Strategi Desa Darmasaba Atasi Sampah, Pemuda Diberi Ruang Berinovasi
Perbekel Desa Darmasaba, Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba, S.H., M.H., NL.P., CPM., mengawasi kondisi lingkungan melalui rekaman CCTV.
MANGUPURA – baliprawara.com
Upaya penanganan sampah di Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tidak hanya bertumpu pada pemerintah desa. Keterlibatan generasi muda bersama seluruh elemen masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertata.
Pemerintah Desa Darmasaba selama beberapa tahun terakhir membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu-ibu di tingkat banjar, kelompok pemuda, hingga para pelaku usaha di lingkungan desa.
Perbekel Desa Darmasaba, Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba, S.H., M.H., NL.P., CPM., menjelaskan bahwa desa memiliki relawan bernama Pemuda Peduli Lingkungan. Menariknya, kelompok tersebut tidak hanya diisi oleh kalangan muda, melainkan juga melibatkan warga yang lebih senior dan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan.
Kelompok Pemuda Peduli Lingkungan tersebut menurutnya bahkan telah ditetapkan sebagai Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) yang memiliki kedudukan hampir seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Melalui lembaga ini, berbagai program lingkungan terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Salah satu program yang disiapkan adalah pemasangan sekat-sekat sampah di sejumlah aliran sungai. Selain itu, para relawan juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah kepada para pelajar di sekolah-sekolah.
“Di Karang Taruna juga dengan jegeg bagus membentuk inovasinya Pandawa (Pandu Anak Darmasaba Wicaksana Atasi Sampah),” kata Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba, saat ditemui, Jumat 12 Juni 2026.
Program Pandawa kata dia, menjadi sarana bagi generasi muda Desa Darmasaba untuk terlibat langsung dalam edukasi lingkungan kepada siswa. Sementara di tingkat banjar, tugas sosialisasi dan pendampingan pemilahan sampah dilakukan oleh kelompok ibu-ibu.
“Para penyuluh tersebut membantu masyarakat memahami pola pemilahan sampah yang benar sesuai karakteristik masing-masing wilayah. Sistem ini telah berjalan secara berkelanjutan sejak tahun 2021,” ucapnya.
Selain edukasi, budaya gotong royong juga terus dipertahankan. Setiap banjar di Desa Darmasaba melaksanakan kegiatan kerja bakti minimal satu kali dalam sebulan. Dengan jumlah 12 banjar yang memiliki kondisi berbeda-beda, pola pengelolaan sampah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Pengawasan terhadap kebersihan lingkungan terus dilakukan bersama kepala lingkungan. Pemerintah desa juga memanfaatkan teknologi berupa kamera pengawas atau CCTV yang ditempatkan di sejumlah titik rawan pembuangan sampah liar.
Langkah tersebut dilakukan karena sebelumnya beberapa lokasi, khususnya di sekitar sungai dan jalan umum, sering menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan. Berbagai jenis limbah, termasuk sampah rumah tangga hingga pampers bekas, pernah ditemukan di kawasan tersebut.
Pemasangan CCTV menjadi salah satu upaya untuk mengidentifikasi pelaku pembuangan sampah liar sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Bahkan menurut Perbekel Darmasaba, di sejumlah titik, sebelumnya sering dikeluhkan warga karena dipenuhi limbah sisa pemotongan daging, dan kini telah berubah menjadi lebih bersih. Pengawasan yang dilakukan bersama masyarakat berhasil mengurangi praktik pembuangan limbah secara sembarangan.
Untuk mengatasi persoalan limbah organik, pemerintah desa juga mendorong hadirnya inovasi bernama Berlian. Program tersebut merupakan singkatan dari beternak lele untuk kemandirian dan nutrisi anak.
“Melalui program ini, para pelaku usaha pemotongan hewan diarahkan untuk memanfaatkan sisa limbah daging sebagai pakan ikan lele. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dibuang kini memiliki nilai manfaat,” bebernya.
Program tersebut turut mendorong berkembangnya budidaya lele di Desa Darmasaba. Saat ini, wilayah tersebut bahkan berkembang menjadi salah satu sentra peternakan lele karena semakin banyak kelompok masyarakat yang terlibat.
Keterlibatan pemuda dalam penanganan sampah juga diperkuat melalui kompetisi antar banjar. Dalam lomba tersebut terdapat tiga kategori penilaian, yakni inovasi penanganan sampah, tata kelola pengelolaan sampah berbasis sumber, serta penataan lingkungan dan penghijauan banjar.
Kompetisi tersebut secara otomatis melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari kelompok ibu-ibu, perangkat banjar, hingga generasi muda. Semangat kolaborasi tersebut kemudian tumbuh menjadi budaya bersama di tingkat desa.
Dalam hal ini, Pemerintah Desa Darmasaba tidak memberikan penghargaan dalam bentuk ekonomi kepada para pemuda yang terlibat. Sebaliknya, mereka diberikan ruang untuk belajar, berkreasi, dan mengelola berbagai kegiatan desa.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Darmasaba Village Festival (DAFES) yang sudah berjalan sejak tahun 2022. Yang mana, para pemuda diberi kesempatan untuk menyusun konsep kegiatan, termasuk merancang sistem pengelolaan sampah selama festival berlangsung.
Menurutnya. manfaat utama yang diberikan kepada generasi muda adalah wadah untuk berkarya dan berinovasi. Pemerintah desa berupaya menyediakan ruang agar anak-anak muda yang memiliki minat dalam kegiatan sosial dan lingkungan dapat menunjukkan kemampuannya.
Dengan memberikan kesempatan tersebut, generasi muda diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih bernilai melalui keterlibatan langsung dalam berbagai program desa. “Makanya saya selalu memberikan yang perlu kita berikan anak-anak ini panggungnya. Bukan hanya secara money-only saja, tapi kita berikan panggungnya. Karena apa yang mereka pelajari di sana akan lebih berharga daripada uang,” tegasnya. (MBP)
