Menelusuri Jejak Estetik Karya Ketut Muka pada Pameran Kriya Internasional “Prakriti- Pustaka-Padma” di ARMA

 Menelusuri Jejak Estetik Karya Ketut Muka pada Pameran Kriya Internasional “Prakriti- Pustaka-Padma” di ARMA

Pameran Kriya internasional berlangsung di ARMA Ubud, diikuti 50 seniman dari berbagai negara, salah satunya Prof. I Ketut Muka (paling kanan), seniman yang akademisi ISI Bali.

UBUD – baliprawara.com
‎‎Di mata awam penikmat, produk keramik cenderung dipandang sebagai karya fungsional. Tetapi cara pandang keramik sesungguhnya sudah bergeser sebagai karya seni murni yang penciptaannya melalui proses perenungan ide kreatif, eksplorasi bentuk, pemanfaatan media dan sentuhan estetika. Melalui proses itu maka lahirlah karya kreatif estetik bertematik.
‎
‎Mengamati karya-karya kriya perupa Prof. Dr. Drs. I Ketut Muka Pendet, M.Si. dalam gelar pameran kriya internasional bertajuk “Prakriti-Pustaka-Padma” di ARMA Ubud, 5-18 Juli 2026, penikmat seni diajak berselancar menemukan makna karya di balik keindahan bentuk. Di balik unsur estetik, ada tema dan pesan mendalam yang ingin disampaikan.
‎
‎Dalam pameran yang diikuti 50 seniman dari delapan negara itu, I Ketut Muka yang Guru Besar ISI Bali pada kepakaran seni kriya ini menampilkan lima karya kriya trimatra, masing-masing diberi judul “Expresi Topeng” Seri 1,2,3.,  “Broken Giometris” dan “Kumba Carat”.
‎

Karya Ketut Muka

‎Dalam karya “Expresi Topeng” Seri  1,2,3, unsur topeng-topeng dengan tegas ditorehkan pada bagian permukaan kendi terkombinasi susunan daun gugur. Di balik goresan irama garis, tersirat bumi kepanasan, batang pohon rapuh, daun  berguguran, makhluk terkapar, dan manusia menjerit.
‎
‎Karya ini bertematik kuat dan mengandung  pesan mendalam. Melalui karya ini Ketut Pendet memberi gambaran bahwa manusia menjerit, makhluk-makhluk terkapar, dan daun-daun berguguran, karena hubungan manusia dengan alam (palemahan) tak harmonis lagi. Alam dirusak, bencana pun terjadi.
‎
‎Dalam konteks itu Ketut Muka mengingatkan kita jangan merusak alam — ibu pertiwi, tempat kita hidup dan bernafas. Kelestarian alam mesti dijaga dan dirawat dengan baik. Pepohonan dijaga agar tetap maksimal menghasilkan oksigen dan menyerap karbon.
‎Jangan sampai berkedok (bertopeng) menawarkan kesejahteraan, kekayaan alam dieksploitasi membabi buta, dan hutan dibabat dialihfungsikan untuk kepentingan komersial.
‎
‎Dalam karya berjudul “Broken Giometris”, Ketut Muka menampilkan bidang-bidang karya berbentuk triangle dan segi empat bermedia tanah lihat. Bidang-bidang karya itu disusun asimetris membentuk struktur komposisi instalasi.
‎Bidang-bidang karya itu bergambar torehan-torehan figur manusia, makhluk imajiner, dedaunan, simbol-simbol  dan lain-lain.
Broken Giometris”, karya I Ketut Muka

Sedangkan “Kumba Carat”, karya berbahan tanah lihat Bali, dengan tinggi 120 cm dan berdiameter 40 cm, lahir dari gagasan ide turunan dari peralatan upacara keagamaan di Bali. Kumba Carat secara etimologi berarti tempat air atau tempat tetabuhan (caratan/penastan arak berem).
‎
‎Konsep karya ini mengangkat Kumba Carat sebagai metafora tubuh seniman dan proses penciptaan taksu. Kumba Carat dalam tradisi Bali adalah kendi yang dipakai untuk ngangken tirta. Bentuk dasar gerabah berupa kendi berkaki. Leher panjang dan proporsi ramping dengan hiasan beberapa sumbu pada bagian badan. Permukaan sengaja tidak dibuat mulus, ada garis retak alami hasil teknik fit firing dan goresan garis bertekstur anyaman bambu. Warna dominan coklat tanah dan hitam arang dengan aksen merah bata di bagian bibir kendi, merupakan simbol darah dan semangat.
Kumba Carat karya Ketut Muka

‎Pendekatan Kontemporer
‎‎Pameran  Prakriti-Pustaka-Padma ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Museum ARMA pada 9 Juni 2026. Pameran ini diresmikan oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn.
‎
‎Menghadirkan 50 seniman dari delapan negara, pameran ini menampilkan 79 karya seni kriya dwimatra dan trimatra yang merepresentasikan beragam pendekatan kontemporer terhadap tradisi kekriyaan. Melalui tema “Prakriti- Pustaka – Padma”, para seniman diajak mengeksplorasi hubungan antara alam, pengetahuan, spiritualitas, dan praktik artistik. (MBP2)

Redaksi

Related post