam suasana yang penuh kesucian dan religiusitas. (MBP)

 

redaksi

Related post