Menghidupkan Wacana Seni Publik

 Menghidupkan Wacana Seni Publik

Salah penampilan peserta Peed aya PKB 2026.

Oleh Dr. Kadek Suartaya, SS.Kar.,M.Si.

Pesta Kesenian Bali (PKB) telah membuktikan dirinya sebagai salah satu festival seni terpanjang dan paling konsisten di Indonesia. Kehadirannya tidak hanya menjadi ruang pergelaran seni, melainkan juga wahana pelestarian, pengembangan, dan pemaknaan ulang kebudayaan Bali di tengah perubahan zaman. Namun, di balik kemegahan panggung, parade, dan beragam pertunjukan yang tersaji setiap tahun, terdapat satu aspek penting yang masih memerlukan perhatian lebih serius, yakni dokumentasi intelektual dan penguatan literasi seni melalui program penulisan yang terstruktur di media digital daring.

I Kadek Suartaya

Festival seni pada hakikatnya bukan sekadar peristiwa tontonan. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang mengandung gagasan, nilai, simbol, dan proses kreatif yang layak dibaca, ditafsirkan, serta didiskusikan secara luas. Karena itu, keberadaan program penulisan yang mendampingi festival menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Dalam konteks ini, setidaknya diperlukan dua model penulisan utama, yaitu preview dan review.
Tulisan preview merupakan sajian informatif yang dipublikasikan sebelum pertunjukan berlangsung. Fungsinya tidak sekadar mengumumkan jadwal acara, melainkan memberikan pemahaman awal kepada masyarakat mengenai latar belakang karya, konsep artistik, proses penciptaan, profil seniman, hingga relevansi sosial dan budaya yang melandasinya. Melalui tulisan semacam ini, penonton tidak datang ke arena pertunjukan sebagai pengunjung yang pasif, tetapi sebagai audiens yang memiliki bekal pengetahuan untuk memahami apa yang mereka saksikan.

Dalam berbagai festival seni dunia, praktik preview telah menjadi bagian penting dari strategi edukasi publik. Penonton diajak memasuki ruang makna sebelum memasuki ruang pertunjukan. Akibatnya, apresiasi yang muncul tidak berhenti pada kesan visual atau hiburan semata, melainkan berkembang menjadi pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai artistik sebuah karya.
Namun, tugas literasi seni tidak berhenti pada tahap preview. Setelah pertunjukan berakhir, diperlukan kehadiran tulisan review yang berfungsi sebagai refleksi dan evaluasi. Di sinilah sesungguhnya ruang kritik seni menemukan relevansinya. Review bukan laporan kegiatan, bukan pula pujian tanpa ukuran. Review merupakan upaya membaca, mengurai, menafsirkan, sekaligus menilai karya berdasarkan pertimbangan estetika, teknis, konseptual, dan kontekstual.

Selama ini, salah satu kelemahan yang sering muncul dalam festival seni adalah minimnya ruang kritik yang berkelanjutan. Banyak karya dipentaskan dengan kualitas yang luar biasa, namun setelah lampu panggung padam, diskusi tentang karya tersebut ikut menghilang. Akibatnya, karya seni hanya hidup sesaat dalam ingatan penonton tanpa meninggalkan jejak pemikiran yang dapat dipelajari generasi berikutnya. PKB kita, hingga jelang usia setengah abad, belum memiliki tradisi kritik.
Kehadiran review yang ditulis secara serius akan menciptakan ekosistem dialog yang sehat. Seniman memperoleh umpan balik yang objektif atas karyanya. Penonton mendapatkan perspektif baru untuk memahami apa yang telah mereka saksikan. Sementara itu, penyelenggara memperoleh bahan evaluasi yang berharga untuk meningkatkan kualitas festival pada masa mendatang.
Lebih jauh lagi, kritik seni sesungguhnya berperan sebagai jembatan yang menghubungkan tiga unsur utama dunia seni, yaitu karya, seniman, dan publik. Tanpa kritik, karya sering kali berbicara sendiri tanpa penerjemah. Sebaliknya, kritik yang baik mampu menjelaskan lapisan-lapisan makna yang mungkin luput dari perhatian penonton. Kritik juga membantu seniman memahami bagaimana karyanya diterima dan dimaknai oleh masyarakat.

Era digital saat ini memberikan peluang yang jauh lebih besar dibandingkan masa-masa awal PKB. Media daring memungkinkan artikel preview dan review dipublikasikan secara cepat, luas, dan terdokumentasi dengan baik. Tulisan-tulisan tersebut dapat diakses kapan saja, menjadi arsip pengetahuan, serta menjadi sumber rujukan bagi peneliti, mahasiswa, seniman, dan masyarakat umum. Dalam jangka panjang, kumpulan tulisan itu akan membentuk historiografi kebudayaan yang merekam perjalanan kreativitas Bali dari tahun ke tahun.
Karena itu, sudah saatnya festival akbar seperti PKB tidak hanya menghadirkan panggung pertunjukan, tetapi juga membangun panggung pemikiran. Setiap karya yang dipentaskan idealnya didampingi oleh narasi yang menjelaskan kelahirannya dan refleksi yang mengulas pencapaiannya. Dengan demikian, festival tidak hanya menghasilkan keramaian penonton, melainkan juga melahirkan tradisi intelektual yang memperkaya kehidupan seni.

Pada usia ke-48 tahun ini, PKB memiliki kesempatan besar untuk memperkuat posisinya sebagai laboratorium kebudayaan yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga memproduksi pengetahuan. Sebab, seni yang besar bukan hanya seni yang dipentaskan, melainkan seni yang dibicarakan, diperdebatkan, ditafsirkan, dan dituliskan secara berkelanjutan. Dari sanalah sebuah festival akan menemukan daya hidupnya yang paling panjang: bukan sekadar dalam panggung yang sesaat, melainkan dalam ingatan dan pemikiran publik yang terus bertumbuh.(*)

Penulis adalah budayawan, penulis seni, maestro seni pertunjukan.

Redaksi

Related post