Desa Darmasaba Perkuat Peran Masyarakat dalam Menata Kawasan Ramah Pariwisata

 Desa Darmasaba Perkuat Peran Masyarakat dalam Menata Kawasan Ramah Pariwisata

Workshop Penguatan Kapasitas Prajuru Desa Adat dalam Tata Kelola Pariwisata Berbasis Nilai Lokal, di Kantor Desa Darmasaba, Sabtu 13 Juni 2026. (ist)

MANGUPURA – baliprawara.com

Workshop Penguatan Kapasitas Prajuru Desa Adat dalam Tata Kelola Pariwisata Berbasis Nilai Lokal digelar di Kantor Desa Darmasaba, Kabupaten Badung, Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dan perangkat desa dalam mengembangkan wilayah yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Selain membahas pengembangan sektor pariwisata, kegiatan tersebut juga mengangkat isu pengelolaan sampah berbasis komunitas yang selama ini dijalankan melalui TPS 3R Pudak Mesari Desa Darmasaba. Workshop diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat desa, prajuru desa adat, pemuda peduli lingkungan, pengelola TPS 3R, kelompok perempuan, hingga para pemangku kepentingan lainnya yang selama ini terlibat dalam pembangunan desa.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang menghadirkan akademisi dengan kompetensi di bidang pariwisata dan pengelolaan persampahan untuk memberikan penguatan kepada masyarakat.

Perbekel Desa Darmasaba,  I. B. Surya Prabhawa Manuaba, S.H., M.H., NL.P., CPM., menjelaskan bahwa kehadiran tim PKM dari Universitas Warmadewa memberikan perspektif baru terkait pengelolaan pariwisata yang berbasis potensi lokal sekaligus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, materi yang diberikan tidak hanya menyasar perangkat desa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat agar memiliki pemahaman yang sama mengenai potensi yang dimiliki Desa Darmasaba.

“Hari ini kita menerima PKM dari Warmadewa yang mana ada pemateri dari doktor yang membidangi pariwisata terkait juga dengan persampahan. Kegiatan hari ini memberikan materi kepada perangkat desa, stakeholder lainnya, pemuda peduli lingkungan, TPS3R, serta ibu-ibu supaya mereka mendapatkan informasi terkait tata kelola pariwisata berbasis kekayaan lokal dan perspektif baru tentang pariwisata,” katanya saat ditemui usai wosrkshop.

Perbekel Darmasaba menegaskan sejak awal pemerintah desa tidak memiliki keinginan untuk mendeklarasikan wilayahnya sebagai desa wisata.

Menurutnya, fokus utama yang dilakukan adalah menata kawasan agar nyaman, asri, dan ramah bagi aktivitas pariwisata.

“Kami tidak mau mendefinisikan diri sebagai desa wisata, karena yang kami ingin lakukan itu adalah kami menata kawasan yang ramah pariwisata. Jadi tidak perlu kita mengidentifikasi diri, kami harapkan pariwisata itu datang sesuai dengan apa yang ada di desa,” ucapnya.

Ia menjelaskan sejumlah kawasan di Darmasaba telah mulai ditata, termasuk kawasan kuliner dan sektor pertanian yang kini semakin lestari. Bahkan, hasil penataan tersebut menarik perhatian pihak luar. Pada 22 hingga 25 Juni 2026, Desa Darmasaba dijadwalkan menerima kunjungan dari Jepang untuk melihat langsung pengembangan kawasan yang telah dilakukan.

Selain itu, sejumlah area juga ditata agar nyaman dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas olahraga seperti jogging track. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar wisatawan yang datang ke Bali memiliki lebih banyak alternatif destinasi, sementara Darmasaba tetap menjalankan fungsinya sebagai desa penunjang pariwisata.

Lebih lanjut kata dia, pemerintah Desa Darmasaba juga telah menyusun master plan pembangunan desa untuk jangka waktu 30 tahun ke depan. Salah satu program yang saat ini sedang diperjuangkan adalah pengadaan lahan seluas 2,5 hektare yang akan dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan sekaligus taman kreatif desa.

Keberadaan kawasan tersebut diharapkan dapat mengatasi keterbatasan fasilitas publik yang selama ini menjadi kendala ketika desa menerima kunjungan dalam jumlah besar. Pasalnya, pelama ini, Desa Darmasaba belum memiliki ruang yang memadai untuk menggelar pertunjukan, tempat pertemuan, maupun berbagai aktivitas pariwisata secara rutin.

“Meski demikian, pemerintah desa tetap melanjutkan penataan berbagai kawasan lainnya agar lingkungan tetap terlihat hijau dan nyaman,” bebernya.

Terkait kebersihan lingkungan, Ia mengakui bahwa membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Karena itu, pemerintah desa menerapkan tiga pendekatan utama dalam menjalankan program lingkungan.

Pertama, memperkuat substansi dan regulasi yang berlaku mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten hingga desa.

Kedua, meningkatkan sarana dan prasarana pendukung agar sistem pengelolaan lingkungan dapat berjalan optimal. Ketiga, membuka peluang ekonomi baru dari hasil pengelolaan lingkungan yang dilakukan masyarakat.

Salah satu inovasi yang saat ini dikembangkan adalah program BERLIAN atau Beternak Lele untuk Kemandirian dan Nutrisi Anak. Program tersebut kata dia, menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi desa sekaligus menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih efektif.

Dalam hal ini, Pemerintah desa mengarahkan para pelaku usaha pemotongan daging untuk membangun kolam lele. Sehingga sisa-sisa potongan daging yang tidak dimanfaatkan kemudian digunakan sebagai pakan ikan lele, untuk mengurangi potensi limbah yang terbuang.

“Saat ini para pengelola daging atau tukang potong kami arahkan membuat kolam lele sehingga limbah sisa daging yang tidak terpakai menjadi pakan lele,” jelasnya.

Atas program yang sudah dijalankan ini, pada tahun 2026, Kabupaten Badung berencana menjadikan Desa Darmasaba sebagai sentra budidaya lele. Saat ini telah terbentuk lebih dari lima kelompok peternak dengan jumlah anggota sekitar lima hingga sepuluh orang pada setiap kelompok. (MBP)

 

redaksi

Related post