UNESCO Latih Puluhan Fasilitator di Bali, Perkuat Kesiapsiagaan Tsunami Negara-negara Samudra Hindia Barat Laut
Pelatihan bertajuk Training of Facilitators (ToF) UNESCO-IOC.
MANGUPURA – baliprawara.com
Upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami terus dilakukan UNESCO melalui pelatihan yang melibatkan berbagai negara di kawasan Samudra Hindia Barat Laut. Kegiatan tersebut digelar di Bali pada 12–18 Juli 2026 dengan menghadirkan lebih dari 40 peserta yang terdiri dari praktisi pengurangan risiko bencana, pakar tsunami, pejabat pemerintah, hingga fasilitator masyarakat.
Pelatihan bertajuk Training of Facilitators (ToF) UNESCO-IOC ini menjadi wadah untuk meningkatkan kemampuan para peserta dalam mendampingi masyarakat pesisir agar lebih siap menghadapi potensi bencana tsunami. Para peserta berasal dari India, Iran, Maladewa, Pakistan, Oman, Seychelles, Sri Lanka, serta Uni Emirat Arab.
Negara-negara tersebut diketahui masih memiliki wilayah pesisir dengan tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap ancaman tsunami.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi teknis, tetapi juga menekankan pentingnya membangun kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal. Para fasilitator diharapkan mampu menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat sehingga kesiapsiagaan terhadap bencana dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Kepala Ilmu Pengetahuan Alam Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Engin Koncagul, menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap tsunami harus dibangun jauh sebelum bencana benar-benar terjadi.
“Kesiapsiagaan harus dimulai jauh sebelum tsunami terjadi. Dengan membekali fasilitator dengan pengetahuan dan keterampilan untuk bekerja langsung dengan masyarakat pesisir, kami mendukung negara-negara di Samudra Hindia Barat Laut untuk mengubah kesiapsiagaan menjadi tindakan praktis yang pada akhirnya dapat menyelamatkan nyawa,” ujar Engin Koncagul.
Selama pelatihan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi teknis yang dikombinasikan dengan latihan praktik. Salah satu fokus utama adalah mempelajari penerapan 12 Indikator Kesiapsiagaan Tsunami UNESCO-IOC, sebuah kerangka kerja yang telah diakui secara internasional dalam mendukung peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami.
Indikator tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat, penyusunan sistem kesiapsiagaan, mekanisme respons darurat, hingga penguatan tata kelola di tingkat lokal. Melalui pendekatan tersebut, komunitas pesisir diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi situasi darurat akibat tsunami.
Selain menerima materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti berbagai kegiatan lapangan untuk memperdalam pemahaman mereka. Mereka mempelajari peta bahaya tsunami beserta area genangan yang telah dikembangkan melalui berbagai kajian sebelumnya.
Tidak hanya itu, peserta juga mempraktikkan teknik fasilitasi yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses kesiapsiagaan bencana. Pendekatan yang digunakan mengedepankan keterlibatan seluruh unsur masyarakat secara inklusif sehingga setiap kelompok dapat berperan aktif dalam upaya mitigasi risiko.
Rangkaian pelatihan turut dilengkapi dengan simulasi tsunami yang memberikan gambaran nyata mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Simulasi tersebut menjadi bagian penting untuk menguji kesiapan peserta sekaligus memperkenalkan metode pendampingan kepada masyarakat.
Sebagai bagian dari pembelajaran lapangan, peserta mengunjungi Tanjung Benoa, Bali, yang telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu Komunitas Siap Tsunami di Indonesia. Di lokasi tersebut mereka melakukan verifikasi terhadap indikator kesiapsiagaan tsunami sekaligus melihat langsung bagaimana sistem mitigasi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Para peserta juga berkesempatan mempelajari berbagai inisiatif pengurangan risiko bencana yang telah berjalan di wilayah tersebut. Pengalaman lapangan ini memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat, serta warga dalam membangun budaya kesiapsiagaan.
Dalam pelatihan tersebut, Ni Wayan Werti dan Luh Sri Sudarmini selaku kepala sekolah dasar di Tanjung Benoa menjelaskan bahwa latihan evakuasi yang dilakukan secara berkala telah memberikan dampak positif bagi para siswa.
Menurut mereka, latihan yang rutin dilaksanakan membuat anak-anak lebih memahami langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi maupun tsunami. Selain itu, siswa juga menjadi lebih percaya diri sehingga rasa takut terhadap bencana dapat berkurang.
Mereka menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari sinergi yang terjalin antara pemerintah daerah, Forum Pengurangan Risiko Bencana di tingkat lokal, institusi pendidikan, serta masyarakat sekitar. Kerja sama tersebut dinilai berhasil meningkatkan kesadaran sekaligus kesiapan warga dalam menghadapi potensi tsunami.
Pengalaman Tanjung Benoa menjadi salah satu contoh bagaimana kesiapsiagaan bencana dapat diterapkan secara berkelanjutan melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pesan utama dalam pelatihan bahwa ketangguhan komunitas pesisir dibangun melalui kolaborasi yang konsisten di berbagai tingkatan.
Menjelang berakhirnya pelatihan, seluruh peserta diminta menyusun rencana fasilitasi yang nantinya akan diterapkan di negara masing-masing. Rencana tersebut akan menjadi panduan dalam mendampingi komunitas percontohan agar mampu mengimplementasikan Program Kesiapsiagaan Tsunami UNESCO-IOC secara lebih efektif.
Artikel ini dikutip dari : https://www.unesco.org/en/articles/unesco-ioc-strengthens-tsunami-preparedness-north-west-indian-ocean-through-regional-training?hub=66941
